• Perlunya Menyegarkan Tampilan Buku LPJ Koperasi, Laporan Hasil Jajak Pendapat

    Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI) satu minggu yang lalu selenggarakan jajak pendapat tentang format buku Laporan Pertanggung-jawaban (LPJ) Pengurus dan Pengawas  koperasi. Jajak pendapat itu dilakukan secara online dengan Google Form di mana link disebarluaskan melalui berbagai Grup Whatsapp.

    Hasilnya, ada 97 responden yang mengikuti jajak pendapat. Mereka tersebar di beberapa kabupaten di 13 provinsi berbeda, yakni Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Sumatera Utara, Jakarta, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara, Jambi, Bangka Belitung dan Sulawesi Tengah. Di mana 63% mengatakan koperasinya telah berdiri lebih dari 10 tahun, 24% berdiri 1-5 tahun dan sisanya 6-10 tahun.

    Sebanyak 9 dari 10 orang menganggap bahwa format tampilan LPJ itu penting (23%) dan sangat penting (67%). Jawaban itu telah mengonfirmasi hipotesis jajak pendapat ini, bahwa tampilan LPJ itu, di luar isi laporannya, penting diperhatikan. Sebab, pertama-tama anggota melihat format tampilannya. Bila menarik, maka mereka akan membacanya dengan antusias, intensif dan serius. Hasilnya adalah anggota lebih tahu dan paham bagaimana kondisi koperasinya, capaian-capaiannya dan lain sebagainya.

    Sebagian besar responden setuju bahwa tampilan LPJ yang menarik bisa mendorong anggota koperasi untuk menyimak atau membacanya lebih intensif. Ada 94% mengatakan hal yang sama. Artinya 9 dari 10 orang responden setuju, tampilan LPJ yang bagus berpengaruh terhadap intensitas anggota membacanya. Hal ini terkonfirmasi pada pertanyaan yang berbeda yakni, “Menurut Anda, apakah anggota perlu menyimak LPJ?”, 94% mengatakan, iya.

    Rata-rata halaman LPJ mereka terdiri dari 10-30 halaman, sebanyak 43%. Disusul kemudian 31-50 halaman sebanyak 29%, 51-80 halaman sebanyak 16% dan sisanya yakni dengan jumlah lebih dari 80 halaman. Meski berbeda-beda tebal-tipisnya, sebagian besar responden menjawab bahwa LPJ adalah salah satu media edukasi anggota. Sebanyak 98% responden mengatakan demikian.

    ICCI menyelenggarakan jajak pendapat ini untuk merangsang koperasi-koperasi melakukan inovasi dari hal yang paling kecil. “Salah satunya dengan menyegarkan format tampilan LPJ. Sekarang zamannya infografis. Orang terbiasa melihat aneka ornamen visual daripada sekedar angka dan huruf”, kata Firdaus Putra, HC., Komite.

    Pada jajak pendapat itu ICCI memberikan contoh laporan dengan format infografis. Sebagian besar responden memandangnya secara positif. Mereka menilai format itu sangat menyenangkan dilihat, sebanyak 66%. Kemudian 17% mengatakan asik dan sisanya mengatakan: membingungkan (12%), kaku dan membosankan.

    Ketika giliran ditanya bagaimana mereka menilai buku LPJ koperasinya, 72% responden mengatakan: membosankan (28%), kaku (35%) dan membingungkan (9%). Buku LPJ mereka lebih banyak berisi tabel dan angka serta teks.

    Sisanya, yakni 28% mengatakan bahwa format buku LPJ di koperasinya asik dan menyenangkan untuk dibaca. Format yang menyenangkan ini berisi paduan teks, gambar, diagram dan tabel, atau yang secara umum disebut sebagai infografis.

    Di bagian akhir jajak pendapat, ICCI memberikan template LPJ yang menarik berbasis PowerPoint. Template itu bisa mereka sunting sesuai dengan struktur isinya. Dan juga template itu bisa dibagi dan disebarluaskan kepada koperasi lain yang membutuhkan.

    ICCI mengungkapkan bahwa menyegarkan tampilan buku LPJ ini adalah salah satu dari banyak aktivitas di koperasi  yang bisa disegarkan atau diinovasi. Artinya suatu hal memiliki 1001 peluang ditemukannya atau dikerjakan dengan cara, metode atau pendekatan baru. “Penyegaran tampilan buku LPJ ini hanya contoh atau eksemplar. Selebihnya kembali ke Pengurus dan Pengelola koperasi untuk menemukan 1001 cara baru lainnya. Tentu cara-cara yang dapat meningkatkan nilai tambah, manfaat, kinerja dan indikator lainnya”, ungkap ICCI. []

    Unduh Template LPJ Koperasi Gaya Baru:

    Pengantar      :   https://bit.ly/2P38Xru atau klik di sini

    Bagian 1         :   https://bit.ly/2Z4AiOM atau klik di sini      

    Bagian 2         :   https://bit.ly/2v0iFl6 atau klik di sini

    Font 1             :   https://bit.ly/2r8ZROu atau klik di sini

    Font 2             :   https://bit.ly/2k8RBOF atau klik di sini

    Harap diunduh semua.  Semoga bermanfaat.

    Sumber: http://inovasikoperasi.id/2019/04/11/perlunya-menyegarkan-tampilan-buku-lpj-koperasi-laporan-hasil-jajak-pendapat/

  • Startup Coop Camp Yogyakarta, Sukses!

    Startup Coop Camp Batch 2 telah diselenggarakan pada 28-31 Maret 2019 lalu di Yogyakarta. Rangkaian kegiatan dilaksanakan semalam empat hari penuh yang berisi: talkshow, pelatihan dan lokakarya. Sedikitnya 60 peserta terpilih dari 235 pendaftar mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai. Mereka berasal dari Jawa Tengah, Yogyakarya, Jawa Barat, Jakarta, Jawa Timur, Lampung dan Lombok.

