• Ini Dia Framework Inovasi Koperasi Indonesia

    Menandai satu tahun Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI) berkiprah, 6 Agustus lalu digelar focus group discussion di Purwokerto. Pada kegiatan itu, disampaikan apa yang  sudah dan sedang dikerjakan oleh ICCI selama setahun ini.

    Pada kesempatan itu, Komite Eksekutif ICCI merilis Framework Inovasi Berkelanjutan Koperasi Indonesia. Bertujuan untuk mengembangkan kerja-kerja inovasi perkoperasian di Indonesia berbasis ekosistem lokal.

    “Agar berkelanjutan kita harus menjangkarkannya pada ekosistem di regional atau wilayah masing-masing. Ekosistem ini tersusun atas Academia, Business, Community, Government dan Media,” terang Novita Puspasati, HC.,  dalam sambutan pembuka.

    ICCI menitikberatkan perlunya mencetak para inovator koperasi sebagai motor penggerak. Tanpa inovator, inovasi-inovasi yang berkelanjutan sulit dikerjakan. Lewat penyelenggaraan Akademi Inovator Koperasi, para inovator bisa ditemukan dan dikembangkan di berbagai wilayah.

    Selain pentingnya inovator, ICCI juga menganggap penting keberadaan Cooperative Innovation Hub (CIH), yang  berperan sebagai simpul tempat para pihak beraktivitas di dalamnya. ICCI menjangkarkan pembentukan CIH di kampus-kampus. Ini relevan sebab inovasi membutuhkan basis riset dan pengembangan tingkat lanjut.

    ICCI juga menyoroti perlunya pendirian lembaga inkubator koperasi model baru. Inkubator dibutuhkan agar berbagai model bisa diinisiasi dan dikembangkan mulai dari nol sampai ke tahap lanjut. Model-model baru yang dimaksud seperti worker coop, startup coop, platform coop, community coop, convert to coop, social coop dan lain sebagainya.

    Selain model baru, koperasi eksisting juga harus berinovasi berbasis Piramida Inovasi. Di dalam piramida itu tertera level/ dimensi inovasi yang bisa dikerjakan, mulai dari yang termudah sampai yang tersulit dengan dampak yang massif.

    “Kerja nyatanya bisa dilakukan lewat CIH. Di CIH itu ada juga koperasi-koperasi bagus yang menjadi lembaga jangkar. Sehingga lewat koperasi bagus itu, agenda inovasi bisa dikerjakan pertama kali”, terang Firdaus Putra, HC., Komite.

    Kerangka kerja yang dirilis oleh ICCI ini membutuhkan kolaborasi multi pihak pada domainnya masing-masing. Sedikitnya ada delapan agenda yang bisa dikerjakan bersama. Diantaranya Akademi Inovator Koperasi, Startup Coop Camp, Cooperative Innovation Hub, Inkubator Koperasi Model Baru, Portal Informasi Inovasi Koperasi, Indeks Inovasi Koperasi, Direktori Inovasi Koperasi dan berujung pada Festival Inovasi Koperasi. []

    Anda dapat mengunduh framework tersebut: klik di sini

    Telah dimuat di: https://milesia.id/2019/08/13/ini-dia-framework-inovasi-berkelanjutan-koperasi-indonesia/

  • ICA Asia Pasifik Hadiri FGD ICCI di Purwokerto

    Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI)  menghelat  Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Kerangka Kerja Inovasi Koperasi di Indonesia secara  Berkelanjutan”, Selasa (6/8) lalu.  Bertempat di Restoran Table 9, Purwokerto, dihadiri 45 peserta dari mitra dan stakeholder.

    Sejumlah lembaga pemerintah dan bisnis yang hadir diantaranya Bidang Kelembagaan dan SDM Kementerian Koperasi dan UKM, Bappenas, LPDB, Dinas Koperasi Provinsi  Jawa Tengah, sejumlah universitas,  para pelaku koperasi model baru, PT. Sakti Kinerja Kolaborasindo (Angel Investor), serta  sejumlah tamu undangan.

    Dalam lawatannya ke Indonesia, mereka bertemu dan berdiskusi langsung dengan sejumlah pihak. Di Jakarta, mereka menemui Koperasi Pemuda Indonesia. Di Purwokerto menjumpai InnoCircle Initiative, lembaga inkubator startup coop,  bersama para tenantstartup. Dilanjutkan mengikuti rangkaian FGD ICCI di Purwokerto. Di Yogyakarta, visitingdan sharing dengan Koperasi Edukarya Negeri Lestari atau lebih dikenal dengan Koperasi Wikikopi/Wikiti. Mereka sangat terinspirasi dengan model Wikiti yang tak terbayangkan sebelumnya.

