• Ini Dia Framework Inovasi Koperasi Indonesia

    Menandai satu tahun Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI) berkiprah, 6 Agustus lalu digelar focus group discussion di Purwokerto. Pada kegiatan itu, disampaikan apa yang  sudah dan sedang dikerjakan oleh ICCI selama setahun ini.

    Pada kesempatan itu, Komite Eksekutif ICCI merilis Framework Inovasi Berkelanjutan Koperasi Indonesia. Bertujuan untuk mengembangkan kerja-kerja inovasi perkoperasian di Indonesia berbasis ekosistem lokal.

    “Agar berkelanjutan kita harus menjangkarkannya pada ekosistem di regional atau wilayah masing-masing. Ekosistem ini tersusun atas Academia, Business, Community, Government dan Media,” terang Novita Puspasati, HC.,  dalam sambutan pembuka.

    ICCI menitikberatkan perlunya mencetak para inovator koperasi sebagai motor penggerak. Tanpa inovator, inovasi-inovasi yang berkelanjutan sulit dikerjakan. Lewat penyelenggaraan Akademi Inovator Koperasi, para inovator bisa ditemukan dan dikembangkan di berbagai wilayah.

    Selain pentingnya inovator, ICCI juga menganggap penting keberadaan Cooperative Innovation Hub (CIH), yang  berperan sebagai simpul tempat para pihak beraktivitas di dalamnya. ICCI menjangkarkan pembentukan CIH di kampus-kampus. Ini relevan sebab inovasi membutuhkan basis riset dan pengembangan tingkat lanjut.

    ICCI juga menyoroti perlunya pendirian lembaga inkubator koperasi model baru. Inkubator dibutuhkan agar berbagai model bisa diinisiasi dan dikembangkan mulai dari nol sampai ke tahap lanjut. Model-model baru yang dimaksud seperti worker coop, startup coop, platform coop, community coop, convert to coop, social coop dan lain sebagainya.

    Selain model baru, koperasi eksisting juga harus berinovasi berbasis Piramida Inovasi. Di dalam piramida itu tertera level/ dimensi inovasi yang bisa dikerjakan, mulai dari yang termudah sampai yang tersulit dengan dampak yang massif.

    “Kerja nyatanya bisa dilakukan lewat CIH. Di CIH itu ada juga koperasi-koperasi bagus yang menjadi lembaga jangkar. Sehingga lewat koperasi bagus itu, agenda inovasi bisa dikerjakan pertama kali”, terang Firdaus Putra, HC., Komite.

    Kerangka kerja yang dirilis oleh ICCI ini membutuhkan kolaborasi multi pihak pada domainnya masing-masing. Sedikitnya ada delapan agenda yang bisa dikerjakan bersama. Diantaranya Akademi Inovator Koperasi, Startup Coop Camp, Cooperative Innovation Hub, Inkubator Koperasi Model Baru, Portal Informasi Inovasi Koperasi, Indeks Inovasi Koperasi, Direktori Inovasi Koperasi dan berujung pada Festival Inovasi Koperasi. []

    Anda dapat mengunduh framework tersebut: klik di sini

    Telah dimuat di: https://milesia.id/2019/08/13/ini-dia-framework-inovasi-berkelanjutan-koperasi-indonesia/

  • ICA Asia Pasifik Hadiri FGD ICCI di Purwokerto

    Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI)  menghelat  Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Kerangka Kerja Inovasi Koperasi di Indonesia secara  Berkelanjutan”, Selasa (6/8) lalu.  Bertempat di Restoran Table 9, Purwokerto, dihadiri 45 peserta dari mitra dan stakeholder.

    Sejumlah lembaga pemerintah dan bisnis yang hadir diantaranya Bidang Kelembagaan dan SDM Kementerian Koperasi dan UKM, Bappenas, LPDB, Dinas Koperasi Provinsi  Jawa Tengah, sejumlah universitas,  para pelaku koperasi model baru, PT. Sakti Kinerja Kolaborasindo (Angel Investor), serta  sejumlah tamu undangan.