    Kegiatan itu diprakarsai oleh Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI) bekerjasama dengan Kementerian Koperasi dan UKM RI Deputi Bidang SDM. Dibantu oleh organisasi lokal, Kopindo Wilayah DIY, keDATA dan Credeva, kegiatan itu berjalan dengan sukses. 

    Seperti Batch 1 Purwokerto, kelas dibagi menjadi dua: Founder Startup dan Pemuda Koperasi. “Tujuannya mengenalkan koperasi bagi para pelaku startup dan mengenalkan model startup bagi pelaku koperasi. Tentu saja harapannya agar bisa hasilkan model baru, yakni startup coop atau startup berbasis koperasi”, terang Hizkia Yosias Polimpung, Komite Eksekutif ICCI.

    Kegiatan itu juga dipantau oleh Bappenas Bidang Koperasi dan UKM yang mengirim delegasi untuk melihat bagaimana kelas berlangsung. Tujuannya untuk memperoleh gambaran lapangan bagaimana model koperasi baru ini diperkenalkan khususnya kepada generasi milenial. Sehingga di masa mendatang model bisnis koperasi bisa berkembang, tak melulu konvensional sebagaimana puluhan tahun lalu.

    Pengayaan proses dilakukan pada angkatan kedua ini yakni dengan menyilangkan peserta startup dengan koperasi pada sesi praktikum. Hal ini bertujuan agar para pemuda koperasi bisa langsung memahami cara berpikir dan merespon pelaku startup dan sebaliknya. Seluruh peserta pada rentang usia yang sama, sehingga pada sesi itu mereka dapat belajar antar teman sejawat (peer group learning). 

    Untuk mempercepat pemahaman dan membangun personal bonding, mereka juga disilang-silangkan saat pembagian kamar. Panitia berharap dengan cara itu satu sama lain bisa membangun koneksi personal dan terjadinya peluang kolaborasi yang lebih berkelanjutan. “Awal mulanya pasti hubungan personal, lama kelamaan menjadi kolaborasi”, terang panitia. 

    Kegiatan itu dibuka oleh Kementerian Koperasi dan UKM RI yang mengundang juga Dinas Koperasi Prov. DIY. Disusul kemudian adalah talkshow success story pengembangan koperasi dan startup oleh Suryo Hadiyanto, Ketua Koperasi KISEL dan Azmiansah, Pelaku Startup di Indonesia. Mereka berdua membagi kisah suksesnya mengelola bisnis masing-masing. Dari mereka peserta belajar bagaimana sukses itu tak bisa diraih dengan cara instan, meskipun itu startup. Azmi, demikian akrab disapa, menekankan bahwa startup harus siap dengan serial kegagalan dan aneka lika-likunya.

    Totalnya ada 14 pembicara, pelatih dan fasilitator yang membuat kegiatan itu menjadi kaya isi dan makna. Ditambah kegiatan dilaksanakan mulai pukul delapan sampai sepuluh malam. Meski demikian peserta tetap mengikuti dengan semangat penuh karena materi dan pemateri yang menantang. Pada sesi penutupan, peserta diberikan merchandise berupa buku serial bisnis startup dan pengembangan manajemen/ bisnis. Tujuannya sekaligus untuk meningkatkan budaya literasi di generasi milenial. “Ditambah, startup itu adalah bisnis dengan tingkat inovasi tinggi, membaca adalah keharusan untuk memperoleh insight-insight baru”, ujar Hizkia. []

  • Start Up Coop Camp II Digelar di Jogja

    Setelah sukses dengan Start up Coop Camp (SCC) Batch I di Purwokerto 8-10 Februari lalu, Startup Coop Camp Batch II  bakal dihelat di Yogyakarta,  28-31 Maret 2019. Menjaring 60 peserta dari kalangan Founder Startupdan Pemuda Koperasi, diisi dengan serial workshop, talkshow dan seminar berbobot. SCC Batch II diselenggarakan oleh Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI) bekerjasama dengan Kementerian Koperasi dan UKM Deputi Bidang SDM.

    Ekonomi berbasis digital yang terus tumbuh perlu diadaptasi jika tak ingin terdisrupsi. Belakangan, milenial pegiat koperasi di sejumlah kota mulai mencoba berjejaring membangun ekosistem baru yang lebih segar dan ramah teknologi digital. Aktivisme mereka mengerucut pada tiga kata kunci : coop platform , coop start up, dan worker coop.

    Lebih luas dari sekedar koperasi go online, coop platform ditawarkan sebagai respons tren collaborative economy  yang lebih dulu menggejala lima tahun terakhir. Bagi pengusung coop platform, praksis collaborative economy yang diterapkan Gojek, Grab, AirBnB, hingga marketplace berlevel unicorn, misalnya, dinilai belum merepresentasikan spirit koperasi.

    Coop platform, diandaikan laiknya Gojek atau Bukalapak dengan kepemilikan multi pihak  dalam satu platform. Tidak ada dominasi atas platform mengacu pada besaran kepemilikan modal individual atau kelompok elit, dan minus hak veto.

    Kecenderungan platform atau marketplace konvensional, adalah akumulasi profit yang njomplang  dan menguntungkan pemilik platform. Adapun provider serta user melulu sebagai komoditas. Coop Platformdiposisikan untuk meretas hal itu.

    Lalu coop start up, merupakan respon kooperatif atas gairah pendirian bisnis rintisan (start up) yang cenderung privat dan fragmentatif. Antusiasme pendiriannya memang membuncah. Bisnis start up tanah air tercatat terbesar di Asia Tenggara dengan lebih dari duaribu unit. Masuk peringkat kelima dunia setelah AS, India, Kanada, dan Inggris. Coop Start up menawarkan solusi pasar, inovasi, dan peluang scaling up dengan model bisnis kolaboratif.