    Dalam lawatannya ke Indonesia, mereka bertemu dan berdiskusi langsung dengan sejumlah pihak. Di Jakarta, mereka menemui Koperasi Pemuda Indonesia. Di Purwokerto menjumpai InnoCircle Initiative, lembaga inkubator startup coop,  bersama para tenantstartup. Dilanjutkan mengikuti rangkaian FGD ICCI di Purwokerto. Di Yogyakarta, visitingdan sharing dengan Koperasi Edukarya Negeri Lestari atau lebih dikenal dengan Koperasi Wikikopi/Wikiti. Mereka sangat terinspirasi dengan model Wikiti yang tak terbayangkan sebelumnya.

    Dalam kesempatan itu, Ivjyot dan Simren memaparkan program kerja ICA-AP, isu strategis mendatang dan peran anak muda dalam gerakan koperasi.  Mereka mengapresiasi FGD dan menemukan aneka model baru dan berbagai showcase praktika lapangan.

    Koperasi KINARYA, misalnya, dikenal sebagai koperasi sektor kreatif  yang concern dengan film sebagai lokomotifnya.  Lainnya adalah  PlayMe Platform Coop, Senandung Sejuk, Beceer.com, PediHelp.id, BookCircle.id, Sewaa.in, Pesanan Kilat, DNA Creative Kudus, dan lainnya.

    “Saya melihat dari pesan dan bahasa tubuhnya, mereka sangat passionate untuk mengerjakan bisnis berbasis koperasi itu. Ini yang tidak saya temui di ruang lain. Ada semacam api yang menyala-nyala dan terus memompa semangat, ” terang Ivjyot Singh tak bisa menyembunyikan kekagumannya.

    Dalam kunjungan terakhir ke salah satu Kopma di Yogyakarta, Ivjyot dan Simren dibuat terkejut ketika berdialog dengan Pengurus dan Ketua Kopma, yang mengatakan koperasi tidak prestisius bagi anak muda dan kemungkinan selepas lulus mereka tak akan berkarir di koperasi. “Saya rasa perlu dicari formula yang tepat untuk membangun alur dari Kopma dan lalu masuk ke koperasi. Yang dilakukan ICCI dan InnoCircle mungkin bisa diterapkan di Kopma,” terang Ivjyot.

    Komitmen Kolaborasi Multi Pihak

    Kegiatan FGD Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI), di Purwokerto diakhiri dengan komitmen kolaborasi multi pihak dalam membangun inovasi perkoperasian di Indonesia secara berkelanjutan. Berbagai lembaga menyampaikan apa-apa yang bisa dikerjakan sesuai dengan framework yang disampaikan ICCI di awal kegiatan.

    Dari dunia pendidikan, Laboratorium Koperasi FEB Unsoed-Purwokerto dan LPPM Universitas Mercubuana-Yogyakarta, menyatakan siap membangun Cooperatives Innovation Hub (CIH) di kampusnya masing-masing. Juga menyanggupi untuk melakukan kerjasama penelitian lintas lembaga. Malah ada sembilan poin kolaborasi yang ditawarkan Universitas Mercubuana kepada ICCI dan para peserta lainnya.

    Kementerian Koperasi dan UKM RI juga menyatakan siap mendukung agenda besar inovasi koperasi. Menyebut highlight Presiden Jokowi dalam Pidato Politiknya pada 14 Agustus 2019, yang juga menyoroti perlunya mencari model-model baru, cara-cara baru dan nilai-nilai baru dalam mencari solusi, yakni melalui inovasi.

    Pada kesempatan itu ICCI mendorong agar Kementerian Koperasi secepatnya bisa menyelenggarakan serial Akademi Inovator Koperasi di berbagai regional di Indonesia sebagai starting point untuk mencetak para Inovator Koperasi.

    Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) siap mendukung khususnya pada model baru seperti startup coop. Adapun Koperasi Pekerja Senandung Sejuk, DNA Creative Kudus, InnoCircle Initiative, ITT Purwokerto, Koperasi Kinarya, PT. Sakti Kinerja Kolaborasindo dan tak ketinggalan Dinas Koperasi Prov. Jawa Tengah, juga siap berkomitmen untuk berkolaborasi.

    Khusus di Jawa Tengah, tercatat dua kegiatan utama akan dihelat. Pertama, produksi film tentang blockchaindan IT oleh Koperasi Kinarya. Kedua, akan dibuat Festival Inovasi Koperasi pada Juli 2020 mendatang sebagai konten kegiatan Hari Koperasi.

    “Ini akan menjadi pilot project awal agenda inovasi perkoperasian. Festival Inovasi Koperasi itu hanya kegiatan hilir, hulunya yakni koperasi di Jawa Tengah, mengembangkan praktik inovatif. Barulah tahun mendatang aneka praktik itu dipamerkan dalam festival tersebut,” terang Firdaus Putra, HC.

    Pada kesempatan yang sama Bima Kartika, Kabid. Kelembagaan Dinas Koperasi Prov. Jawa Tengah, menyambut baik rencana produksi film tentang blockchain dan IT di Jawa Tengah. “Ini akan menjadi contoh baik bagaimana koperasi bisa mengerjakan bisnis yang lain, tidak tanggung-tanggung, film. Di mana para penonton akan menjadi membernya dengan cara membeli tiket,”papar Bima.

