• Startup Coop Camp, Perlunya Kolaborasi Kreativitas dan Manajemen

    Startup Coop Camp Batch 1 yang diorganisir oleh InnoCircle Initiative memasuki hari kedua bertempat di Hotel Meotel, Purwokerto. Kegiatan itu dinisiasi oleh Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI) bekerjasama dengan Kementerian Koperasi dan UKM RI Bidang SDM. Kegiatan berlangsung dari tanggal 7-10 Februari 2019 di Purwokerto.

    Berbeda dengan hari pertama di mana acara yang dimulai dengan talkshow, para peserta langsung diarahkan ke kelas yang telah ditentukan untuk mendapatkan materi mulai dari jam 08.30 sampai 22.00. Materi dan kegiatan praktik pada hari kedua difokuskan dalam tema kreatifitas dan pengelolaan atau management yang penting kaitannya dalam dunia startup coop. 

    SCC hari kedua kembali menghadirkan pembicara untuk dua kelas berbeda yaitu Complex Problem Solving oleh Dr. Hizkia Yossie, Ideation oleh Fajar Nusantara, HC, Design Thinking oleh Aef Nandi, dan Business Model Canvas oleh Pujianto (NPA) untuk kelas pemuda koperasi. Kemudian pada kelas startup founder sendiri para peserta diajak untuk berdiskusi bersama dengan materi Marketing Product Digital oleh C. Emerson, Project Managemet oleh Pri Anton, Keuangan dan Valuasi StartUp oleh Herliana, HC, Creative Thinking oleh Arnold Ong, dan ditutup dengan materi dan praktik Design Sprint oleh Nur Ikhwanudin.

    Kegiatan materi yang berlangsung 1.5-2 jam persesinya diikuti secara antusias oleh peserta dibuktikan dengan selain adanya sesi diskusi berupa sesi tanya jawab, para peserta juga menanyakan secara langsung pada pembicara setelah sesi selesai untuk berdiskusi ringan. Arnold Ong, pemateri Creative Thinking memberikan perhatian khusus tentang kreativitas bagi peserta. Menurut beliau, sebagai manusia yang bergerak dalam dunia startup untuk kreatif saja tidak cukup namun perlu sikap kedisiplinan dalam berpikir dan bertindak kreatif. Hal tersebut dapat dilakukan dengan rajin meriset diri sendiri, mengenali benar apa saja yang menjadi kelemahan dan kekuatan dalam diri, dan selalu untuk berpikir anti mainstream.

    Kemudian kreatifitas juga memerlukan peran manajemen yang penting. Dalam dunia startup misalnya ketika akan mengajukan pendanaan atau pitching, hal yang lebih penting terkait dengan ide dan teknis adalah manajemen story telling. Para pelaku startup perlu memerhatian lagi kemampuan negosiasi maupun penawaran dengan metode storytelling yang bukan hanya menarik namun juga meyakinkan. Hal yang kemudian juga menjadi penting ketika terjun ke pasar dengan membangun komunikasi dan menjadi kepercayaan. Caranya? Pahamilah pasar dengan identifikasi dan riset yang detail, seperti materi yang dibawakan oleh Pri Anton, CEO Nemolab.

    Masih dengan bahasan yang sama tentang membangun komunikasi, pembicara C. Emerson juga memberikan bahasan betapa pentingnya social medias tools dalam peranan startup. Media sosial harusnya bukan hanya tempat untuk memasarkan atau sekadar mengenalkan namun ada interaksi di dalamnya, bagaimana konsumen atau pengguna nantinya akan melihat bentuk dari sebuah startup. Emerson juga menambahkan penting dan kuatnya pengaruh sebuah konten yang berisi kolaborasi misalnya seperti video dan desain grafis, seperti yang dikatakan Bill Gates “content is king.”

