• Kudus Creative DNA, Rasionalisasi Praktika Koperasi (1 dari 3 Bagian)

    Sebelumnya saya akan mengawali refleksi ini dengan sebuah pernyataan, “Idealisme yang benar-benar ideal hanya ada di atas kertas, sedang masyarakat kita belum pada tahap mau dan mampu menerima “Idealisme”. Sehingga seeksotis apapun sebuah ide jika tidak disertai dengan langkah yang mampu dinikmati dampaknya oleh masyarakat, maka akan menyia-nyiakan waktu kita untuk berhayal terwujudnya utopia”.

    Itulah salah satu benih pemikiran strategis dari lahirnya Kreatif DNA Kudus.CH (Cooperative Hub). Adalah sebuah koperasi penghubung yang belum pernah mendeklarasikan dirinya sebagai koperasi. Kami sendiri belum tahu sampai kapan nama koperasi itu akan kami sembunyikan dari pasar, akan tetapi melihat geliat yang terjadi, sepertinya itu tinggal menunggu waktu. 

    Esensi Perjuangan 

    Sejak awal berdiri pada tahun 2018, yang paling sering dikritisi oleh CDNA adalah gerakan komunitas yang berdarah-darah dalam memperjuangkan kepentingan sosial, akan tetapi hanya berdampak pada sebagian kecil masyarakat, bertahan beberapa tahun lalu komunitas itu mati atau setidaknya vakum dari peredaran alias matisuri. Ada banyak faktor penyebab kematiannya, dari ditinggal nikah penggerak sampai yang paling fatal dialami adalah tidak adanya pendanaan mandiri yang kontinyu, baik pendanaan untuk diri sendiri maupun bagi komunitas. 

    Ada juga kasus di mana komunitas berhenti beroperasi karena kehabisan stok penerus perjuangan. Kami di CDNA mengamini bahwa komunitas adalah sebuah wadah yang mampu memberi solusi detail bagi banyak permasalahan masyarakat. Sayangnya di Kudus sendiri sangat sedikit anak muda yang bergabung dan aktif di dalamnya. Bukan sepenuhnya karena masyarakat tidak paham, akan tetapi bisa jadi komunitas tidak menjalankan strategi pemasaran dalam gerakannya.

    Sebutlah bagaimana produk yang ditawarkan, berapa harga yang harus dibayar, dimana produk dipasarkan dan bagaimana proses kampanye dari produk tersebut serta teknik-teknik lain. Kami mempertebal bahwa apa yang kami sebut pasar bukanlah pasar secara harfiah, akan tetapi adalah sebuah filosofi dari sekumpulan manusia beserta seperangkat kebutuhan yang bermacam. Tugas komunitas adalah menjelma menjadi bagian dari kebutuhan itu.

    Di situlah koperasi kami pandang sebagai salah satu gerakan perjuangan paling realistis dan berdampak karena memiliki tujuan sosial sebagai visi utama serta fondasi pendanaan juga pandangan pasar. Sayangnya di Indonesia sendiri belum banyak role model yang membuktikan hal ini, sehingga CDNA kami rasa perlu dengan sepenuh hati memberikan bukti dari idealisme koperasi. 

    Pendanaan Independen

    Pendanaan adalah salah satu faktor terpenting bagi tumbuh kembang komunitas. Akan tetapi dengan idealisme yang menggebu-gebu, sering kali para pengerak mengesampingkan hal ini. Oke, kita ambil fokus pada proses “Dari mana komunitas mendapatkan dana untuk menopang mobilisasi?”. Paling populer adalah dana hibah perusahaan sedang lainya adalah iuran suka rela anggota. Akan tetapi untuk sebuah agenda besar sudah barang tentu membutuhkan kucuran dana yang sepadan dan rasionalnya “Patungan anggota tidak akan manpu menopangnya”, kecuali jumlah anggota ribuan orang atau anggota terdiri dari kalangan menengah ke atas. Dana menjadi problema klasik bagi komunitas untuk memperbesar dampak sosialnya. 

    Kami di Creative DNA tidak menyalahkan hal itu, hanya saja kami memiliki persepsi lain. Koperasi kami pandang sebagai satu dari jalan rasional dan ideal untuk mewujudkan visi Pemerataan kemajuan, kreativitas dan konektivitas yang kami usung, di mana dalam koperasi untuk mewujudkan kemajuan di aspek sosial, ekonomi serta budaya perlu adanya sebuah unsur bisnis bersama yang nantinya membiayai berbagai misi penyuksesan tujuan. Saya ingin sedikit mengutip pernyataan Suroto, HC., Ketua AKSES Indonesia, “Dari mana modal berasal, ke sanalah nilai tambah kembali”.

    Logikanya adalah jika sebuah komunitas atau organisasi apapun berdiri dari sebuah modal maka ke sumber modallah mengalir keuntungan. Sehingga ketika komunitas atau organisasi ini di modali perseorangan maka ke orang itulah untungnya mengalir dan ketika komunitas atau organisasi ini dimodali secara bersama serta mementingkan kepentingan sosial maka ke arah sosialah keuntungan akan mengalir.

    Tersebut di atas menjadi pertimbangan terbesar kami mengapa Warkoba (usaha yang diinkubasi CDNA) menolak tiga tawaran investasi personal. Selain itu kami tetap tunduk pada prinsip “Fokus pada alur cerita”. Sejak awal berdiri, apa yang diusahakan CDNA adalah sebuah komunitas, organisasi atau apapun dengan basis social capital yang mampu diduplikasi oleh lokal manapun. Maka idealnya CDNA beserta inkubasinya musti konsisten pada budaya gotong royong serta people based bukan capital based.