    Berbagai rangkaian kolaborasi itu akan dikerjakan ICCI secara organis. Targetnya, pada 2020 mendatang berbagai inisiasi serta inovasi baru itu bisa dipamerkan di Festival Inovasi Koperasi. “Tentu saja itu adalah pekerjaan yang menantang, bagaimana menyemai virus inovasi ke koperasi-koperasi eksisting yang mungkin telah terbiasa dengan as usually business,” pungkas Novita Puspasari, HC., Komite. Eksekutif ICCI. []

    Telah dimuat di: https://milesia.id/2019/08/13/ica-asia-pasifik-hadiri-fgd-icci-di-purwokerto/

  • Saatnya Inovator Koperasi Berperan

    Selain para aktivis, pengurus dan manajer, kita butuh banyak inovator di gerakan koperasi.  Sebabnya tantangan zaman ini berbeda dengan beberapa dekade lalu. Modus dan model sharing economy atau collaborative economy yang tumbuh selaras dengan ekonomi digital membuat bisnis-ekonomi berubah. Para pakar bilang, disrupsi. Perkembangannya tak lagi bisa dikalkulasi atau diproyeksi secara linier. Banyak perayaan kesuksesan di puncak gunung, namun juga banyak ratapan kegagalan di lembahnya.

    Salah satu tandanya beberapa startup ternyata melahirkan dampak sosial yang besar. Dampak ini bukan sekedar making profit bagi si startup atau deliver benefit bagi user, tapi efek domino dari berbagai value baru yang tercipta. Sebutlah lapangan kerja, peningkatan pendapatan, optimalisasi aset-aset menganggur, efisiensi rantai pasok, peningkatan standar layanan, penciptaan pasar baru dan lain sebagainya.

    Dalam lanskap sosial-ekonomi baru semacam itu, kita sulit mencari presedennya pada dekade yang lalu. Rasanya itu baru kemarin terjadi dan memang demikian, bekerja secara akseleratif. Tentu bukan sekedar glorifikasi buta, boleh jadi model itu salah satu dari the black swan yang sedang dan akan mengubah wajah ekonomi dunia sampai beberapa dekade mendatang.

    Saya lihat tantangan baru seperti itu tak bisa direspon secara linier oleh para praktisi koperasi saat ini. Butuh peran lain untuk menggenapi yang sudah ada, yakni para inovator. Tak berlebihan untuk mengatakan hal itu. Beberapa pakar telah menawarkan proposal yang sama. Eric Ries misalnya menulis The Lean Startup: How Today’s Entrepreneurs Use Continuous Innovation to Create Radically Successful Businesses (2011), yang ditujukan bagi pelaku bisnis eksisting dan pemerintah. Atau penulis lain Dan Toma, Esther E. Gons dan Tendayi Viki menulis The Corporate Startup: How Established Companies Can Develop Successful Innovation Ecosystems (2018). Proposal itu bukan ditujukan kepada pelaku startup, melainkan establish company atau existing business.

    Selain para penulis Barat itu, sinyal yang sama juga dikirim oleh Presiden Terpilih Ir. Joko Widodo lewat pidato politiknya pada 14 Juli 2019 lalu. Beliau memahami betul layar panggung sudah beda dan karenanya kita harus memerankan lakon yang berbeda. Secara lugas Jokowi sampaikan, “Kita harus mencari sebuah model baru, cara baru, nilai-nilai baru dalam mencari solusi dari setiap masalah-masalah yang kita hadapi dengan inovasi-inovasi”.

    Inovator Koperasi

    Pertama kali saya pakai istilah “Inovator Koperasi” dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) tentang Kerangka Kerja Inovasi Koperasi di Indonesia secara Berkelanjutan yang diselenggarakan Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI) di Purwokerto pada 6 Agustus 2019 yang lalu. Forum itu dihadiri multi stakeholder: praktisi koperasi, kampus/ peneliti, komunitas serta pemerintah (Kementerian Koperasi dan UKM, Bappenas, LPDB, Dinas Koperasi).

    Premis yang saya ajukan pada kesempatan itu adalah, “Inovasi tak akan lestari tanpa inovator”. Ada studi kasus menarik bagaimana gerakan Credit Union (CU) di Indonesia telah mengadopi inovasi sebagai pilar keempat gerakan pada tahun 2012 lewat keputusan RATNAS Inkopdit. Yang menarik adalah Robby Tulus telah sampaikan insight tersebut tahun 2011 pada Forum Inkopdit, bertepatan dengan apa yang terjadi di dunia industri bila merujuk rekomendasi Eric Ries di awal tulisan. Sayangnya, pilar inovasi itu nampaknya tak berjalan secara massif dan akseleratif. Boleh jadi sebabnya karena CU abai untuk mencetak para inovatornya.