    Dalam Star Up Coop Camp Batch I yang dihelat di Purwokerto, Februari lalu, diulas model-model worker coop, coop platform, dan coop start up yang masih relatif baru di kalangan pegiat koperasi dan publik umum. Saat itu,  hadir 45 peserta dengan beragam latar belakang dari Jakarta,  Bekasi, Lampung, Tasikmalaya, Tuban, Kudus, Yogyakarta dan Purwokerto.

    Dalam Coop Camp Batch II di Jogja kali ini, Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI) kembali berkolaborasi dengan Kementerian Koperasi dan UKM. Diorganisir oleh InnoCircle Initiative, sebuah lembaga inkubator startup coop.

    Persyaratan dan pendaftaran bisa dikulik di: http://bit.ly/startupcoopcampbatch2  (sebelum 26 Maret 2019)

    Sumber: http://milesia.id/2019/03/15/yuk-ikuti-start-up-coop-camp-ii-di-jogja/

  • MoU dengan Unsoed Kawal Inovasi Koperasi

    Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) resmikan gedung baru laboratorium FEB setinggi tujuh lantai. Dalam kesempatan itu dilakukan penandatanganan MoU kerjasama dengan berbagai pihak. Dalam momen itu Indonesian Consortium for Cooperative Innovation (ICCI) juga teken MoU. Kegiatan dilaksanakan di Lt. 6 Laboratorium FEB pada 20 Februari 2019.

    Agenda kerjasama yang didorong ICCI adalah inovasi koperasi dengan cara membentuk Cooperative Innovation Hub (CIH) di laboratorium tersebut. Penandatanganan dihadiri dan disaksikan oleh Bapak Untung Tri Basuki dari Bidang Kelembagaan dan Bapak Hariyanto dari Bidang SDM Kementerian Koperasi dan UKM RI.

    CIH merupakan simpul inovasi koperasi yang tujuannya untuk mengembangkan berbagai inovasi perkoperasian di tiap regional. Sebagai simpul, CIH akan diisi oleh berbagai lembaga seperti: organisasi gerakan koperasi (Dekopinda/ Wil), lembaga inkubator, institut/ peneliti koperasi, Dinas Koperasi dan pihak-pihak lainnya. Sebagai simpul, CIH dikelola secara kolaboratif yang dipimpin oleh Laboratorium Koperasi suatu kampus.

    Sedianya MoU diteken oleh Dr. Hizkia Yosias Polimpung sebagai salah satu Komite Eksekutif ICCI, yang juga adalah Akademisi Universitas Bhayangkara Jakarta. Sayangnya karena ada agenda mendesak kemudian diwakili oleh Firdaus Putra, HC, Komite lainnya. Dari Universitas Jenderal Soedirman MoU langsung diteken oleh Prof. Suwarto, Rektor Periode 2018-2022.

    Dalam kesempatan itu Rektor menyampaikan, “MoU ini harus ditindaklanjuti dengan kontrak kerjasama (PKS) yang lebih detail sehingga operasional. Harus kita kejar satu tahun ini semuanya bisa berjalan”, terangnya. Rektor menyampaikan terimakasih kepada berbagai pihak yang telah terlibat dalam pengembangan Tri Darma Perguruan Tinggi melalui laboratorium FEB ini.

    Selepas kegiatan itu, Kementerian Koperasi, ICCI dan Dekan FEB Unsoed melakukan rapat pendahuluan. Prof. Suliyanto, Dekan FEB menyampaikan, “Kami apresiasi kerjasama untuk mengembangkan dan mengoptimalkan laboratorium ini. Kami berharap nanti berbagai kegiatan kerjasama ini dapat libatkan sebanyak mungkin mahasiswa”, ujarnya.

    Sedangkan Bapak Untung Tri Basuki menyampaikan mengenai pentingnya perguruan tinggi/ kampus terlibat dalam agenda inovasi. “Inovasi ini kan pasti diawali dengan riset. Nah, itulah di situlah peran kampus yang isinya pada akademisi dan peneliti. Sehingga berbagai inovasi yang dilakukan itu sesuai dengan kebutuhan nyata koperasi”.

    Para pihak sepakat untuk mengawal pendirian CIH ini dan diupayakan agar bisa launching saat peringatan Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) 2019 yang kebetulan diselenggarakan di Purwokerto. []

  • ICCI Serukan Agenda Inovasi di Silaturahmi Koperasi Besar Indonesia

    Ada tiga puluh koperasi dan lembaga yang diundang dalam silaturahmi berkala besar pada 13 Februari 2019. Sebutlah beberapa koperasi skala besar seperti Koperasi KISEL dengan aset 6 trilyun, Koperasi Kredit Lantang Tipo, Koperasi Kredit Pancur Kasih, Induk Koperasi Wanita Pengusaha Indonesia (INKOWAPI) dan puluhan lainnya. Silaturahmi itu digagas untuk membangun kolaborasi antar koperasi besar di Indonesia.

    Firdaus Putra, HC. dan Novita Puspasari, HC., Komite Eksekutif ICCI menghadiri Silaturahmi Koperasi Besar yang digagas oleh Deputi Kelembagaan Kementerian Koperasi dan UKM RI. Silaturahmi itu diselenggarakan di Ruang Rapat Deputi Kelembagaan di bilangan Jl. Rasuna Said, Jakarta.

    Dalam kesempatan itu Prof. Dr. Rully Indrawan menyampaikan tentang capaian koperasi Indonesia saat ini. Di sisi lain juga menyampaikan beberapa tantangan strategis mendatang. Ia menggarisbawahi beberapa hal, “Koperasi saat ini berada di lingkungan strategis yang berubah cepat. Karenanya untuk berkompetisi dengan pelaku bisnis lainnya, koperasi butuh citra positif yang dikerjakan bersama. Sehingga lewat silaturahmi ini, penting dibangun kolaborasi lintas gerakan koperasi untuk meningkatkan kontribusi koperasi bagi pembangunan ekonomi nasional”, terangnya membuka kegiatan.