    Tempo lalu Warkoba kami memperoleh dukungan dari Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI) dengan skema social-crowd lending. Di mana ICCI memobilisasi sekelompok orang untuk meminjamkan dana pribadinya. Skema itu bekerja dengan jalan mengembalikan pokok pinjaman tanpa jasa dalam jangka waktu tertentu, yakni tiga bulan. Dengan dana pinjaman itu kami lakukan renovasi kecil kedai. Menurut saya ini adalah salah satu bentuk gotong royong yang nyata. Bagaimana pinjaman dilakukan dengan rasa percaya satu sama lain. []

    Dikisahkan oleh: Ali Sofyan, HC., Founder Kudus DNA Creative. CH (Cooperative Hub)

    Bersambung Bagian Kedua: Penghijauan Manusia dari Pinggiran.

  • Perlunya Menyegarkan Tampilan Buku LPJ Koperasi, Laporan Hasil Jajak Pendapat

    Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI) satu minggu yang lalu selenggarakan jajak pendapat tentang format buku Laporan Pertanggung-jawaban (LPJ) Pengurus dan Pengawas  koperasi. Jajak pendapat itu dilakukan secara online dengan Google Form di mana link disebarluaskan melalui berbagai Grup Whatsapp.

    Hasilnya, ada 97 responden yang mengikuti jajak pendapat. Mereka tersebar di beberapa kabupaten di 13 provinsi berbeda, yakni Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Sumatera Utara, Jakarta, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara, Jambi, Bangka Belitung dan Sulawesi Tengah. Di mana 63% mengatakan koperasinya telah berdiri lebih dari 10 tahun, 24% berdiri 1-5 tahun dan sisanya 6-10 tahun.

    Sebanyak 9 dari 10 orang menganggap bahwa format tampilan LPJ itu penting (23%) dan sangat penting (67%). Jawaban itu telah mengonfirmasi hipotesis jajak pendapat ini, bahwa tampilan LPJ itu, di luar isi laporannya, penting diperhatikan. Sebab, pertama-tama anggota melihat format tampilannya. Bila menarik, maka mereka akan membacanya dengan antusias, intensif dan serius. Hasilnya adalah anggota lebih tahu dan paham bagaimana kondisi koperasinya, capaian-capaiannya dan lain sebagainya.

    Sebagian besar responden setuju bahwa tampilan LPJ yang menarik bisa mendorong anggota koperasi untuk menyimak atau membacanya lebih intensif. Ada 94% mengatakan hal yang sama. Artinya 9 dari 10 orang responden setuju, tampilan LPJ yang bagus berpengaruh terhadap intensitas anggota membacanya. Hal ini terkonfirmasi pada pertanyaan yang berbeda yakni, “Menurut Anda, apakah anggota perlu menyimak LPJ?”, 94% mengatakan, iya.

    Rata-rata halaman LPJ mereka terdiri dari 10-30 halaman, sebanyak 43%. Disusul kemudian 31-50 halaman sebanyak 29%, 51-80 halaman sebanyak 16% dan sisanya yakni dengan jumlah lebih dari 80 halaman. Meski berbeda-beda tebal-tipisnya, sebagian besar responden menjawab bahwa LPJ adalah salah satu media edukasi anggota. Sebanyak 98% responden mengatakan demikian.

    ICCI menyelenggarakan jajak pendapat ini untuk merangsang koperasi-koperasi melakukan inovasi dari hal yang paling kecil. “Salah satunya dengan menyegarkan format tampilan LPJ. Sekarang zamannya infografis. Orang terbiasa melihat aneka ornamen visual daripada sekedar angka dan huruf”, kata Firdaus Putra, HC., Komite.

    Pada jajak pendapat itu ICCI memberikan contoh laporan dengan format infografis. Sebagian besar responden memandangnya secara positif. Mereka menilai format itu sangat menyenangkan dilihat, sebanyak 66%. Kemudian 17% mengatakan asik dan sisanya mengatakan: membingungkan (12%), kaku dan membosankan.

    Ketika giliran ditanya bagaimana mereka menilai buku LPJ koperasinya, 72% responden mengatakan: membosankan (28%), kaku (35%) dan membingungkan (9%). Buku LPJ mereka lebih banyak berisi tabel dan angka serta teks.

    Sisanya, yakni 28% mengatakan bahwa format buku LPJ di koperasinya asik dan menyenangkan untuk dibaca. Format yang menyenangkan ini berisi paduan teks, gambar, diagram dan tabel, atau yang secara umum disebut sebagai infografis.

    Di bagian akhir jajak pendapat, ICCI memberikan template LPJ yang menarik berbasis PowerPoint. Template itu bisa mereka sunting sesuai dengan struktur isinya. Dan juga template itu bisa dibagi dan disebarluaskan kepada koperasi lain yang membutuhkan.

    ICCI mengungkapkan bahwa menyegarkan tampilan buku LPJ ini adalah salah satu dari banyak aktivitas di koperasi  yang bisa disegarkan atau diinovasi. Artinya suatu hal memiliki 1001 peluang ditemukannya atau dikerjakan dengan cara, metode atau pendekatan baru. “Penyegaran tampilan buku LPJ ini hanya contoh atau eksemplar. Selebihnya kembali ke Pengurus dan Pengelola koperasi untuk menemukan 1001 cara baru lainnya. Tentu cara-cara yang dapat meningkatkan nilai tambah, manfaat, kinerja dan indikator lainnya”, ungkap ICCI. []

    Unduh Template LPJ Koperasi Gaya Baru:

    Pengantar      :   https://bit.ly/2P38Xru atau klik di sini

    Bagian 1         :   https://bit.ly/2Z4AiOM atau klik di sini      

    Bagian 2         :   https://bit.ly/2v0iFl6 atau klik di sini

    Font 1             :   https://bit.ly/2r8ZROu atau klik di sini

    Font 2             :   https://bit.ly/2k8RBOF atau klik di sini

    Harap diunduh semua.  Semoga bermanfaat.