    Dalam lawatannya ke Indonesia, mereka bertemu dan berdiskusi langsung dengan sejumlah pihak. Di Jakarta, mereka menemui Koperasi Pemuda Indonesia. Di Purwokerto menjumpai InnoCircle Initiative, lembaga inkubator startup coop,  bersama para tenantstartup. Dilanjutkan mengikuti rangkaian FGD ICCI di Purwokerto. Di Yogyakarta, visitingdan sharing dengan Koperasi Edukarya Negeri Lestari atau lebih dikenal dengan Koperasi Wikikopi/Wikiti. Mereka sangat terinspirasi dengan model Wikiti yang tak terbayangkan sebelumnya.

    Dalam lawatannya ke Indonesia, mereka bertemu dan berdiskusi langsung dengan sejumlah pihak. Di Jakarta, mereka menemui Koperasi Pemuda Indonesia. Di Purwokerto menjumpai InnoCircle Initiative, lembaga inkubator startup coop,  bersama para tenantstartup. Dilanjutkan mengikuti rangkaian FGD ICCI di Purwokerto. Di Yogyakarta, visitingdan sharing dengan Koperasi Edukarya Negeri Lestari atau lebih dikenal dengan Koperasi Wikikopi/Wikiti. Mereka sangat terinspirasi dengan model Wikiti yang tak terbayangkan sebelumnya.

    Dalam kesempatan itu, Ivjyot dan Simren memaparkan program kerja ICA-AP, isu strategis mendatang dan peran anak muda dalam gerakan koperasi.  Mereka mengapresiasi FGD dan menemukan aneka model baru dan berbagai showcase praktika lapangan.

    Koperasi KINARYA, misalnya, dikenal sebagai koperasi sektor kreatif  yang concern dengan film sebagai lokomotifnya.  Lainnya adalah  PlayMe Platform Coop, Senandung Sejuk, Beceer.com, PediHelp.id, BookCircle.id, Sewaa.in, Pesanan Kilat, DNA Creative Kudus, dan lainnya.

    “Saya melihat dari pesan dan bahasa tubuhnya, mereka sangat passionate untuk mengerjakan bisnis berbasis koperasi itu. Ini yang tidak saya temui di ruang lain. Ada semacam api yang menyala-nyala dan terus memompa semangat, ” terang Ivjyot Singh tak bisa menyembunyikan kekagumannya.

    Dalam kunjungan terakhir ke salah satu Kopma di Yogyakarta, Ivjyot dan Simren dibuat terkejut ketika berdialog dengan Pengurus dan Ketua Kopma, yang mengatakan koperasi tidak prestisius bagi anak muda dan kemungkinan selepas lulus mereka tak akan berkarir di koperasi. “Saya rasa perlu dicari formula yang tepat untuk membangun alur dari Kopma dan lalu masuk ke koperasi. Yang dilakukan ICCI dan InnoCircle mungkin bisa diterapkan di Kopma,” terang Ivjyot.

    Komitmen Kolaborasi Multi Pihak

    Kegiatan FGD Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI), di Purwokerto diakhiri dengan komitmen kolaborasi multi pihak dalam membangun inovasi perkoperasian di Indonesia secara berkelanjutan. Berbagai lembaga menyampaikan apa-apa yang bisa dikerjakan sesuai dengan framework yang disampaikan ICCI di awal kegiatan.

    Dari dunia pendidikan, Laboratorium Koperasi FEB Unsoed-Purwokerto dan LPPM Universitas Mercubuana-Yogyakarta, menyatakan siap membangun Cooperatives Innovation Hub (CIH) di kampusnya masing-masing. Juga menyanggupi untuk melakukan kerjasama penelitian lintas lembaga. Malah ada sembilan poin kolaborasi yang ditawarkan Universitas Mercubuana kepada ICCI dan para peserta lainnya.

    Kementerian Koperasi dan UKM RI juga menyatakan siap mendukung agenda besar inovasi koperasi. Menyebut highlight Presiden Jokowi dalam Pidato Politiknya pada 14 Agustus 2019, yang juga menyoroti perlunya mencari model-model baru, cara-cara baru dan nilai-nilai baru dalam mencari solusi, yakni melalui inovasi.

    Pada kesempatan itu ICCI mendorong agar Kementerian Koperasi secepatnya bisa menyelenggarakan serial Akademi Inovator Koperasi di berbagai regional di Indonesia sebagai starting point untuk mencetak para Inovator Koperasi.

    Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) siap mendukung khususnya pada model baru seperti startup coop. Adapun Koperasi Pekerja Senandung Sejuk, DNA Creative Kudus, InnoCircle Initiative, ITT Purwokerto, Koperasi Kinarya, PT. Sakti Kinerja Kolaborasindo dan tak ketinggalan Dinas Koperasi Prov. Jawa Tengah, juga siap berkomitmen untuk berkolaborasi.

    Khusus di Jawa Tengah, tercatat dua kegiatan utama akan dihelat. Pertama, produksi film tentang blockchaindan IT oleh Koperasi Kinarya. Kedua, akan dibuat Festival Inovasi Koperasi pada Juli 2020 mendatang sebagai konten kegiatan Hari Koperasi.

    “Ini akan menjadi pilot project awal agenda inovasi perkoperasian. Festival Inovasi Koperasi itu hanya kegiatan hilir, hulunya yakni koperasi di Jawa Tengah, mengembangkan praktik inovatif. Barulah tahun mendatang aneka praktik itu dipamerkan dalam festival tersebut,” terang Firdaus Putra, HC.

    Pada kesempatan yang sama Bima Kartika, Kabid. Kelembagaan Dinas Koperasi Prov. Jawa Tengah, menyambut baik rencana produksi film tentang blockchain dan IT di Jawa Tengah. “Ini akan menjadi contoh baik bagaimana koperasi bisa mengerjakan bisnis yang lain, tidak tanggung-tanggung, film. Di mana para penonton akan menjadi membernya dengan cara membeli tiket,”papar Bima.

    Berbagai rangkaian kolaborasi itu akan dikerjakan ICCI secara organis. Targetnya, pada 2020 mendatang berbagai inisiasi serta inovasi baru itu bisa dipamerkan di Festival Inovasi Koperasi. “Tentu saja itu adalah pekerjaan yang menantang, bagaimana menyemai virus inovasi ke koperasi-koperasi eksisting yang mungkin telah terbiasa dengan as usually business,” pungkas Novita Puspasari, HC., Komite. Eksekutif ICCI. []

    Telah dimuat di: https://milesia.id/2019/08/13/ica-asia-pasifik-hadiri-fgd-icci-di-purwokerto/

  • Kolaborasi dengan ICCI, CU Mandiri Gelar Creative Youth Camp

    Credit Union (CU) Mandiri berkolaborasi dengan Indonesian Consortium for Cooperative Innovation (ICCI)selenggarakan Creative Youth Camp. Kegiatan itu diadakan pada 30 April 2019 dengan sasaran kalangan pelajar SMA/ SMK di Probolinggo.

    Kegiatan ini bertujuan untuk menjaring para creative youth leader dari kalangan pelajar. Dengan kurikulum tertentu para peserta dipandu oleh Narasumber dan Fasilitator mencapai pemahaman baru tentang bagaimana membuat perubahan di skala lokal.

    Firdaus Putra, HC., Komite Eksekutif ICCI, menyampaikan tentang potret anak-anak muda di kota lain dan juga luar negeri yang membuat perubahan (changmaker). “Mereka usianya relatif muda semua, bahkan lebih muda daripada Anda semua. Ada yang baru 11 tahun, 14 tahun juga yang 16 tahun. Namun mereka telah membuat perubahan di areanya masing-masing”, tegasnya.

    Dengan metode empat lingkaran warna: Biru (Rasa), Kuning (Cipta), Merah (Karsa) dan Hijau (Karya), peserta diajak mengenali berbagai isu di lingkungannya. Lebih dari itu, mereka juga diajak untuk mengeksplorasi solusi bagi masalah itu. “Sekarang tulis di stick it note lima ide bagi lingkungan sekitar kalian”, seru Fasilitator.

    Gagasan kreatif-solutif diberikan studi kasus nyata oleh Kemal Khairurrahman, HC., Founder Tuban Creative Hub dan Regional Hub ICCI. Dengan video-video pendek, ia kisahkan bagaimana Tuban Creative Hub memberi dampak ke masyarakat. “Kami buat Tuban Hujan Bimtek. Bimtek ini isinya pelatihan life skill. Kami buat 20 kali dalam satu bulan dan itu cuma-cuma”, terangnya. Berbagai Bimtek itu ditujukan bagi komunitas anak muda dan masyarakat umum.

    Dalam kesempatan itu Kemal jelaskan bagaimana sebuah creative hub bekerja. “Teman-teman akan menjadi engine atau motor penggeraknya. Yang perlu pertama dilakukan adalah melakukan pemetaan talenta. Lalu kemudian mengolaborasikan satu dengan yang lain”, sambungnya.