    Pada kegiatan itu, Firdaus Putra, HC., menyampaikan beberapa hal, “Kami bicara soal masa depan, bukan masa lalu. Bahwa tantangan di masa mendatang lebih besar. Apa yang perlu didorong adalah agenda inovasi di gerakan koperasi. Hal inilah yang kita lupakan puluhan tahun yang lalu. Riset dan Pengembangan kita miskin, termasuk pengembangan model bisnis. Hasilnya, sebagian besar model bisnisnya konvensional”, ujarnya.

    Menurut Firdaus, inovasi di koperasi itu bisa dilakukan dalam beragam dimensi. Mulai dari kelembagaan, tata kelola, pemasaran, permodalan, layanan/ produk, keanggotaan dan adopsi teknologi. Bahkan, masih menurutnya, pada hal-hal yang lebih detail lagi seperti model bisnis, proses bisnis, metode kerja dan lainnya. “Dengan cara begitu barulah kita bisa menyegarkan koperasi, sehingga otot-otot kita siap merespon era Industri 4.0 ini”, sambungnya.

    ICCI juga menyampaikan agar koperasi-koperasi besar mulai aware dengan tumbuhnya startup digital. Melalui forum itu, ICCI mendorong agar koperasi besar mau menjadi angel investor bagi mereka. “Banyak startup di luar sana. Peluang itu harusnya diambil oleh koperasi-koperasi besar sebagai angel investor. Sehingga para startup itu masuk ke dalam ekosistem gerakan kita. Bukannya ekosistem yang kapitalistik. Saya pikir semua yang ada di ruangan ini memiliki cukup sumberdaya untuk melakukan itu”, sambungnya.

    Firdaus juga melaporkan bahwa ICCI telah memulai kerja inovasi itu dengan melakukan inkubasi beberapa model baru, yakni startup coop dan worker coop. Salah satu bentuknya adalah melalui Startup Coop Camp bekerjasama dengan Kementerian Koperasi dan UKM Bidang SDM. “Alhamdulillah kemarin kami hadirkan dua investor dari gerakan koperasi: PT. SKK (Konsorsium Koperasi) dan INKOWAPI. Kemudian ada lima startup coop yang akan memperoleh investasi awal”, lanjutnya.

    Dalam kesempatan itu Koperasi KISEL hadir menyampaikan tentang program yang bica dikerjasamakan, yakni sebuah platform payment gateway yang bisa digunakan oleh berbagai koperasi. Presentasi selanjutnya dibawakan oleh Koperasi USB yang menyampaikan inovasi Rapat Anggota Online berbasis website. Pada kesempatan itu juga didemonstrasikan platform untuk melakukan Rapat Anggota Online tersebut. Harapannya inovasi itu bisa ditiru oleh koperasi lainnya. “Bila bapak-ibu menginginkan, bisa menggunakan platform RAT Online kami secara cuma-cuma”, terang Pengurusnya.

    Kegiatan itu juga dihadiri oleh Irsyad Muchtar, Sekjend Forum Koperasi Besar Indonesia dan Penulis Buku 100 Koperasi Besar Indonesia. Dalam kesempatan itu ia menyampaikan perlunya koperasi besar kolaborasi untuk membangun suatu proyek mercusuar. Ia lempar gagasan untuk membangun Cooperative Tower yang gedung dan sahamnya dimiliki oleh koperasi.

    Pada sesi terakhir, Neddy Rafinaldy, Sekjend Dekopin, menyampaikan tentang agenda perayaan Hari Koperasi Nasional (Harkopnas). Kegiatan utamanya akan dilaksanakan di beberapa kota: Makassar, Jakarta dan puncaknya di Purwokerto. “Kami berharap agar semua koperasi besar ikut menyemarakkan perayaan tahunan tersebut. Kami juga bekerja keras untuk membuat perayaan ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya”, terangnya. []

  • Startup Coop Camp, Perlunya Kolaborasi Kreativitas dan Manajemen

    Startup Coop Camp Batch 1 yang diorganisir oleh InnoCircle Initiative memasuki hari kedua bertempat di Hotel Meotel, Purwokerto. Kegiatan itu dinisiasi oleh Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI) bekerjasama dengan Kementerian Koperasi dan UKM RI Bidang SDM. Kegiatan berlangsung dari tanggal 7-10 Februari 2019 di Purwokerto.

    Berbeda dengan hari pertama di mana acara yang dimulai dengan talkshow, para peserta langsung diarahkan ke kelas yang telah ditentukan untuk mendapatkan materi mulai dari jam 08.30 sampai 22.00. Materi dan kegiatan praktik pada hari kedua difokuskan dalam tema kreatifitas dan pengelolaan atau management yang penting kaitannya dalam dunia startup coop. 

    SCC hari kedua kembali menghadirkan pembicara untuk dua kelas berbeda yaitu Complex Problem Solving oleh Dr. Hizkia Yossie, Ideation oleh Fajar Nusantara, HC, Design Thinking oleh Aef Nandi, dan Business Model Canvas oleh Pujianto (NPA) untuk kelas pemuda koperasi. Kemudian pada kelas startup founder sendiri para peserta diajak untuk berdiskusi bersama dengan materi Marketing Product Digital oleh C. Emerson, Project Managemet oleh Pri Anton, Keuangan dan Valuasi StartUp oleh Herliana, HC, Creative Thinking oleh Arnold Ong, dan ditutup dengan materi dan praktik Design Sprint oleh Nur Ikhwanudin.

    Kegiatan materi yang berlangsung 1.5-2 jam persesinya diikuti secara antusias oleh peserta dibuktikan dengan selain adanya sesi diskusi berupa sesi tanya jawab, para peserta juga menanyakan secara langsung pada pembicara setelah sesi selesai untuk berdiskusi ringan. Arnold Ong, pemateri Creative Thinking memberikan perhatian khusus tentang kreativitas bagi peserta. Menurut beliau, sebagai manusia yang bergerak dalam dunia startup untuk kreatif saja tidak cukup namun perlu sikap kedisiplinan dalam berpikir dan bertindak kreatif. Hal tersebut dapat dilakukan dengan rajin meriset diri sendiri, mengenali benar apa saja yang menjadi kelemahan dan kekuatan dalam diri, dan selalu untuk berpikir anti mainstream.