    Sumber: http://inovasikoperasi.id/2019/04/11/perlunya-menyegarkan-tampilan-buku-lpj-koperasi-laporan-hasil-jajak-pendapat/

  • Startup Coop Camp Yogyakarta, Sukses!

    Startup Coop Camp Batch 2 telah diselenggarakan pada 28-31 Maret 2019 lalu di Yogyakarta. Rangkaian kegiatan dilaksanakan semalam empat hari penuh yang berisi: talkshow, pelatihan dan lokakarya. Sedikitnya 60 peserta terpilih dari 235 pendaftar mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai. Mereka berasal dari Jawa Tengah, Yogyakarya, Jawa Barat, Jakarta, Jawa Timur, Lampung dan Lombok.

    Kegiatan itu diprakarsai oleh Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI) bekerjasama dengan Kementerian Koperasi dan UKM RI Deputi Bidang SDM. Dibantu oleh organisasi lokal, Kopindo Wilayah DIY, keDATA dan Credeva, kegiatan itu berjalan dengan sukses. 

    Seperti Batch 1 Purwokerto, kelas dibagi menjadi dua: Founder Startup dan Pemuda Koperasi. “Tujuannya mengenalkan koperasi bagi para pelaku startup dan mengenalkan model startup bagi pelaku koperasi. Tentu saja harapannya agar bisa hasilkan model baru, yakni startup coop atau startup berbasis koperasi”, terang Hizkia Yosias Polimpung, Komite Eksekutif ICCI.

    Kegiatan itu juga dipantau oleh Bappenas Bidang Koperasi dan UKM yang mengirim delegasi untuk melihat bagaimana kelas berlangsung. Tujuannya untuk memperoleh gambaran lapangan bagaimana model koperasi baru ini diperkenalkan khususnya kepada generasi milenial. Sehingga di masa mendatang model bisnis koperasi bisa berkembang, tak melulu konvensional sebagaimana puluhan tahun lalu.

    Pengayaan proses dilakukan pada angkatan kedua ini yakni dengan menyilangkan peserta startup dengan koperasi pada sesi praktikum. Hal ini bertujuan agar para pemuda koperasi bisa langsung memahami cara berpikir dan merespon pelaku startup dan sebaliknya. Seluruh peserta pada rentang usia yang sama, sehingga pada sesi itu mereka dapat belajar antar teman sejawat (peer group learning). 

    Untuk mempercepat pemahaman dan membangun personal bonding, mereka juga disilang-silangkan saat pembagian kamar. Panitia berharap dengan cara itu satu sama lain bisa membangun koneksi personal dan terjadinya peluang kolaborasi yang lebih berkelanjutan. “Awal mulanya pasti hubungan personal, lama kelamaan menjadi kolaborasi”, terang panitia. 

    Kegiatan itu dibuka oleh Kementerian Koperasi dan UKM RI yang mengundang juga Dinas Koperasi Prov. DIY. Disusul kemudian adalah talkshow success story pengembangan koperasi dan startup oleh Suryo Hadiyanto, Ketua Koperasi KISEL dan Azmiansah, Pelaku Startup di Indonesia. Mereka berdua membagi kisah suksesnya mengelola bisnis masing-masing. Dari mereka peserta belajar bagaimana sukses itu tak bisa diraih dengan cara instan, meskipun itu startup. Azmi, demikian akrab disapa, menekankan bahwa startup harus siap dengan serial kegagalan dan aneka lika-likunya.

    Totalnya ada 14 pembicara, pelatih dan fasilitator yang membuat kegiatan itu menjadi kaya isi dan makna. Ditambah kegiatan dilaksanakan mulai pukul delapan sampai sepuluh malam. Meski demikian peserta tetap mengikuti dengan semangat penuh karena materi dan pemateri yang menantang. Pada sesi penutupan, peserta diberikan merchandise berupa buku serial bisnis startup dan pengembangan manajemen/ bisnis. Tujuannya sekaligus untuk meningkatkan budaya literasi di generasi milenial. “Ditambah, startup itu adalah bisnis dengan tingkat inovasi tinggi, membaca adalah keharusan untuk memperoleh insight-insight baru”, ujar Hizkia. []

  • MoU dengan Unsoed Kawal Inovasi Koperasi

    Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) resmikan gedung baru laboratorium FEB setinggi tujuh lantai. Dalam kesempatan itu dilakukan penandatanganan MoU kerjasama dengan berbagai pihak. Dalam momen itu Indonesian Consortium for Cooperative Innovation (ICCI) juga teken MoU. Kegiatan dilaksanakan di Lt. 6 Laboratorium FEB pada 20 Februari 2019.

    Agenda kerjasama yang didorong ICCI adalah inovasi koperasi dengan cara membentuk Cooperative Innovation Hub (CIH) di laboratorium tersebut. Penandatanganan dihadiri dan disaksikan oleh Bapak Untung Tri Basuki dari Bidang Kelembagaan dan Bapak Hariyanto dari Bidang SDM Kementerian Koperasi dan UKM RI.

    CIH merupakan simpul inovasi koperasi yang tujuannya untuk mengembangkan berbagai inovasi perkoperasian di tiap regional. Sebagai simpul, CIH akan diisi oleh berbagai lembaga seperti: organisasi gerakan koperasi (Dekopinda/ Wil), lembaga inkubator, institut/ peneliti koperasi, Dinas Koperasi dan pihak-pihak lainnya. Sebagai simpul, CIH dikelola secara kolaboratif yang dipimpin oleh Laboratorium Koperasi suatu kampus.