    Inovasi sebagai praktik yang seringkali terlihat “belum jelas” membutuhkan energi ekstra untuk mengawalnya. Bukan hanya merespon lingkungan yang dinamis dengan aneka pendekatan baru, melainkan juga menghadapi berbagai bottle neck di internal koperasi atau gerakan. Tanpa peran dan dukungan kelembagaan, agenda itu pasti akan menguap ditelan rutinitas dan prioritas bisnis berjalan.

    Para Inovator Koperasi karenanya harus dicetak secara sengaja alih-alih alamiah. Merekalah yang akan menjadi pembawa obor bagi koperasi dan komunitasnya. Sebagai permulaan mereka bisa kita lahirkan dari rahim Akademi Inovator. Mereka bisa berasal dari aktivis, praktisi, akademisi, peneliti atau lainnya. Selepas itu mereka bisa berhimpun bersama di Cooperative Innovation Hub (CIH) atau Simpul Inovasi Koperasi (sekali lagi “simpul”, bukan “pusat”) yang dijangkarkan di kampus-kampus. Baca juga tulisan saya sebelumnya: Membangun Ekosistem Inovasi pada Koperasi.

    Semacam Formula

    Lalu apa yang harus mereka kerjakan? Ini formulanya: (Kolaborasi + Inovasi) x Kecepatan. Kolaborasi menandai pendekatan berbasis ekosistem. Inovator tak harus seorang inventor atau penemu yang soliter berada di laboratorium. Sebaliknya orang yang secara aktif membangun ekosistem lingkungannya (ecosystem enabler). Dalam perjumpaan seperti itulah inovasi dihasilkan sehingga bersifat hadap masalah. Peran kedua adalah mengembangkan aneka inovasi dalam dua dimensi: sustaining innovation bagi koperasi eksisting dan disruptive innovation dengan mengembangkan model baru.

    Kedua peran itu kudu dilakukan dengan ritme kecepatan tertentu. Di sinilah para inovator bisa mengadaptasi pendekatan dan metode bisnis startup seperti yang direkomendasikan Eric Reis dan Dan Toma. Salah satu yang khas dari metode startup contohnya penggunaan Design Thinking, Business Model Canvas dan tersedianya Minimum Viable Product (MVP). Dengan MVP, kecepatan bisa diraih. Aneka metode baru seperti itu perlu diperkenalkan sebagai cara untuk meretas stagnasi berpikir dan berimajinasi.

    Pada awalnya berbagai metode itu mungkin terdengar asing. Namun tak perlu berkecil hati, karena semuanya bisa dipelajari dan akan menjadi terbiasa saat digunakan berulang kali. Agar tidak menimbulkan frustrasi di internal koperasi, para pengambil keputusan (Pengurus dan Manajer Puncak) bisa menyiapkan orang atau tim khusus, sebutlah Tim Inovasi Koperasi. Sehingga berbagai alih pengetahuan-keterampilan baru itu tak akan menganggu ritme organisasi dan bisnis yang sedang berjalan. Tim ad hoc itu langsung bertanggungjawab kepada Pengurus atau Manajer Puncak.

    Tim bisa bekerja dengan mengacu pada Piramida Inovasi yang berisi level inovasi dari yang paling mudah dengan dampak terbatas, sampai yang paling sulit dengan dampak maksimal. Levelnya dari yang termudah: 1. Desain dan Pemasaran; 2. Produk; 3. Pelayanan; 4. Pasar, Pelanggan dan Kanal; 5. Teknologi; 6. Proses Bisnis; 7. Manajemen; 8. Model Bisnis dan 9. Industri. Dan seperti orang bilang, sebaiknya memulai pekerjaan dari yang mudah-mudah. Tujuannya untuk membangun keyakinan bersama (tim dan divisi lainnya) bahwa inovasi itu tak melulu sulit atau rumit. Ada hal-hal yang bisa diinovasi/ disempurnakan/ diperbaiki secara cepat.

    Festival Inovasi

    Berbagai inovasi yang sedang dan telah dikerjakan oleh koperasi dalam satu tahun perlu sekali dipamerkan dalam sebuah festival. Seremoni semacam ini tetap perlu untuk menandai sebuah capaian bersama. Peringatan tahunan Hari Koperasi bisa direka ulang kegiatannya dengan hal ini. Saya ingat Nancy Duarte (2016) pernah menulis dalam Illuminate: Ignite Change through Speeches, Stories, Ceremonies and Symbols, bagaimana membuat seremoni menjadi bagian penting dalam perubahan organisasi.

    Selain untuk merayakan pencapaian, festival itu juga berfungsi sebagai ruang berbagi-pakai wawasan, pengalaman, praktik antar para pelaku. Proses belajar terjadi secara organis yang bisa mempercepat dan memperkaya satu sama lain. Menjadi tidak berlebihan juga bila di Hari Koperasi mendatang perlu kiranya muncul penghargaan dengan kategori baru: Inovator Koperasi, Koperasi Inovatif dan Koperasi Model di samping penghargaan Bhakti Koperasi.

