• Prioritas Inovasi Koperasi Indonesia Mendatang

    Oleh: Firdaus Putra, HC.

    Prioritas inovasi koperasi yang pertama tak beda jauh dengan visi pemerintah sekarang, yakni membangun SDM Unggul. Riset yang dilakukan oleh Cooperative Innovation Hub (CIH) Lab. Koperasi dan UKM FEB UNSOED, bekerjasama dengan Kopkun Institute dan LPDB-KUKM menemukan 90,19% responden menjawab penting dan sangat penting soal inovasi pengembangan SDM. Riset itu telah dilaksanakan pada Oktober – November 2019.

    Riset awal ini bertujuan untuk memetakan status dan prioritas inovasi koperasi di Indonesia. Riset dilakukan dengan dua metode: survai online secara nasional dan wawancara mendalam di lima provinsi (Jakarta, Jawa Tengah, Bali, Kalimantan Barat dan Bangka Belitong). Ada 1050 responden yang berpartisipasi pada survai online yang tersebar di seluruh provinsi kecuali Papua. Kemudian 113 informan pada wawancara mendalam yang tersebar di lima provinsi dan 10 kabupaten.

    Continue Reading
  • Saatnya Inovator Koperasi Berperan

    Selain para aktivis, pengurus dan manajer, kita butuh banyak inovator di gerakan koperasi.  Sebabnya tantangan zaman ini berbeda dengan beberapa dekade lalu. Modus dan model sharing economy atau collaborative economy yang tumbuh selaras dengan ekonomi digital membuat bisnis-ekonomi berubah. Para pakar bilang, disrupsi. Perkembangannya tak lagi bisa dikalkulasi atau diproyeksi secara linier. Banyak perayaan kesuksesan di puncak gunung, namun juga banyak ratapan kegagalan di lembahnya.

    Salah satu tandanya beberapa startup ternyata melahirkan dampak sosial yang besar. Dampak ini bukan sekedar making profit bagi si startup atau deliver benefit bagi user, tapi efek domino dari berbagai value baru yang tercipta. Sebutlah lapangan kerja, peningkatan pendapatan, optimalisasi aset-aset menganggur, efisiensi rantai pasok, peningkatan standar layanan, penciptaan pasar baru dan lain sebagainya.

    Continue Reading
  • Menyegarkan Kembali Koperasi dengan Inovasi

    Oleh: Firdaus Putra, HC.

    Spektrum isu dan diskursus koperasi satu dekade terakhir lebih banyak bicara soal aspek kelembagaan, legal, permodalan, organisasi gerakan serta kebijakan perkoperasian. Seolah tidak ada perspektif baru melihat aktivitas perkoperasian. Banyak diskusi dan seminar biasanya berujung pada kesimpulan klise, “peran pemerintah perlu ditingkatkan”, “kemandirian koperasi harus dibangun”, “koperasi butuh modal”, “gerakan koperasi lemah” dan seterusnya.

    Barulah dua-tiga tahun terakhir mulai muncul spektrum warna lain seperti adopsi teknologi digital oleh koperasi. Itupun dengan tingkat resonansi terbatas. Kita perlu mencari perspektif baru untuk melihat geliat perkoperasian di Indonesia dewasa ini. Tentu saja tujuannya agar praktik berkoperasi di tanah air lebih segar dan menyegarkan.  

    Continue Reading
  • Membangun Ekosistem Inovasi pada Koperasi

    Oleh: Firdaus Putra, HC.

    Meski belum ada data yang cukup, secara kasat mata kita bisa lihat inovasi di koperasi itu rendah. Sebutlah beberapa hal mulai dari pola pelayanan, teknologi yang digunakan, jenis layanan atau produk, branding dan berbagai detail lainnya. Sayangnya, hal itu sudah berjalan menahun, bahkan puluhan tahun lalu. Hasilnya, jumlah koperasi berikut anggotanya banyak, mencapai 26 juta orang, namun kontribusinya rendah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), yakni di angka 4,48% (Kementerian Koperasi, 2018).

    Di sisi lain secara kualitatif bisa kita lihat model lembaga dan bisnis koperasi yang melulu itu-itu saja. Sampai-sampai seolah tak ada imajinasi lain, ketika komunitas ingin bikin koperasi, itu sama dengan membuat koperasi simpan pinjam. Nyatanya model itulah yang massif di tengah masyarakat. Ironisnya, kejumudan inovasi itu tak hanya terjadi di koperasi masyarakat, namun juga di kalangan koperasi pemuda atau mahasiswa. Seolah tak ada model bisnis lain kecuali membuka toko, jasa foto kopi dan kantin di kampusnya. Dan itu juga sudah terjadi puluhan tahun yang lalu.