    Kemudian kreatifitas juga memerlukan peran manajemen yang penting. Dalam dunia startup misalnya ketika akan mengajukan pendanaan atau pitching, hal yang lebih penting terkait dengan ide dan teknis adalah manajemen story telling. Para pelaku startup perlu memerhatian lagi kemampuan negosiasi maupun penawaran dengan metode storytelling yang bukan hanya menarik namun juga meyakinkan. Hal yang kemudian juga menjadi penting ketika terjun ke pasar dengan membangun komunikasi dan menjadi kepercayaan. Caranya? Pahamilah pasar dengan identifikasi dan riset yang detail, seperti materi yang dibawakan oleh Pri Anton, CEO Nemolab.

    Masih dengan bahasan yang sama tentang membangun komunikasi, pembicara C. Emerson juga memberikan bahasan betapa pentingnya social medias tools dalam peranan startup. Media sosial harusnya bukan hanya tempat untuk memasarkan atau sekadar mengenalkan namun ada interaksi di dalamnya, bagaimana konsumen atau pengguna nantinya akan melihat bentuk dari sebuah startup. Emerson juga menambahkan penting dan kuatnya pengaruh sebuah konten yang berisi kolaborasi misalnya seperti video dan desain grafis, seperti yang dikatakan Bill Gates “content is king.”

    Mengenai manajemen lainnya dibawakan oleh Herliana mengenai keuangan dan valuasi startup dalam 7 bahasan yaitu laporan keuangan, valuasi startup, valuasi premoney, valuasi post money, dilusi saham, tahapan valuasi, dan valuasi startup coop. Materi ideation juga disampaikan dengan tujuan mengenalkan proses penalaran untuk menemukan nilai lebih, model bisnis, dan analisis pasar dari pasar yang berawal dari proses sederhana menemukan ide. Keberlanjutan dari ideation dilajutkan dengan complex problem solving untuk memisahkan problem yang simple dan complex dengan soft skill yang dibutuhkan Kemudian tak hanya belajar dan berdiskusi mengenai materi saja, pada hari kedua para peserta belajar praktik langsung secara berkelompok mengenai business model canvas oleh Pujianto dan Aef Nandi sebagai fasilitator, juga design sprint oleh Nur Ikhwanudin dan Fajar Nusantara untuk simulasi merancang solusi dan produk dalam 4 hari secara maksimal.

    Sumber: https://blog.innocircle.id/2019/02/09/startup-coop-camp-perlunya-kolaborasi-kreatifitas-dan-manajemen/

  • Startup Coop Camp, Warna Baru dalam Ekosistem Startup

    Startup Coop Camp Batch 1, kolaborasi antara Indonesian Consortium for Cooperatives Inovation, Kementerian Koperasi dan UKM RI Bidang SDM dan InnoCircle Initiative telah memasuki hari terakhir atau hari keempat dari serangkaian acara yang telah dimulai sejak Kamis, 7 Februari 2019 bertempat di Hotel Meotel Purwokerto. Kegiatan yang berupa full day training dan workshop, digital startup coop picthing session, investment longue, networking ini menghadirkan nama-nama expert speakers dan trainer dari berbagai bidang khususnya pelaku startup, aktivis koperasi, dan pekerja kreatif seperti Firdaus Putra, Novita Puspasari, Uung Fery, Arnold Ong, Herliana, Hizkia Yossie, Kemal Rahman, Anggoro, Arsyad Dalimunte, Pri Anton, Arif Cazh, Anis Saadah, Fajar Nusantara, Nur Ikhwanudin, Aef Nandi, Pujianto, Ali Sofyan, dan C. Emerson.

    Pada hari terakhir, kegiatan diisi dengan acara penutupan yang dihadiri oleh Bapak Wisnu selaku Kepala Dinas Koperasi Banyumas dan Talkah Badrus sebagai Sesdep SDM Kementerian Koperasi dan UKM. Kemudian dilanjutkan dengan talkshow yang dibawakan oleh Kemal Khoirur (Tuban Creative Hub), dan Anggoro (MIKTI) yang dilanjutkan dengan sesi foto bersama dan ramah tamah. Serangkaian kegiatan yang diikuti oleh 60 peserta terpilih dari latar pelaku startup dan pemuda koperasi ini memiliki harapan setelah 4 hari workshop dan training secara penuh, dapat memberikan dampak atau menjadi inisiator dalam terbentuknya ekosistem startup coop sebagai warna baru di masing-masing kota asal selain Purwokerto.

    Selain itu, diharapkan juga bagi peserta pemuda koperasi dapat mengembangkan startup atau memulai startup baru setelah dikenalkan berbagai macam startup tools dan bagi para startup founder dapat mengkaji ulang startup mereka meliputi bisnis model, desain ide, hingga valuasi. Diharapkan juga setelah adanya picthing di hadapan juri sekaligus calon investor yang diikuti oleh 22 startup dapat menjadi ajang latihan dan evaluasi bagi kemajuan dan keberlangsungan startup mereka.