    Seremoni dengan konten yang telah direka ulang itu akan menjadi ruang pembiasaan dan pembudayaan inovasi di gerakan koperasi tanah air. Ujungnya inovasi tak lagi dianggap sebagai barang baru atau hal asing, melainkan menjadi bagian dari dinamika perkoperasian sehari-hari. Hasilnya inovasi akan berjalan secara berkelanjutan (sustainable), memiliki relevansi tinggi karena hadap masalah (problem solving) dan berdampak luas (do and share).

    Just Do It

    Bila kita selenggarakan Akademi Inovator Koperasi tahun ini dengan output 100 inovator, akan lahir berbagai kebaruan di tahun mendatang. Kebaruan-kebaruan itu bisa saja belum memiliki payung hukum atau regulasi. Pemerintah perlu hadir untuk menjamin dua hal: praktik inovasi dapat diselenggarakan koperasi dengan aman dan akseleratif. Dan sisi lain melindungi hak anggota dan masyarakat atas potensi resiko dari suatu inovasi. Perlu dibuat semacam protokol setingkat peraturan menteri agar tak terjadi trade off.

    Keberadaan protokol itu bukan sekedar menjawab kepastian hukum, yang cenderung akan berhati-hati dan akhirnya menghambat, namun harus ditujukan untuk mendorong inovasi terjadi. Sebutlah misalnya pada salah satu isu yang high risk: permodalan. Koperasi harus didorong untuk menginovasi instrumen permodalannya termasuk mekanismenya. Misalnya equity crowd funding dan sejenisnya. Hari ini sangat memungkinkan partisipasi modal itu dilakukan secara online atau digital. Tak perlu tanda tangan basah di atas materai, cukup klik ini-itu di layar ponsel dan terjadi capital in/ out.

    Tapi, kita selalu memahami di mana seringkali praktik terjadi lebih dulu daripada payung regulasi. Kontroversi GoJek beberapa tahun lalu, tentang status sah-tidaknya motor sebagai sarana transportasi publik, adalah contohnya. GoJek telah mengaspal lebih dulu, barulah pemerintah menerbitkan aturan mainnya. Artinya, bagi para inovator, just do it. Soal regulasi biar pemerintah yang memikirkannya untuk kita. Tugas dan peran kita adalah, “… Mencari sebuah model baru, cara baru, nilai-nilai baru dalam mencari solusi …” persis seperti maklumat Jokowi di atas. Saya rasa Menteri Koperasi mendatang harus memahami betul hal itu. Break the rules! []

    Sudah dimuat di: https://money.kompas.com/read/2019/08/12/054000026/saatnya-inovator-koperasi-berperan?page=all

  • Kudus Creative DNA, Rasionalisasi Praktika Koperasi (1 dari 3 Bagian)

    Sebelumnya saya akan mengawali refleksi ini dengan sebuah pernyataan, “Idealisme yang benar-benar ideal hanya ada di atas kertas, sedang masyarakat kita belum pada tahap mau dan mampu menerima “Idealisme”. Sehingga seeksotis apapun sebuah ide jika tidak disertai dengan langkah yang mampu dinikmati dampaknya oleh masyarakat, maka akan menyia-nyiakan waktu kita untuk berhayal terwujudnya utopia”.

    Itulah salah satu benih pemikiran strategis dari lahirnya Kreatif DNA Kudus.CH (Cooperative Hub). Adalah sebuah koperasi penghubung yang belum pernah mendeklarasikan dirinya sebagai koperasi. Kami sendiri belum tahu sampai kapan nama koperasi itu akan kami sembunyikan dari pasar, akan tetapi melihat geliat yang terjadi, sepertinya itu tinggal menunggu waktu. 

    Esensi Perjuangan 

    Sejak awal berdiri pada tahun 2018, yang paling sering dikritisi oleh CDNA adalah gerakan komunitas yang berdarah-darah dalam memperjuangkan kepentingan sosial, akan tetapi hanya berdampak pada sebagian kecil masyarakat, bertahan beberapa tahun lalu komunitas itu mati atau setidaknya vakum dari peredaran alias matisuri. Ada banyak faktor penyebab kematiannya, dari ditinggal nikah penggerak sampai yang paling fatal dialami adalah tidak adanya pendanaan mandiri yang kontinyu, baik pendanaan untuk diri sendiri maupun bagi komunitas. 

    Ada juga kasus di mana komunitas berhenti beroperasi karena kehabisan stok penerus perjuangan. Kami di CDNA mengamini bahwa komunitas adalah sebuah wadah yang mampu memberi solusi detail bagi banyak permasalahan masyarakat. Sayangnya di Kudus sendiri sangat sedikit anak muda yang bergabung dan aktif di dalamnya. Bukan sepenuhnya karena masyarakat tidak paham, akan tetapi bisa jadi komunitas tidak menjalankan strategi pemasaran dalam gerakannya.