    Sedianya MoU diteken oleh Dr. Hizkia Yosias Polimpung sebagai salah satu Komite Eksekutif ICCI, yang juga adalah Akademisi Universitas Bhayangkara Jakarta. Sayangnya karena ada agenda mendesak kemudian diwakili oleh Firdaus Putra, HC, Komite lainnya. Dari Universitas Jenderal Soedirman MoU langsung diteken oleh Prof. Suwarto, Rektor Periode 2018-2022.

    Dalam kesempatan itu Rektor menyampaikan, “MoU ini harus ditindaklanjuti dengan kontrak kerjasama (PKS) yang lebih detail sehingga operasional. Harus kita kejar satu tahun ini semuanya bisa berjalan”, terangnya. Rektor menyampaikan terimakasih kepada berbagai pihak yang telah terlibat dalam pengembangan Tri Darma Perguruan Tinggi melalui laboratorium FEB ini.

    Selepas kegiatan itu, Kementerian Koperasi, ICCI dan Dekan FEB Unsoed melakukan rapat pendahuluan. Prof. Suliyanto, Dekan FEB menyampaikan, “Kami apresiasi kerjasama untuk mengembangkan dan mengoptimalkan laboratorium ini. Kami berharap nanti berbagai kegiatan kerjasama ini dapat libatkan sebanyak mungkin mahasiswa”, ujarnya.

    Sedangkan Bapak Untung Tri Basuki menyampaikan mengenai pentingnya perguruan tinggi/ kampus terlibat dalam agenda inovasi. “Inovasi ini kan pasti diawali dengan riset. Nah, itulah di situlah peran kampus yang isinya pada akademisi dan peneliti. Sehingga berbagai inovasi yang dilakukan itu sesuai dengan kebutuhan nyata koperasi”.

    Para pihak sepakat untuk mengawal pendirian CIH ini dan diupayakan agar bisa launching saat peringatan Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) 2019 yang kebetulan diselenggarakan di Purwokerto. []

  • ICCI Serukan Agenda Inovasi di Silaturahmi Koperasi Besar Indonesia

    Ada tiga puluh koperasi dan lembaga yang diundang dalam silaturahmi berkala besar pada 13 Februari 2019. Sebutlah beberapa koperasi skala besar seperti Koperasi KISEL dengan aset 6 trilyun, Koperasi Kredit Lantang Tipo, Koperasi Kredit Pancur Kasih, Induk Koperasi Wanita Pengusaha Indonesia (INKOWAPI) dan puluhan lainnya. Silaturahmi itu digagas untuk membangun kolaborasi antar koperasi besar di Indonesia.

    Firdaus Putra, HC. dan Novita Puspasari, HC., Komite Eksekutif ICCI menghadiri Silaturahmi Koperasi Besar yang digagas oleh Deputi Kelembagaan Kementerian Koperasi dan UKM RI. Silaturahmi itu diselenggarakan di Ruang Rapat Deputi Kelembagaan di bilangan Jl. Rasuna Said, Jakarta.

    Dalam kesempatan itu Prof. Dr. Rully Indrawan menyampaikan tentang capaian koperasi Indonesia saat ini. Di sisi lain juga menyampaikan beberapa tantangan strategis mendatang. Ia menggarisbawahi beberapa hal, “Koperasi saat ini berada di lingkungan strategis yang berubah cepat. Karenanya untuk berkompetisi dengan pelaku bisnis lainnya, koperasi butuh citra positif yang dikerjakan bersama. Sehingga lewat silaturahmi ini, penting dibangun kolaborasi lintas gerakan koperasi untuk meningkatkan kontribusi koperasi bagi pembangunan ekonomi nasional”, terangnya membuka kegiatan.

    Pada kegiatan itu, Firdaus Putra, HC., menyampaikan beberapa hal, “Kami bicara soal masa depan, bukan masa lalu. Bahwa tantangan di masa mendatang lebih besar. Apa yang perlu didorong adalah agenda inovasi di gerakan koperasi. Hal inilah yang kita lupakan puluhan tahun yang lalu. Riset dan Pengembangan kita miskin, termasuk pengembangan model bisnis. Hasilnya, sebagian besar model bisnisnya konvensional”, ujarnya.

    Menurut Firdaus, inovasi di koperasi itu bisa dilakukan dalam beragam dimensi. Mulai dari kelembagaan, tata kelola, pemasaran, permodalan, layanan/ produk, keanggotaan dan adopsi teknologi. Bahkan, masih menurutnya, pada hal-hal yang lebih detail lagi seperti model bisnis, proses bisnis, metode kerja dan lainnya. “Dengan cara begitu barulah kita bisa menyegarkan koperasi, sehingga otot-otot kita siap merespon era Industri 4.0 ini”, sambungnya.

    ICCI juga menyampaikan agar koperasi-koperasi besar mulai aware dengan tumbuhnya startup digital. Melalui forum itu, ICCI mendorong agar koperasi besar mau menjadi angel investor bagi mereka. “Banyak startup di luar sana. Peluang itu harusnya diambil oleh koperasi-koperasi besar sebagai angel investor. Sehingga para startup itu masuk ke dalam ekosistem gerakan kita. Bukannya ekosistem yang kapitalistik. Saya pikir semua yang ada di ruangan ini memiliki cukup sumberdaya untuk melakukan itu”, sambungnya.