    Continue Reading
  • Startup Coop, Koperasi Generasi Milenial

    Oleh: Firdaus Putra, HC.

    Tak seperti kekhawatiran sebelumnya di mana koperasi ditinggal anak muda, Revolusi Industri 4.0 bisa menjadi berkah bagi gerakan koperasi tanah air. Saya proyeksikan tiga sampai lima tahun mendatang adalah masa semai di mana generasi milenial berkoperasi dengan asik. Lewat start up co-op atawa koperasi start up, para milenial itu akan hidup dan menghidupi habitatnya. Sinyal itu mulai terlihat di berbagai kota: Purwokerto, Jakarta, Lampung, Yogyakarta, Bandung, Tuban, Malang dan lainnya.

    Continue Reading
  • Melindungi Kepemilikan Pendiri Startup Supaya Tidak Terdepak

    Oleh: Firdaus Putra, HC.

    Tak sedikit para pelaku start up terjebak dalam dilema. Satu sisi membutuhkan suntikan modal dari investor untuk kembangkan bisnisnya. Sisi yang lain khawatir keberadaannya tergeser dan bahkan terdepak dari perusahaan yang dirintisnya. Bagi beberapa orang, merintis start up bukan sekedar “bikin dan jual”. Sebaliknya sebuah proses panjang berdarah-darah dengan berbagai pertaruhan dan mimpi.

    Bayangkan saja, para pelaku start up bekerja dengan cara sprint yang tak kenal waktu. Siang-malam mereka bangun dan kembangkan bisnisnya. Tak jarang sebagian besar yang berangkat dari tahap bootstrap atau modal pribadi, pertaruhkan kekayaannya. Sampai titik di mana butuh lakukan scaling up, mereka datangi para investor atau venture capital. Di situlah dilemanya, tetap kecil tapi milik sendiri atau besar namun dimiliki orang lain.

    Continue Reading
  • Surat Terbuka untuk Menteri Koperasi

    Oleh: Firdaus Putra, HC.

    Pak Menteri,

    Kondisi koperasi tanah air ini mirip organisasi massa (ormas). Lihat saja, syarat minimal untuk mendirikannya harus 20 orang kata UU No. 25 Tahun 1992. Hasilnya, lebih dari 80 persen koperasi di negeri ini bentuknya simpan pinjam. Apakah salah? Tidak. Apakah tepat? Juga tidak.

    Bagi anak muda seperti saya dan kawan-kawan saya, koperasi simpan pinjam tak lagi menarik, Pak. Paling tidak citranya sudah kadung menua yang berisi orang-orang tua. Layanannya itu-itu saja yang kalah dengan kemahahebatan teknologi finansial besutan perbankan.

    Continue Reading
  • Dari Sharing Economy ke Cooperative Economy

    Oleh: Firdaus Putra, HC.

    Bila kita pinjam istilah Prof. Rhenald Kasali, hari ini kita bergerak dari model owning economy ke arah sharing economy. Model pertama mengisyaratkan pemilikan usaha secara perorangan, karenanya semua hal harus diselenggarakan secara mandiri. Berbagai investasi ditanggung sendiri dan bila untung juga dinikmati sendiri.

    Model kedua, sharing economy, bekerja dengan kolaborasikan aset-aset yang menganggur (idle asset) dari banyak orang. Dengan pola dasar seperti itu model kedua juga sering disebut collaborative economy. Hari ini model kedua berkembang di banyak sektor, mulai dari ritel, transportasi, jasa rental dan lainnya. 

    Continue Reading
  • Kotak Pandora Sharing Economy

    Oleh: Firdaus Putra, HC.

    Saat ini aplikasi Uber di London, Inggris, sedang berjuang untuk peroleh lisensinya kembali. Pemerintah lakukan banned pada perusahaan platform itu. Sebabnya karena Uber dinilai tak fit and proper pada aturan transportasi yang ada. Misalnya, beberapa kali terjadi kekerasan seksual kepada konsumen yang dilakukan pengemudi. Lisensi profesional para pengemudi juga dipertanyakan.

    The Guardian (23/ 9/ 2017), melaporkan petisi dukungan kepada Uber telah mencapai lebih dari 500 ribu tanda tangan. Alasannya, masyarakat membutuhkan layanan murah itu dibanding black cab atawa taksi konvensional yang lebih mahal. Selain akan ada 40 ribu pengemudi Uber hilang kerjaan. Sebagian publik juga marah pada Sadiq Khan, Wali Kota London. Apakah itu akhir cerita dari sharing economy yang dikembangkan Uber?

    Continue Reading