    Sebutlah bagaimana produk yang ditawarkan, berapa harga yang harus dibayar, dimana produk dipasarkan dan bagaimana proses kampanye dari produk tersebut serta teknik-teknik lain. Kami mempertebal bahwa apa yang kami sebut pasar bukanlah pasar secara harfiah, akan tetapi adalah sebuah filosofi dari sekumpulan manusia beserta seperangkat kebutuhan yang bermacam. Tugas komunitas adalah menjelma menjadi bagian dari kebutuhan itu.

    Di situlah koperasi kami pandang sebagai salah satu gerakan perjuangan paling realistis dan berdampak karena memiliki tujuan sosial sebagai visi utama serta fondasi pendanaan juga pandangan pasar. Sayangnya di Indonesia sendiri belum banyak role model yang membuktikan hal ini, sehingga CDNA kami rasa perlu dengan sepenuh hati memberikan bukti dari idealisme koperasi. 

    Pendanaan Independen

    Pendanaan adalah salah satu faktor terpenting bagi tumbuh kembang komunitas. Akan tetapi dengan idealisme yang menggebu-gebu, sering kali para pengerak mengesampingkan hal ini. Oke, kita ambil fokus pada proses “Dari mana komunitas mendapatkan dana untuk menopang mobilisasi?”. Paling populer adalah dana hibah perusahaan sedang lainya adalah iuran suka rela anggota. Akan tetapi untuk sebuah agenda besar sudah barang tentu membutuhkan kucuran dana yang sepadan dan rasionalnya “Patungan anggota tidak akan manpu menopangnya”, kecuali jumlah anggota ribuan orang atau anggota terdiri dari kalangan menengah ke atas. Dana menjadi problema klasik bagi komunitas untuk memperbesar dampak sosialnya. 

    Kami di Creative DNA tidak menyalahkan hal itu, hanya saja kami memiliki persepsi lain. Koperasi kami pandang sebagai satu dari jalan rasional dan ideal untuk mewujudkan visi Pemerataan kemajuan, kreativitas dan konektivitas yang kami usung, di mana dalam koperasi untuk mewujudkan kemajuan di aspek sosial, ekonomi serta budaya perlu adanya sebuah unsur bisnis bersama yang nantinya membiayai berbagai misi penyuksesan tujuan. Saya ingin sedikit mengutip pernyataan Suroto, HC., Ketua AKSES Indonesia, “Dari mana modal berasal, ke sanalah nilai tambah kembali”.

    Logikanya adalah jika sebuah komunitas atau organisasi apapun berdiri dari sebuah modal maka ke sumber modallah mengalir keuntungan. Sehingga ketika komunitas atau organisasi ini di modali perseorangan maka ke orang itulah untungnya mengalir dan ketika komunitas atau organisasi ini dimodali secara bersama serta mementingkan kepentingan sosial maka ke arah sosialah keuntungan akan mengalir.

    Tersebut di atas menjadi pertimbangan terbesar kami mengapa Warkoba (usaha yang diinkubasi CDNA) menolak tiga tawaran investasi personal. Selain itu kami tetap tunduk pada prinsip “Fokus pada alur cerita”. Sejak awal berdiri, apa yang diusahakan CDNA adalah sebuah komunitas, organisasi atau apapun dengan basis social capital yang mampu diduplikasi oleh lokal manapun. Maka idealnya CDNA beserta inkubasinya musti konsisten pada budaya gotong royong serta people based bukan capital based.

    Tempo lalu Warkoba kami memperoleh dukungan dari Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI) dengan skema social-crowd lending. Di mana ICCI memobilisasi sekelompok orang untuk meminjamkan dana pribadinya. Skema itu bekerja dengan jalan mengembalikan pokok pinjaman tanpa jasa dalam jangka waktu tertentu, yakni tiga bulan. Dengan dana pinjaman itu kami lakukan renovasi kecil kedai. Menurut saya ini adalah salah satu bentuk gotong royong yang nyata. Bagaimana pinjaman dilakukan dengan rasa percaya satu sama lain. []

    Dikisahkan oleh: Ali Sofyan, HC., Founder Kudus DNA Creative. CH (Cooperative Hub)

    Bersambung Bagian Kedua: Penghijauan Manusia dari Pinggiran.

  • Kolaborasi dengan ICCI, CU Mandiri Gelar Creative Youth Camp

    Credit Union (CU) Mandiri berkolaborasi dengan Indonesian Consortium for Cooperative Innovation (ICCI)selenggarakan Creative Youth Camp. Kegiatan itu diadakan pada 30 April 2019 dengan sasaran kalangan pelajar SMA/ SMK di Probolinggo.

    Kegiatan ini bertujuan untuk menjaring para creative youth leader dari kalangan pelajar. Dengan kurikulum tertentu para peserta dipandu oleh Narasumber dan Fasilitator mencapai pemahaman baru tentang bagaimana membuat perubahan di skala lokal.