    Firdaus juga melaporkan bahwa ICCI telah memulai kerja inovasi itu dengan melakukan inkubasi beberapa model baru, yakni startup coop dan worker coop. Salah satu bentuknya adalah melalui Startup Coop Camp bekerjasama dengan Kementerian Koperasi dan UKM Bidang SDM. “Alhamdulillah kemarin kami hadirkan dua investor dari gerakan koperasi: PT. SKK (Konsorsium Koperasi) dan INKOWAPI. Kemudian ada lima startup coop yang akan memperoleh investasi awal”, lanjutnya.

    Dalam kesempatan itu Koperasi KISEL hadir menyampaikan tentang program yang bica dikerjasamakan, yakni sebuah platform payment gateway yang bisa digunakan oleh berbagai koperasi. Presentasi selanjutnya dibawakan oleh Koperasi USB yang menyampaikan inovasi Rapat Anggota Online berbasis website. Pada kesempatan itu juga didemonstrasikan platform untuk melakukan Rapat Anggota Online tersebut. Harapannya inovasi itu bisa ditiru oleh koperasi lainnya. “Bila bapak-ibu menginginkan, bisa menggunakan platform RAT Online kami secara cuma-cuma”, terang Pengurusnya.

    Kegiatan itu juga dihadiri oleh Irsyad Muchtar, Sekjend Forum Koperasi Besar Indonesia dan Penulis Buku 100 Koperasi Besar Indonesia. Dalam kesempatan itu ia menyampaikan perlunya koperasi besar kolaborasi untuk membangun suatu proyek mercusuar. Ia lempar gagasan untuk membangun Cooperative Tower yang gedung dan sahamnya dimiliki oleh koperasi.

    Pada sesi terakhir, Neddy Rafinaldy, Sekjend Dekopin, menyampaikan tentang agenda perayaan Hari Koperasi Nasional (Harkopnas). Kegiatan utamanya akan dilaksanakan di beberapa kota: Makassar, Jakarta dan puncaknya di Purwokerto. “Kami berharap agar semua koperasi besar ikut menyemarakkan perayaan tahunan tersebut. Kami juga bekerja keras untuk membuat perayaan ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya”, terangnya. []

  • Startup Coop Camp, Perlunya Kolaborasi Kreativitas dan Manajemen

    Startup Coop Camp Batch 1 yang diorganisir oleh InnoCircle Initiative memasuki hari kedua bertempat di Hotel Meotel, Purwokerto. Kegiatan itu dinisiasi oleh Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI) bekerjasama dengan Kementerian Koperasi dan UKM RI Bidang SDM. Kegiatan berlangsung dari tanggal 7-10 Februari 2019 di Purwokerto.

    Berbeda dengan hari pertama di mana acara yang dimulai dengan talkshow, para peserta langsung diarahkan ke kelas yang telah ditentukan untuk mendapatkan materi mulai dari jam 08.30 sampai 22.00. Materi dan kegiatan praktik pada hari kedua difokuskan dalam tema kreatifitas dan pengelolaan atau management yang penting kaitannya dalam dunia startup coop. 

    SCC hari kedua kembali menghadirkan pembicara untuk dua kelas berbeda yaitu Complex Problem Solving oleh Dr. Hizkia Yossie, Ideation oleh Fajar Nusantara, HC, Design Thinking oleh Aef Nandi, dan Business Model Canvas oleh Pujianto (NPA) untuk kelas pemuda koperasi. Kemudian pada kelas startup founder sendiri para peserta diajak untuk berdiskusi bersama dengan materi Marketing Product Digital oleh C. Emerson, Project Managemet oleh Pri Anton, Keuangan dan Valuasi StartUp oleh Herliana, HC, Creative Thinking oleh Arnold Ong, dan ditutup dengan materi dan praktik Design Sprint oleh Nur Ikhwanudin.

    Kegiatan materi yang berlangsung 1.5-2 jam persesinya diikuti secara antusias oleh peserta dibuktikan dengan selain adanya sesi diskusi berupa sesi tanya jawab, para peserta juga menanyakan secara langsung pada pembicara setelah sesi selesai untuk berdiskusi ringan. Arnold Ong, pemateri Creative Thinking memberikan perhatian khusus tentang kreativitas bagi peserta. Menurut beliau, sebagai manusia yang bergerak dalam dunia startup untuk kreatif saja tidak cukup namun perlu sikap kedisiplinan dalam berpikir dan bertindak kreatif. Hal tersebut dapat dilakukan dengan rajin meriset diri sendiri, mengenali benar apa saja yang menjadi kelemahan dan kekuatan dalam diri, dan selalu untuk berpikir anti mainstream.

    Kemudian kreatifitas juga memerlukan peran manajemen yang penting. Dalam dunia startup misalnya ketika akan mengajukan pendanaan atau pitching, hal yang lebih penting terkait dengan ide dan teknis adalah manajemen story telling. Para pelaku startup perlu memerhatian lagi kemampuan negosiasi maupun penawaran dengan metode storytelling yang bukan hanya menarik namun juga meyakinkan. Hal yang kemudian juga menjadi penting ketika terjun ke pasar dengan membangun komunikasi dan menjadi kepercayaan. Caranya? Pahamilah pasar dengan identifikasi dan riset yang detail, seperti materi yang dibawakan oleh Pri Anton, CEO Nemolab.

    Masih dengan bahasan yang sama tentang membangun komunikasi, pembicara C. Emerson juga memberikan bahasan betapa pentingnya social medias tools dalam peranan startup. Media sosial harusnya bukan hanya tempat untuk memasarkan atau sekadar mengenalkan namun ada interaksi di dalamnya, bagaimana konsumen atau pengguna nantinya akan melihat bentuk dari sebuah startup. Emerson juga menambahkan penting dan kuatnya pengaruh sebuah konten yang berisi kolaborasi misalnya seperti video dan desain grafis, seperti yang dikatakan Bill Gates “content is king.”