    Pada sesi berikutnya peserta diminta memilih dari lima ide yang ditulis menjadi tiga ide saja. Setelah mereka melihat studi kasus tentang apa-apa yang bisa dikerjakan creative hub, mereka memperoleh insight baru untuk menyeleksi dari lima menjadi tiga ide perubahan.

    Kegiatan itu diikuti oleh 70 pelajar SMA/ SMK dengan berbagai latar  belakang. Kegiatan dimulai pada pukul tiga sore. Namun antusiasme dan materi yang menantang, membuat mereka tak merasa lelah meski sampai larut malam.

    Pada sesi akhir, peserta diminta memilih dari tiga ide menjadi satu ide. Mereka harus memilih dengan menimbang beberapa hal: Ide mana yang paling disukai; ide mana yang paling memberi dampak; Ide mana yang paling mungkin dikerjakan dengan pertimbangan aktivitas masing-masing; Dan ide mana yang paling mungkin didukung berbagai pihak. “Sekarang pilih satu saja, beri nama proyek sosial itu yang kreatif dan jangan lupa tentukan targetnya, munculkan angkanya”, pandu Fasilitator.

    Proses selama lima jam itu terbilang sukses. Pada penutup, 10 peserta dipersilahkan untuk mengisahkan proyek sosialnya. Ada yang melontarkan ide tentang memberdayakan petani jagung di desanya, ada juga ide tentang bersih sungai, membuat kerajinan dari sampah dan lain sebagainya. “Melihat latar belakang mereka masih SMA, ide-ide mereka keren sekali”, terang Pengurus CU. Kegiatan dimeriahkan dengan berbagai dorprize. Tak ketinggalan bagi 10 peserta yang berani presentasikan proyek sosialnya. Lalu Panitia mengumumkan nama-nama peserta yang terpilih menjadi engine/ motor penggerak bagi Sakti Creative Hub Probolinggo. Merekalah yang akan mengaktivasi creative hub di sana. []

  • Start Up Coop Camp II Digelar di Jogja

    Setelah sukses dengan Start up Coop Camp (SCC) Batch I di Purwokerto 8-10 Februari lalu, Startup Coop Camp Batch II  bakal dihelat di Yogyakarta,  28-31 Maret 2019. Menjaring 60 peserta dari kalangan Founder Startupdan Pemuda Koperasi, diisi dengan serial workshop, talkshow dan seminar berbobot. SCC Batch II diselenggarakan oleh Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI) bekerjasama dengan Kementerian Koperasi dan UKM Deputi Bidang SDM.

    Ekonomi berbasis digital yang terus tumbuh perlu diadaptasi jika tak ingin terdisrupsi. Belakangan, milenial pegiat koperasi di sejumlah kota mulai mencoba berjejaring membangun ekosistem baru yang lebih segar dan ramah teknologi digital. Aktivisme mereka mengerucut pada tiga kata kunci : coop platform , coop start up, dan worker coop.

    Lebih luas dari sekedar koperasi go online, coop platform ditawarkan sebagai respons tren collaborative economy  yang lebih dulu menggejala lima tahun terakhir. Bagi pengusung coop platform, praksis collaborative economy yang diterapkan Gojek, Grab, AirBnB, hingga marketplace berlevel unicorn, misalnya, dinilai belum merepresentasikan spirit koperasi.

    Coop platform, diandaikan laiknya Gojek atau Bukalapak dengan kepemilikan multi pihak  dalam satu platform. Tidak ada dominasi atas platform mengacu pada besaran kepemilikan modal individual atau kelompok elit, dan minus hak veto.

    Kecenderungan platform atau marketplace konvensional, adalah akumulasi profit yang njomplang  dan menguntungkan pemilik platform. Adapun provider serta user melulu sebagai komoditas. Coop Platformdiposisikan untuk meretas hal itu.

    Lalu coop start up, merupakan respon kooperatif atas gairah pendirian bisnis rintisan (start up) yang cenderung privat dan fragmentatif. Antusiasme pendiriannya memang membuncah. Bisnis start up tanah air tercatat terbesar di Asia Tenggara dengan lebih dari duaribu unit. Masuk peringkat kelima dunia setelah AS, India, Kanada, dan Inggris. Coop Start up menawarkan solusi pasar, inovasi, dan peluang scaling up dengan model bisnis kolaboratif.