    Kegiatan camp bertema startup coop berskala nasional pertama di Purwokerto ini menjadi momentum awal untuk membuka ruang untuk kolaborasi ide, inspirasi, dan kreatitifas dari berbagai macam latar (Arsyad Dalimunte), mengenalkan nilai-nilai baru dari koperasi di ekosistem startup (Anggoro)serta memunculkan semangat baru dalam berkoperasi dan berstartup. Willy Hamzah dan Safriyan Jayadi, peserta StartUp Coop Camp yang memiliki tagline Innovate, Collaborate dan Growth ini juga berharap agar kegiatan semacam ini dapat menumbuhkan energi positif di kota-kota lain dan bisa terselenggara kembali secara rutin karena berdampak positif terutama bagi anak muda yang semangat berinovasi dalam bidang teknologi digital dan bisnis. []

    Sumber: https://blog.innocircle.id/2019/02/12/startup-coop-camp-startup-coop-sebagai-warna-baru-dalam-ekosistem-startup/

  • MoU Tripartit dengan PT. SKK Kembangkan Startup Coop

    Indonesian Consortium for Cooperative Innovation (ICCI), InnoCircle Initiative dan PT. Sakti Kinerja Kolaborasindo teken MoU Tripartit pengembangan startup coop di Indonesia pada 10 Februari 2019 di Hotel Meotel Purwokerto. Penandatanganan MoU itu dilaksanakan pada seremoni penutupan Startup Coop Camp yang disaksikan oleh Talkah Badrus, Sesdep Bidang SDM Kementerian Koperasi dan UKM RI, Dinas Koperasi dan Dekopinda Banyumas.

    Melalui MoU tripartit tersebut, para pihak sepakat untuk melakukan pengembangan model startup coop atau startup berbasis koperasi di Indonesia. Para pihak dengan modalitasnya masing-masing akan mendukung upaya itu. ICCI berkomitmen untuk mendorong ekosistem sehingga ramah terhadap generasi milenial dan agenda inovasi. InnoCircle Initiative sebagai lembaga inkubator startup coop di Indonesia. Kemudian PT. SKK yang bergerak di teknologi digital siap untuk support menjadi angel investor dan dukungan teknologi.

    “Kami sangat antusiasi dengan agenda ini. Anak-anak muda yang sudah merintis startup bisa berada di gerakan koperasi. Itu sulit terjadi karena koperasi acap kali diasosiasikan kumpulan orang tua. Namun hari ini saya justru melihat masa depan koperasi tanah air di tangan mereka”, seru Endy Chandra, Direktur Utama PT. SKK dalam sambutannya.

    Dalam MoU tersebut PT. SKK berkomitmen untuk memberikan dukungan teknologi kepada tenan/ startup yang terpilih yang sudah diinkubasi oleh InnoCircle. Dukungan itu berupa cloud server yang cukup bagi operasional sebuah aplikasi/ platform yang dibangunnya.

    Dari Kiri: Firdaus Putra, HC. (ICCI), Endy Chandra (PT. SKK), Anis Saadah, HC. (InnoCircle)

    Anis Saadah, HC., CEO InnoCircle Initiative, menyampaikan banyak terimakasih atas dukungan berbagai pihak. “Anak-anak muda bisa mengenal model lain koperasi, yaitu startup coop. Ini adalah wajah koperasi yang kekinian. Dan dengan dukungan para pihak, ICCI serta PT. SKK, kami yakin ini akan menjadi gelombang besar di Indonesia”, ujarnya.

    Startup Coop merupakan model baru di Indonesia yang saat ini sedang diujicobakan di beberapa kota/ wilayah. Tujuannya menjadi alternatif bagi model startup konvensional yang berbasis perseoran. Dengan berbasis koperasi, startup dapat dikelola secara demokratis bagi para founder. Di sisi yang lain ketika ada investasi yang masuk, tidak akan mempengaruhi kepemilikan para founder. “Model ini adalah salah satu upaya untuk merespon perkembangan ekonomi digital di Indonesia. Tantangan masa depan dengan tumbuhnya sharing economy dan gig economy harus bisa direspon baik oleh koperasi. Dan model inilah jawabannya”, ujar Firdaus Putra, HC., Komite Eksekutif ICCI. []

  • Menyegarkan Kembali Koperasi dengan Inovasi

    Oleh: Firdaus Putra, HC.

    Spektrum isu dan diskursus koperasi satu dekade terakhir lebih banyak bicara soal aspek kelembagaan, legal, permodalan, organisasi gerakan serta kebijakan perkoperasian. Seolah tidak ada perspektif baru melihat aktivitas perkoperasian. Banyak diskusi dan seminar biasanya berujung pada kesimpulan klise, “peran pemerintah perlu ditingkatkan”, “kemandirian koperasi harus dibangun”, “koperasi butuh modal”, “gerakan koperasi lemah” dan seterusnya.

    Barulah dua-tiga tahun terakhir mulai muncul spektrum warna lain seperti adopsi teknologi digital oleh koperasi. Itupun dengan tingkat resonansi terbatas. Kita perlu mencari perspektif baru untuk melihat geliat perkoperasian di Indonesia dewasa ini. Tentu saja tujuannya agar praktik berkoperasi di tanah air lebih segar dan menyegarkan.  

    Relevansi

    Saya sedang membaca 21 Lessons for the 21st Century karya Yuval Noah Harari. Ada satu alenia yang mengusik dan saya ingin mengutipnya utuh. “Miliaran dari kita hampir tidak mampu untuk melakukan pengkajian/ penyelidikan, karena kita memiliki banyak hal mendesak untuk dilakukan: kita harus pergi bekerja, merawat anak-anak, atau merawat orang tua yang lanjut usia. Sayangnya, sejarah tidak memberikan diskon. Jika masa depan umat manusia ditentukan dalam ketiadaan Anda, karena Anda terlalu sibuk memberi makan dan pakaian kepada anak-anak Anda, maka Anda dan mereka tidak akan dibebaskan dari konsekuensinya. Ini sangat tidak adil; Tapi siapa bilang sejarah itu adil?”