    Mengenai manajemen lainnya dibawakan oleh Herliana mengenai keuangan dan valuasi startup dalam 7 bahasan yaitu laporan keuangan, valuasi startup, valuasi premoney, valuasi post money, dilusi saham, tahapan valuasi, dan valuasi startup coop. Materi ideation juga disampaikan dengan tujuan mengenalkan proses penalaran untuk menemukan nilai lebih, model bisnis, dan analisis pasar dari pasar yang berawal dari proses sederhana menemukan ide. Keberlanjutan dari ideation dilajutkan dengan complex problem solving untuk memisahkan problem yang simple dan complex dengan soft skill yang dibutuhkan Kemudian tak hanya belajar dan berdiskusi mengenai materi saja, pada hari kedua para peserta belajar praktik langsung secara berkelompok mengenai business model canvas oleh Pujianto dan Aef Nandi sebagai fasilitator, juga design sprint oleh Nur Ikhwanudin dan Fajar Nusantara untuk simulasi merancang solusi dan produk dalam 4 hari secara maksimal.

    Sumber: https://blog.innocircle.id/2019/02/09/startup-coop-camp-perlunya-kolaborasi-kreatifitas-dan-manajemen/

  • Startup Coop Camp, Warna Baru dalam Ekosistem Startup

    Startup Coop Camp Batch 1, kolaborasi antara Indonesian Consortium for Cooperatives Inovation, Kementerian Koperasi dan UKM RI Bidang SDM dan InnoCircle Initiative telah memasuki hari terakhir atau hari keempat dari serangkaian acara yang telah dimulai sejak Kamis, 7 Februari 2019 bertempat di Hotel Meotel Purwokerto. Kegiatan yang berupa full day training dan workshop, digital startup coop picthing session, investment longue, networking ini menghadirkan nama-nama expert speakers dan trainer dari berbagai bidang khususnya pelaku startup, aktivis koperasi, dan pekerja kreatif seperti Firdaus Putra, Novita Puspasari, Uung Fery, Arnold Ong, Herliana, Hizkia Yossie, Kemal Rahman, Anggoro, Arsyad Dalimunte, Pri Anton, Arif Cazh, Anis Saadah, Fajar Nusantara, Nur Ikhwanudin, Aef Nandi, Pujianto, Ali Sofyan, dan C. Emerson.

    Pada hari terakhir, kegiatan diisi dengan acara penutupan yang dihadiri oleh Bapak Wisnu selaku Kepala Dinas Koperasi Banyumas dan Talkah Badrus sebagai Sesdep SDM Kementerian Koperasi dan UKM. Kemudian dilanjutkan dengan talkshow yang dibawakan oleh Kemal Khoirur (Tuban Creative Hub), dan Anggoro (MIKTI) yang dilanjutkan dengan sesi foto bersama dan ramah tamah. Serangkaian kegiatan yang diikuti oleh 60 peserta terpilih dari latar pelaku startup dan pemuda koperasi ini memiliki harapan setelah 4 hari workshop dan training secara penuh, dapat memberikan dampak atau menjadi inisiator dalam terbentuknya ekosistem startup coop sebagai warna baru di masing-masing kota asal selain Purwokerto.

    Selain itu, diharapkan juga bagi peserta pemuda koperasi dapat mengembangkan startup atau memulai startup baru setelah dikenalkan berbagai macam startup tools dan bagi para startup founder dapat mengkaji ulang startup mereka meliputi bisnis model, desain ide, hingga valuasi. Diharapkan juga setelah adanya picthing di hadapan juri sekaligus calon investor yang diikuti oleh 22 startup dapat menjadi ajang latihan dan evaluasi bagi kemajuan dan keberlangsungan startup mereka.

    Kegiatan camp bertema startup coop berskala nasional pertama di Purwokerto ini menjadi momentum awal untuk membuka ruang untuk kolaborasi ide, inspirasi, dan kreatitifas dari berbagai macam latar (Arsyad Dalimunte), mengenalkan nilai-nilai baru dari koperasi di ekosistem startup (Anggoro)serta memunculkan semangat baru dalam berkoperasi dan berstartup. Willy Hamzah dan Safriyan Jayadi, peserta StartUp Coop Camp yang memiliki tagline Innovate, Collaborate dan Growth ini juga berharap agar kegiatan semacam ini dapat menumbuhkan energi positif di kota-kota lain dan bisa terselenggara kembali secara rutin karena berdampak positif terutama bagi anak muda yang semangat berinovasi dalam bidang teknologi digital dan bisnis. []

    Sumber: https://blog.innocircle.id/2019/02/12/startup-coop-camp-startup-coop-sebagai-warna-baru-dalam-ekosistem-startup/

  • MoU Tripartit dengan PT. SKK Kembangkan Startup Coop

    Indonesian Consortium for Cooperative Innovation (ICCI), InnoCircle Initiative dan PT. Sakti Kinerja Kolaborasindo teken MoU Tripartit pengembangan startup coop di Indonesia pada 10 Februari 2019 di Hotel Meotel Purwokerto. Penandatanganan MoU itu dilaksanakan pada seremoni penutupan Startup Coop Camp yang disaksikan oleh Talkah Badrus, Sesdep Bidang SDM Kementerian Koperasi dan UKM RI, Dinas Koperasi dan Dekopinda Banyumas.