    Firdaus Putra, HC., Komite Eksekutif ICCI, menyampaikan tentang potret anak-anak muda di kota lain dan juga luar negeri yang membuat perubahan (changmaker). “Mereka usianya relatif muda semua, bahkan lebih muda daripada Anda semua. Ada yang baru 11 tahun, 14 tahun juga yang 16 tahun. Namun mereka telah membuat perubahan di areanya masing-masing”, tegasnya.

    Dengan metode empat lingkaran warna: Biru (Rasa), Kuning (Cipta), Merah (Karsa) dan Hijau (Karya), peserta diajak mengenali berbagai isu di lingkungannya. Lebih dari itu, mereka juga diajak untuk mengeksplorasi solusi bagi masalah itu. “Sekarang tulis di stick it note lima ide bagi lingkungan sekitar kalian”, seru Fasilitator.

    Gagasan kreatif-solutif diberikan studi kasus nyata oleh Kemal Khairurrahman, HC., Founder Tuban Creative Hub dan Regional Hub ICCI. Dengan video-video pendek, ia kisahkan bagaimana Tuban Creative Hub memberi dampak ke masyarakat. “Kami buat Tuban Hujan Bimtek. Bimtek ini isinya pelatihan life skill. Kami buat 20 kali dalam satu bulan dan itu cuma-cuma”, terangnya. Berbagai Bimtek itu ditujukan bagi komunitas anak muda dan masyarakat umum.

    Dalam kesempatan itu Kemal jelaskan bagaimana sebuah creative hub bekerja. “Teman-teman akan menjadi engine atau motor penggeraknya. Yang perlu pertama dilakukan adalah melakukan pemetaan talenta. Lalu kemudian mengolaborasikan satu dengan yang lain”, sambungnya.

    Pada sesi berikutnya peserta diminta memilih dari lima ide yang ditulis menjadi tiga ide saja. Setelah mereka melihat studi kasus tentang apa-apa yang bisa dikerjakan creative hub, mereka memperoleh insight baru untuk menyeleksi dari lima menjadi tiga ide perubahan.

    Kegiatan itu diikuti oleh 70 pelajar SMA/ SMK dengan berbagai latar  belakang. Kegiatan dimulai pada pukul tiga sore. Namun antusiasme dan materi yang menantang, membuat mereka tak merasa lelah meski sampai larut malam.

    Pada sesi akhir, peserta diminta memilih dari tiga ide menjadi satu ide. Mereka harus memilih dengan menimbang beberapa hal: Ide mana yang paling disukai; ide mana yang paling memberi dampak; Ide mana yang paling mungkin dikerjakan dengan pertimbangan aktivitas masing-masing; Dan ide mana yang paling mungkin didukung berbagai pihak. “Sekarang pilih satu saja, beri nama proyek sosial itu yang kreatif dan jangan lupa tentukan targetnya, munculkan angkanya”, pandu Fasilitator.

    Proses selama lima jam itu terbilang sukses. Pada penutup, 10 peserta dipersilahkan untuk mengisahkan proyek sosialnya. Ada yang melontarkan ide tentang memberdayakan petani jagung di desanya, ada juga ide tentang bersih sungai, membuat kerajinan dari sampah dan lain sebagainya. “Melihat latar belakang mereka masih SMA, ide-ide mereka keren sekali”, terang Pengurus CU. Kegiatan dimeriahkan dengan berbagai dorprize. Tak ketinggalan bagi 10 peserta yang berani presentasikan proyek sosialnya. Lalu Panitia mengumumkan nama-nama peserta yang terpilih menjadi engine/ motor penggerak bagi Sakti Creative Hub Probolinggo. Merekalah yang akan mengaktivasi creative hub di sana. []

  • Perlunya Menyegarkan Tampilan Buku LPJ Koperasi, Laporan Hasil Jajak Pendapat

    Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI) satu minggu yang lalu selenggarakan jajak pendapat tentang format buku Laporan Pertanggung-jawaban (LPJ) Pengurus dan Pengawas  koperasi. Jajak pendapat itu dilakukan secara online dengan Google Form di mana link disebarluaskan melalui berbagai Grup Whatsapp.

    Hasilnya, ada 97 responden yang mengikuti jajak pendapat. Mereka tersebar di beberapa kabupaten di 13 provinsi berbeda, yakni Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Sumatera Utara, Jakarta, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara, Jambi, Bangka Belitung dan Sulawesi Tengah. Di mana 63% mengatakan koperasinya telah berdiri lebih dari 10 tahun, 24% berdiri 1-5 tahun dan sisanya 6-10 tahun.

    Sebanyak 9 dari 10 orang menganggap bahwa format tampilan LPJ itu penting (23%) dan sangat penting (67%). Jawaban itu telah mengonfirmasi hipotesis jajak pendapat ini, bahwa tampilan LPJ itu, di luar isi laporannya, penting diperhatikan. Sebab, pertama-tama anggota melihat format tampilannya. Bila menarik, maka mereka akan membacanya dengan antusias, intensif dan serius. Hasilnya adalah anggota lebih tahu dan paham bagaimana kondisi koperasinya, capaian-capaiannya dan lain sebagainya.