    Konteks peringatan itu yakni soal dunia yang berubah, yang berbeda dengan epos zaman sebelumnya. Untuk sederhananya kita sebut sebagai epos Revolusi Industri 4.0. Kisah Industri 4.0 itu sudah banyak yang mengulas; Soal kecerdasan buatan, otomasi pekerjaan berbasis robot, internet of thing dan berbagai fitur-fitur kecanggihan lainnya yang sebelumnya tak pernah hadir dalam keseharian. Sayangnya, kadang sebagian di antara kita melihat hal itu berada “di luar sana”, bukannya “di dalam sini”. Padahal, kecanggihan itu, dalam taraf rendah, sudah kita nikmati sehari-hari: kemudahan financial technology, aneka aplikasi di ponsel pintar, smart watch yang hanya Rp. 300.000 harganya, iklan otomatis di media sosial kita dan lain sebagainya.

    Jadi, hal-ihwal itu sudah terjadi “di dalam sini dan kini” dan tak menunggu waktu lama untuk makin canggih dan massif. Lantas, dalam epos zaman baru itu, apakah keberadaan koperasi tetap relevan? Di saat masyarakat sebagian besar mulai mengenal e-wallet, cashless payment dan sejenisnya. Atau pertanyaannya kita ubah, bagaimana agar koperasi tetap relevan?

    Jawaban praktisnya tentu saja koperasi harus beradaptasi dengan zaman. Lantas apa dan bagaimana sesungguhnya proses adaptasi itu bekerja? Apakah sekedar koperasi mengubah sistem layanannya menjadi online? Menggunakan media sosial sebagai channel pemasaran? Atau ada hal-hal lainnya yang harus dilakukan secara kontinyu?

    Adaptasi

    Menggunakan istilah “adaptasi” mengandaikan membaca koperasi sebagai sebuah entitas yang organis, alih-alih mekanis. Bila Anda ingin membelokkan bus yang sedang melaju, cukup putar kemudi dan seluruh badan bus akan mengikuti. Itu logika mekanis. Hal yang sama tak bisa diterapkan pada entitas organis yang di dalamnya memiliki budaya organisasi/ kerja, seni kepemimpinan serta pengelolaan, perbedaan kapasitas SDM dan hal-hal “lunak” lainnya. Alhasil, itu tak akan sesederhana memutar kemudi bus.

    Berbagai agenda perubahan seringkali gagal dalam mengubah budaya organisasi serta hal-hal di atas itu. Lebih sulit mengubah “yang lunak” daripada aspek “yang keras”. Dibutuhkan komitmen besar serta konsistensi agar perubahan menjadi budaya baru; menjadi habitus baru; menjadi cara kerja baru.

    Istilah adaptasi sudah tepat untuk menggambarkan modus perubahan yang harus dilakukan. Suatu perubahan yang dilakukan secara kontinyu dan di berbagai aspek secara bersamaan. Mungkin ilustrasi yang tepat untuk itu adalah seperti musik orkestra yang terdiri dari banyak alat dan pemain namun padu dalam harmoni.

    Kita tak bisa misalnya mengubah koperasi sekedar go online ketika gaya kepemimpinan pengurus atau manajernya masih offline. Yang harus dilakukan adalah mengorkestrasi perubahan di sisi tata kelola, kepemimpinan dan terakhir teknologinya. Barulah kemudian koperasi tersebut benar-benar berada dalam habitat online secara total, aspek hard dan soft-nya sekaligus.

    Inovasi

    Saya berpikir bahwa adaptasi untuk bangun relevansi eksistensial itu dimungkinkan melalui inovasi. Inovasi itu merujuk pada penggunaan cara/ metode/ proses baru sehingga bisa membuat kita lebih produktif. Yang bila dikategorikan, ada yang sifatnya rutin, perbaikan sampai yang radikal/ mendasar. Modus dasarnya adalah mengeksplorasi dan menyoba segala kemungkinan yang ada. Sehingga kita dituntut berpikir ulang (rethinking) tentang yang sudah biasa kita kerjakan.

    Agenda inovasi di koperasi bisa bekerja pada semua aspek. Mulai dimensi kelembagaan, manajerial, strategi, kepemimpinan, SDM, produk, layanan, pemasaran, model bisnis, proses kerja, model edukasi, teknologi, model pendampingan usaha anggota, permodalan, peraturan dan aspek-aspek besar-kecil lainnya. Semua hal itu bisa diinovasi tentu dengan pertimbangkan skala prioritas.

    Koperasi perlu melihat berbagai perubahan “yang di luar” itu sebagai tantangan strategis. Kemudian menyusun peta jalan untuk lakukan inovasi di berbagai aspek sehingga lebih siap. Ada satu contoh menarik bagaimana Koperasi Wanita di Jawa Timur akan gelar lokakarya di bulan Maret mendatang untuk mengkaji model Tanggung Renteng (TR). Sebabnya, banyak anggotanya sekarang sibuk bekerja dan sulit untuk hadiri pertemuan kelompok TR. Di sisi lain, mereka melihat bahwa sebagian besar anggota memiliki smart phone. Mereka sedang membayangkan mungkinkah model TR itu diinovasi sehingga menjawab berbagai kendala dan tantangan di lapangan.

    Contoh yang lain misalnya sedang diuji coba salah satu koperasi di Purwokerto terkait dengan pendampingan usaha anggota. Mereka melihat bahwa saat ini banyak komunitas wirausaha dan juga grup Whatsapp bisnis. Belum lagi ditambah dengan aneka forum jual beli di media sosial dan market place. Mereka sedang menyoba hal baru dengan pendekatan kolaboratif; Menghubungkan anggotanya ke berbagai komunitas wirausaha dan berbagai platform digital. Itu berangkat dari kesadaran bahwa koperasi adalah bagian dari ekosistem besar dan kolaborasi multi pihak akan menjadi daya ungkit.

    Tempo lalu saya mengisi kuliah online di gerakan koperasi Kalimantan Timur. Difasilitasi oleh Aktivator Koperasi/ PPKL, saya memberi kuliah selama dua jam. Caranya sederhana lewat grup Whatsapp. Inovasi sederhana itu  sudah bisa memangkas biaya, dibanding menerbangkan saya dari Purwokerto ke sana. Itu contoh sederhana yang solutif.