    Melalui MoU tripartit tersebut, para pihak sepakat untuk melakukan pengembangan model startup coop atau startup berbasis koperasi di Indonesia. Para pihak dengan modalitasnya masing-masing akan mendukung upaya itu. ICCI berkomitmen untuk mendorong ekosistem sehingga ramah terhadap generasi milenial dan agenda inovasi. InnoCircle Initiative sebagai lembaga inkubator startup coop di Indonesia. Kemudian PT. SKK yang bergerak di teknologi digital siap untuk support menjadi angel investor dan dukungan teknologi.

    “Kami sangat antusiasi dengan agenda ini. Anak-anak muda yang sudah merintis startup bisa berada di gerakan koperasi. Itu sulit terjadi karena koperasi acap kali diasosiasikan kumpulan orang tua. Namun hari ini saya justru melihat masa depan koperasi tanah air di tangan mereka”, seru Endy Chandra, Direktur Utama PT. SKK dalam sambutannya.

    Dalam MoU tersebut PT. SKK berkomitmen untuk memberikan dukungan teknologi kepada tenan/ startup yang terpilih yang sudah diinkubasi oleh InnoCircle. Dukungan itu berupa cloud server yang cukup bagi operasional sebuah aplikasi/ platform yang dibangunnya.

    Dari Kiri: Firdaus Putra, HC. (ICCI), Endy Chandra (PT. SKK), Anis Saadah, HC. (InnoCircle)

    Anis Saadah, HC., CEO InnoCircle Initiative, menyampaikan banyak terimakasih atas dukungan berbagai pihak. “Anak-anak muda bisa mengenal model lain koperasi, yaitu startup coop. Ini adalah wajah koperasi yang kekinian. Dan dengan dukungan para pihak, ICCI serta PT. SKK, kami yakin ini akan menjadi gelombang besar di Indonesia”, ujarnya.

    Startup Coop merupakan model baru di Indonesia yang saat ini sedang diujicobakan di beberapa kota/ wilayah. Tujuannya menjadi alternatif bagi model startup konvensional yang berbasis perseoran. Dengan berbasis koperasi, startup dapat dikelola secara demokratis bagi para founder. Di sisi yang lain ketika ada investasi yang masuk, tidak akan mempengaruhi kepemilikan para founder. “Model ini adalah salah satu upaya untuk merespon perkembangan ekonomi digital di Indonesia. Tantangan masa depan dengan tumbuhnya sharing economy dan gig economy harus bisa direspon baik oleh koperasi. Dan model inilah jawabannya”, ujar Firdaus Putra, HC., Komite Eksekutif ICCI. []

  • Digelar Startup Coop Camp untuk Milenial

    Kolaborasi dengan Kementerian Koperasi dan UKM RI, Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI) akan selenggarakan Startup Coop Camp pada 8-10 Februari 2019 mendatang. Kegiatan ini rencananya akan digelar di Purwokerto yang akan diorganisir oleh InnoCircle Initiative, sebuah lembaga inkubator startup coop.

    “Kolaborasi ini adalah entry point bagi agenda inovasi perkoperasian di Indonesia. Tentu kami sangat berterimakasih kepada Kementerian Koperasi, khususnya Bidang SDM yang responsif dan mendukung ikhtiar ini. Kegiatan itu akan mengumpulkan para pegiat startup dan juga pemuda koperasi”, terang Firdaus Putra, HC., Board of ICCI.

    Camp itu akan berisi serial kegiatan mulai dari pelatihan, lokakarya dan idea pitching. “Kurikulum didesain agar peserta bisa menggunakan serangkaian tools sepulang pelatihan. Bukan hanya itu, bahkan kami undang investor dari gerakan koperasi pada sesi pitching. Investor akan memberikan seed funding bagi beberapa startup coop yang dipilihnya”, terang Anis Saadah, HC., CEO InnoCircle Initiative.

    Berbagai tools akan diperkenalkan kepada peserta seperti Design Thinking, Business Model Canvas, Lean Startup, UX Research and Design, Team Building, Growth and Valuation dan berbagai materi startup lainnya. Di sisi lain materi perkoperasian juga akan diberikan kepada mereka. Tentu saja yang paling utama adalah model startup coop atawa koperasi startup.

    Rencananya kegiatan akan dibuat dua kelas paralel di mana satu kelas diikuti oleh para pelaku startup. Targetnya mereka bisa mengenal model koperasi agar bisa digunakan sebagai basis perusahaan startup-nya. Kelas kedua akan diikuti para pemuda koperasi. Targetnya mereka bisa memahami apa itu model bisnis startup. “Ini memang hibrida: mengkoperasikan startup dan menyetartupkan koperasi”, imbuh Firdaus.

    Tak berhenti hanya camp, rencananya peserta akan didorong untuk mulai membangun startup coop di kotanya masing-masing. Harapannya startup mereka bisa dipamerkan (show case) pada perayaan Hari Koperasi Nasional pada 12 Juli 2019 di GOR Satria Purwokerto. Tentu saja itu akan menjadi warna baru peringatan hari koperasi; Tak hanya yang konvensional, namun para startup dari generasi milenial juga bisa memacak karya.

    Talkah Badrus, Sesdep SDM Kementerian Koperasi dan UKM mengatakan, “Kami sangat dukung inovasi baru ini. Terutama karena sasarannya generasi milenial dan penggunaan teknologi (aplikasi) yang saat ini tengah massif. Harapannya mereka bisa menjadi inovator koperasi Indonesia di masa mendatang”, terangnya.