    Dalam Star Up Coop Camp Batch I yang dihelat di Purwokerto, Februari lalu, diulas model-model worker coop, coop platform, dan coop start up yang masih relatif baru di kalangan pegiat koperasi dan publik umum. Saat itu,  hadir 45 peserta dengan beragam latar belakang dari Jakarta,  Bekasi, Lampung, Tasikmalaya, Tuban, Kudus, Yogyakarta dan Purwokerto.

    Dalam Coop Camp Batch II di Jogja kali ini, Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI) kembali berkolaborasi dengan Kementerian Koperasi dan UKM. Diorganisir oleh InnoCircle Initiative, sebuah lembaga inkubator startup coop.

    Persyaratan dan pendaftaran bisa dikulik di: http://bit.ly/startupcoopcampbatch2  (sebelum 26 Maret 2019)

    Sumber: http://milesia.id/2019/03/15/yuk-ikuti-start-up-coop-camp-ii-di-jogja/

  • MoU Tripartit dengan PT. SKK Kembangkan Startup Coop

    Indonesian Consortium for Cooperative Innovation (ICCI), InnoCircle Initiative dan PT. Sakti Kinerja Kolaborasindo teken MoU Tripartit pengembangan startup coop di Indonesia pada 10 Februari 2019 di Hotel Meotel Purwokerto. Penandatanganan MoU itu dilaksanakan pada seremoni penutupan Startup Coop Camp yang disaksikan oleh Talkah Badrus, Sesdep Bidang SDM Kementerian Koperasi dan UKM RI, Dinas Koperasi dan Dekopinda Banyumas.

    Melalui MoU tripartit tersebut, para pihak sepakat untuk melakukan pengembangan model startup coop atau startup berbasis koperasi di Indonesia. Para pihak dengan modalitasnya masing-masing akan mendukung upaya itu. ICCI berkomitmen untuk mendorong ekosistem sehingga ramah terhadap generasi milenial dan agenda inovasi. InnoCircle Initiative sebagai lembaga inkubator startup coop di Indonesia. Kemudian PT. SKK yang bergerak di teknologi digital siap untuk support menjadi angel investor dan dukungan teknologi.

    “Kami sangat antusiasi dengan agenda ini. Anak-anak muda yang sudah merintis startup bisa berada di gerakan koperasi. Itu sulit terjadi karena koperasi acap kali diasosiasikan kumpulan orang tua. Namun hari ini saya justru melihat masa depan koperasi tanah air di tangan mereka”, seru Endy Chandra, Direktur Utama PT. SKK dalam sambutannya.

    Dalam MoU tersebut PT. SKK berkomitmen untuk memberikan dukungan teknologi kepada tenan/ startup yang terpilih yang sudah diinkubasi oleh InnoCircle. Dukungan itu berupa cloud server yang cukup bagi operasional sebuah aplikasi/ platform yang dibangunnya.

    Dari Kiri: Firdaus Putra, HC. (ICCI), Endy Chandra (PT. SKK), Anis Saadah, HC. (InnoCircle)

    Anis Saadah, HC., CEO InnoCircle Initiative, menyampaikan banyak terimakasih atas dukungan berbagai pihak. “Anak-anak muda bisa mengenal model lain koperasi, yaitu startup coop. Ini adalah wajah koperasi yang kekinian. Dan dengan dukungan para pihak, ICCI serta PT. SKK, kami yakin ini akan menjadi gelombang besar di Indonesia”, ujarnya.

    Startup Coop merupakan model baru di Indonesia yang saat ini sedang diujicobakan di beberapa kota/ wilayah. Tujuannya menjadi alternatif bagi model startup konvensional yang berbasis perseoran. Dengan berbasis koperasi, startup dapat dikelola secara demokratis bagi para founder. Di sisi yang lain ketika ada investasi yang masuk, tidak akan mempengaruhi kepemilikan para founder. “Model ini adalah salah satu upaya untuk merespon perkembangan ekonomi digital di Indonesia. Tantangan masa depan dengan tumbuhnya sharing economy dan gig economy harus bisa direspon baik oleh koperasi. Dan model inilah jawabannya”, ujar Firdaus Putra, HC., Komite Eksekutif ICCI. []