    Mengenai manajemen lainnya dibawakan oleh Herliana mengenai keuangan dan valuasi startup dalam 7 bahasan yaitu laporan keuangan, valuasi startup, valuasi premoney, valuasi post money, dilusi saham, tahapan valuasi, dan valuasi startup coop. Materi ideation juga disampaikan dengan tujuan mengenalkan proses penalaran untuk menemukan nilai lebih, model bisnis, dan analisis pasar dari pasar yang berawal dari proses sederhana menemukan ide. Keberlanjutan dari ideation dilajutkan dengan complex problem solving untuk memisahkan problem yang simple dan complex dengan soft skill yang dibutuhkan Kemudian tak hanya belajar dan berdiskusi mengenai materi saja, pada hari kedua para peserta belajar praktik langsung secara berkelompok mengenai business model canvas oleh Pujianto dan Aef Nandi sebagai fasilitator, juga design sprint oleh Nur Ikhwanudin dan Fajar Nusantara untuk simulasi merancang solusi dan produk dalam 4 hari secara maksimal.

    Sumber: https://blog.innocircle.id/2019/02/09/startup-coop-camp-perlunya-kolaborasi-kreatifitas-dan-manajemen/

  • MoU Tripartit dengan PT. SKK Kembangkan Startup Coop

    Indonesian Consortium for Cooperative Innovation (ICCI), InnoCircle Initiative dan PT. Sakti Kinerja Kolaborasindo teken MoU Tripartit pengembangan startup coop di Indonesia pada 10 Februari 2019 di Hotel Meotel Purwokerto. Penandatanganan MoU itu dilaksanakan pada seremoni penutupan Startup Coop Camp yang disaksikan oleh Talkah Badrus, Sesdep Bidang SDM Kementerian Koperasi dan UKM RI, Dinas Koperasi dan Dekopinda Banyumas.

    Melalui MoU tripartit tersebut, para pihak sepakat untuk melakukan pengembangan model startup coop atau startup berbasis koperasi di Indonesia. Para pihak dengan modalitasnya masing-masing akan mendukung upaya itu. ICCI berkomitmen untuk mendorong ekosistem sehingga ramah terhadap generasi milenial dan agenda inovasi. InnoCircle Initiative sebagai lembaga inkubator startup coop di Indonesia. Kemudian PT. SKK yang bergerak di teknologi digital siap untuk support menjadi angel investor dan dukungan teknologi.

    “Kami sangat antusiasi dengan agenda ini. Anak-anak muda yang sudah merintis startup bisa berada di gerakan koperasi. Itu sulit terjadi karena koperasi acap kali diasosiasikan kumpulan orang tua. Namun hari ini saya justru melihat masa depan koperasi tanah air di tangan mereka”, seru Endy Chandra, Direktur Utama PT. SKK dalam sambutannya.

    Dalam MoU tersebut PT. SKK berkomitmen untuk memberikan dukungan teknologi kepada tenan/ startup yang terpilih yang sudah diinkubasi oleh InnoCircle. Dukungan itu berupa cloud server yang cukup bagi operasional sebuah aplikasi/ platform yang dibangunnya.

    Dari Kiri: Firdaus Putra, HC. (ICCI), Endy Chandra (PT. SKK), Anis Saadah, HC. (InnoCircle)

    Anis Saadah, HC., CEO InnoCircle Initiative, menyampaikan banyak terimakasih atas dukungan berbagai pihak. “Anak-anak muda bisa mengenal model lain koperasi, yaitu startup coop. Ini adalah wajah koperasi yang kekinian. Dan dengan dukungan para pihak, ICCI serta PT. SKK, kami yakin ini akan menjadi gelombang besar di Indonesia”, ujarnya.

    Startup Coop merupakan model baru di Indonesia yang saat ini sedang diujicobakan di beberapa kota/ wilayah. Tujuannya menjadi alternatif bagi model startup konvensional yang berbasis perseoran. Dengan berbasis koperasi, startup dapat dikelola secara demokratis bagi para founder. Di sisi yang lain ketika ada investasi yang masuk, tidak akan mempengaruhi kepemilikan para founder. “Model ini adalah salah satu upaya untuk merespon perkembangan ekonomi digital di Indonesia. Tantangan masa depan dengan tumbuhnya sharing economy dan gig economy harus bisa direspon baik oleh koperasi. Dan model inilah jawabannya”, ujar Firdaus Putra, HC., Komite Eksekutif ICCI. []