    Startup coop ini memang model baru yang sedang menjadi hot issue di gerakan koperasi. Bentuknya yakni koperasi pekerja (worker coop) dengan model bisnis startup. Momentumnya tepat dengan menggeliatnya bisnis startup tanah air yang jumlahnya mencapai 2.016 buah. Dicatat Indonesia menempati peringkat kelima dunia setelah Amerika, India, Kanada dan Inggris (Startuprangking.com, 24 Januari 2019). []

  • ICCI Mengikuti Platform Coop Conference di Hongkong

    Consortium Platform Cooperativism Hongkong mengadakan seminar platform koperasi bertajuk Sowing the Seeds: Platform Coopertivism in Asia. Tamu undangan dan pembicara dari kalangan akademisi dan praktisi koperasi dari berbagai belahan dunia hadir pada kegiatan tersebut. Diantaranya adalah Profesor Trebors Scholz sendiri, akademisi dari New School University yang mempopulerkan istilah platform cooperativism untuk pertama kali.

    Seminar ini diadakan sebagai respon terhadap gig economy yang diiringi oleh menjamurnya buruh digital (digital labour) dalam beragam sektor. Para buruh digital bekerja dalam kondisi rentan dan tanpa ada kepastian kerja seperti layaknya buruh konvensional pada umumnya. Dan seminar ini membincang platform cooperativism sebagai solusi atas kondisi tersebut.

    Seminar dibuka oleh ceramah Michael Bauweans dari P2P Foundation dan juga Profesor Pun Ngai tentang sejarah  gerakan sosial di Cina. Michael mengatakan di era digital sebenarnya orang telah bekerja secara berkoperasi dan bahu membahu menciptakan perusahan benilai milyaran dollar secara tidak sadar dengan menjadi pengguna produk perusahaan semisal google, facebook, uber dan sebagainya. Profesor Pun Ngai menuturkan revolusi sosial Cina adalah sebuah revolusi yang belum usai. Di mana kemajuan perekonomian Cina hari menghasilkan kesenjangan yang tinggi dari sisi sosial.

    Seminar dihelat selama dua hari, 28-29 September 2018 di Yasumoto Academic Park CHUK. Seminar menampilkan showcase dan rountable dari platform koperasi di wilayah Cina maupun dari tempat lain di dunia.

    Showcase hari pertama menampilkan praktik koperasi dari wilayah Cina, baik itu Cina daratan dan Taiwan. Dari Cina daratan, The Nantang Cooperative membuat platform online untuk menjual produk pertanian warga desa. Dari Taiwan Smangus Aboriginal Labor Cooperative memutus rantai pasok yang tidak berpihak pada petani dengan cara membuat platform online sehingga petani mendapat penghasilan lebih baik. Terakhir adalah Aliance of Taiwan Foodbank organisasi yang bergerak di bidang ketahanan pangan.

    Showcase sesi kedua menyajikan praktik-praktik platform coop dari asia. Di antaranya Sewa Cooperative dari India, Translate for her dan The Singing Cicadas dari Hongkong, Japan Workers’ Cooperative Union dari Jepang, Digi Coop dari Indonesia, Sungmisan Village dari Korea. Dalam kesempatan ini juga, Simel Esim dari Interntaional Labor Organization (ILO) dan Eum Hyung-sik dari International Cooperative Alliance (ICA) turut hadir memberikan komentar terhadap platform cooperativism.

    Kegiatan hari pertama ditutup dengan sesi rountable yang menghadirkan founder platform rintisan, mulai dari Hongkong, Asia Tenggara hingga Turki. Dari Hongkong ada Albert Lui yang mendirikan BTW Ride-Sharing, semacam taksi online. Dari Indonesia, Nashin Mahtani mendirikan petabencana.id. Yaitu sebuah platform pemetaaan bencana berdasarkan laporan masyarakat melalui media sosial. Dari Turki, Ali Ercan memperkenalkan situs donasi untuk pendidikan need maps. Dan terakhir, Jessamine Pacis dari Philipina mendirikan Foundation for media Alternatives.

    Hari kedua dimulai dengan kuliah dari Profesor Trebor Scholz dari the New School University. Dalam kuliahnya Trebors menjelaskan latar belakang platform coverativism berikut konsepnya. Ia juga menceritakan implementasi platform di berbagai tempat, mulai dari India hingga Amerika. Juga beberapa platform koperasi semisal Fairbnb, Up & Go, Stocksy, startup coop dan lain sebagainya.

    Di hari kedua, showcase platform coverativism dari Amerika, Eropa dan Australia. Yang pertama adalah Fairmondo, situs semacam eBay versi koperasi yang dirikan oleh Felix Weth dari jerman. Selanjutnya ada Geddup, sebuah platform kolaborasi antar komunitas yang didirikan oleh Rohan Clarke dari Australia. Selain itu platform-platform koperasi lain seperti Coop Exhange (Malta), Unionen (Swedia), sMart (Belgia), Coop Circle (France), dan ShareTribe (Finlandia) hadir dan menceritakan plaftorm mereka masing-masing.

    Sebagai respon terhadap semakin populernya Blockchain di dunia, seminar juga mengundang founder-founder koperasi berbasis blockchain. Diantaranya adalah Peter Harris (Resonate, German), lalu ada Zhang Jieping (Matter News, Hongkong), Tam Lat (Shanzai City, Hongkong), Isac Mao (Musicoin,USA)  dan Rob Stone (Datavest, USA).

    Dalam seminar tersebut, Indonesian Consortium for Cooperative Innovation (ICCI) ikut berpatisipasi dengan mengirim dua delegasi, Novita Puspasari, HC. dan Aef Setiawan, HC. Tujuannya adalah untuk mengabarkan ICCI pada konsorsium platform koperasi internasional, memetakan aktor kunci, membangun jaringan dan mencari peluang kolaborasi diantara jaringan tersebut. []

    Liputan kegiatan bisa ditonton di sini: https://www.youtube.com/channel/UCahi9q-p00ZeWMlc97uHacA