    Yang ingin saya tunjukkan adalah berbagai inovasi dapat dilakukan pada aspek dan skala yang berbeda-beda. Bahwa ada cara lain yang bisa dilakukan bila kita jeli melihatnya. Bahkan sebagai pengurus/ manajer, Anda tak perlu mengada-ada untuk membuat suatu inovasi. Cukup lempar masalah itu ke seluruh staf dan mintalah mereka berpikir. Dari sana, brainstorming cerdas akan muncul, sebab mereka mengalami kendala/ masalah secara langsung.

    Bayangkan Anda sudah duduk lama di kursi kerja. Maka Anda perlu bangkit dan menggerak-gerakkan badan agar tetap segar. Persis seperti itulah yang terjadi di koperasi saat ini. Inovasi skala kecil atau besar, sama halnya lakukan peregangan otot untuk menjaga badan tetap segar. Apa yang sudah menjadi as usual business, perlu disegarkan kembali.

    Beda cerita bila Anda memilih bangkit dari kursi dan lantas lari, itu bisa berakibat fatal. Sebabnya, vitalitas Anda belum optimal, nafas Anda masih pendek, otot-otot belum siap dan peredaran darah belum juga lancar. Sama halnya tanpa persiapan yang cukup, dari segi soft dan hard, koperasi masuki epos Industri 4.0. Hasilnya bisa fatal.

    Salah satu gerakan koperasi yang paham persis pentingnya inovasi adalah Credit Union/ Koperasi Kredit. Dulu pilar pembangunan Credit Union itu hanya tiga: Pendidikan, Solidaritas dan Swadaya. Namun tahun 2012 ditambah satu pilar lagi yakni Inovasi. Sampai kemudian empat pilar itu diinovasi kembali pada tahun 2017 ditambah dengan Persatuan dalam keragaman, jadilah lima pilar. Itu memperlihatkan bagaimana Credit Union di Indonesia begitu inovatif.

    Jadi, bila sejak lima tahun lalu sampai sekarang koperasi Anda begitu-begitu saja, saatnya regangkan otot. Di depan sana, tantangan lebih besar sudah menunggu. Mulailah inovasi dari yang kecil/ mudah untuk bangun keyakinan bahwa perubahan itu mungkin dilakukan. Tak perlu menunggu waktu dan klise “bila kami sudah siap”, mulailah sekarang juga. Sebab, sejarah tidak memberi diskon! []

    Sumber: https://ekonomi.kompas.com/read/2019/01/28/131400926/menyegarkan-kembali-koperasi-dengan-inovasi

  • Digelar Startup Coop Camp untuk Milenial

    Kolaborasi dengan Kementerian Koperasi dan UKM RI, Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI) akan selenggarakan Startup Coop Camp pada 8-10 Februari 2019 mendatang. Kegiatan ini rencananya akan digelar di Purwokerto yang akan diorganisir oleh InnoCircle Initiative, sebuah lembaga inkubator startup coop.

    “Kolaborasi ini adalah entry point bagi agenda inovasi perkoperasian di Indonesia. Tentu kami sangat berterimakasih kepada Kementerian Koperasi, khususnya Bidang SDM yang responsif dan mendukung ikhtiar ini. Kegiatan itu akan mengumpulkan para pegiat startup dan juga pemuda koperasi”, terang Firdaus Putra, HC., Board of ICCI.

    Camp itu akan berisi serial kegiatan mulai dari pelatihan, lokakarya dan idea pitching. “Kurikulum didesain agar peserta bisa menggunakan serangkaian tools sepulang pelatihan. Bukan hanya itu, bahkan kami undang investor dari gerakan koperasi pada sesi pitching. Investor akan memberikan seed funding bagi beberapa startup coop yang dipilihnya”, terang Anis Saadah, HC., CEO InnoCircle Initiative.

    Berbagai tools akan diperkenalkan kepada peserta seperti Design Thinking, Business Model Canvas, Lean Startup, UX Research and Design, Team Building, Growth and Valuation dan berbagai materi startup lainnya. Di sisi lain materi perkoperasian juga akan diberikan kepada mereka. Tentu saja yang paling utama adalah model startup coop atawa koperasi startup.

    Rencananya kegiatan akan dibuat dua kelas paralel di mana satu kelas diikuti oleh para pelaku startup. Targetnya mereka bisa mengenal model koperasi agar bisa digunakan sebagai basis perusahaan startup-nya. Kelas kedua akan diikuti para pemuda koperasi. Targetnya mereka bisa memahami apa itu model bisnis startup. “Ini memang hibrida: mengkoperasikan startup dan menyetartupkan koperasi”, imbuh Firdaus.

    Tak berhenti hanya camp, rencananya peserta akan didorong untuk mulai membangun startup coop di kotanya masing-masing. Harapannya startup mereka bisa dipamerkan (show case) pada perayaan Hari Koperasi Nasional pada 12 Juli 2019 di GOR Satria Purwokerto. Tentu saja itu akan menjadi warna baru peringatan hari koperasi; Tak hanya yang konvensional, namun para startup dari generasi milenial juga bisa memacak karya.

    Talkah Badrus, Sesdep SDM Kementerian Koperasi dan UKM mengatakan, “Kami sangat dukung inovasi baru ini. Terutama karena sasarannya generasi milenial dan penggunaan teknologi (aplikasi) yang saat ini tengah massif. Harapannya mereka bisa menjadi inovator koperasi Indonesia di masa mendatang”, terangnya.

    Startup coop ini memang model baru yang sedang menjadi hot issue di gerakan koperasi. Bentuknya yakni koperasi pekerja (worker coop) dengan model bisnis startup. Momentumnya tepat dengan menggeliatnya bisnis startup tanah air yang jumlahnya mencapai 2.016 buah. Dicatat Indonesia menempati peringkat kelima dunia setelah Amerika, India, Kanada dan Inggris (Startuprangking.com, 24 Januari 2019). []