    Sebagian besar responden setuju bahwa tampilan LPJ yang menarik bisa mendorong anggota koperasi untuk menyimak atau membacanya lebih intensif. Ada 94% mengatakan hal yang sama. Artinya 9 dari 10 orang responden setuju, tampilan LPJ yang bagus berpengaruh terhadap intensitas anggota membacanya. Hal ini terkonfirmasi pada pertanyaan yang berbeda yakni, “Menurut Anda, apakah anggota perlu menyimak LPJ?”, 94% mengatakan, iya.

    Rata-rata halaman LPJ mereka terdiri dari 10-30 halaman, sebanyak 43%. Disusul kemudian 31-50 halaman sebanyak 29%, 51-80 halaman sebanyak 16% dan sisanya yakni dengan jumlah lebih dari 80 halaman. Meski berbeda-beda tebal-tipisnya, sebagian besar responden menjawab bahwa LPJ adalah salah satu media edukasi anggota. Sebanyak 98% responden mengatakan demikian.

    ICCI menyelenggarakan jajak pendapat ini untuk merangsang koperasi-koperasi melakukan inovasi dari hal yang paling kecil. “Salah satunya dengan menyegarkan format tampilan LPJ. Sekarang zamannya infografis. Orang terbiasa melihat aneka ornamen visual daripada sekedar angka dan huruf”, kata Firdaus Putra, HC., Komite.

    Pada jajak pendapat itu ICCI memberikan contoh laporan dengan format infografis. Sebagian besar responden memandangnya secara positif. Mereka menilai format itu sangat menyenangkan dilihat, sebanyak 66%. Kemudian 17% mengatakan asik dan sisanya mengatakan: membingungkan (12%), kaku dan membosankan.

    Ketika giliran ditanya bagaimana mereka menilai buku LPJ koperasinya, 72% responden mengatakan: membosankan (28%), kaku (35%) dan membingungkan (9%). Buku LPJ mereka lebih banyak berisi tabel dan angka serta teks.

    Sisanya, yakni 28% mengatakan bahwa format buku LPJ di koperasinya asik dan menyenangkan untuk dibaca. Format yang menyenangkan ini berisi paduan teks, gambar, diagram dan tabel, atau yang secara umum disebut sebagai infografis.

    Di bagian akhir jajak pendapat, ICCI memberikan template LPJ yang menarik berbasis PowerPoint. Template itu bisa mereka sunting sesuai dengan struktur isinya. Dan juga template itu bisa dibagi dan disebarluaskan kepada koperasi lain yang membutuhkan.

    ICCI mengungkapkan bahwa menyegarkan tampilan buku LPJ ini adalah salah satu dari banyak aktivitas di koperasi  yang bisa disegarkan atau diinovasi. Artinya suatu hal memiliki 1001 peluang ditemukannya atau dikerjakan dengan cara, metode atau pendekatan baru. “Penyegaran tampilan buku LPJ ini hanya contoh atau eksemplar. Selebihnya kembali ke Pengurus dan Pengelola koperasi untuk menemukan 1001 cara baru lainnya. Tentu cara-cara yang dapat meningkatkan nilai tambah, manfaat, kinerja dan indikator lainnya”, ungkap ICCI. []

    Unduh Template LPJ Koperasi Gaya Baru:

    Pengantar      :   https://bit.ly/2P38Xru atau klik di sini

    Bagian 1         :   https://bit.ly/2Z4AiOM atau klik di sini      

    Bagian 2         :   https://bit.ly/2v0iFl6 atau klik di sini

    Font 1             :   https://bit.ly/2r8ZROu atau klik di sini

    Font 2             :   https://bit.ly/2k8RBOF atau klik di sini

    Harap diunduh semua.  Semoga bermanfaat.

    Sumber: http://inovasikoperasi.id/2019/04/11/perlunya-menyegarkan-tampilan-buku-lpj-koperasi-laporan-hasil-jajak-pendapat/

  • Startup Coop Camp Yogyakarta, Sukses!

    Startup Coop Camp Batch 2 telah diselenggarakan pada 28-31 Maret 2019 lalu di Yogyakarta. Rangkaian kegiatan dilaksanakan semalam empat hari penuh yang berisi: talkshow, pelatihan dan lokakarya. Sedikitnya 60 peserta terpilih dari 235 pendaftar mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai. Mereka berasal dari Jawa Tengah, Yogyakarya, Jawa Barat, Jakarta, Jawa Timur, Lampung dan Lombok.

    Kegiatan itu diprakarsai oleh Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI) bekerjasama dengan Kementerian Koperasi dan UKM RI Deputi Bidang SDM. Dibantu oleh organisasi lokal, Kopindo Wilayah DIY, keDATA dan Credeva, kegiatan itu berjalan dengan sukses. 

    Seperti Batch 1 Purwokerto, kelas dibagi menjadi dua: Founder Startup dan Pemuda Koperasi. “Tujuannya mengenalkan koperasi bagi para pelaku startup dan mengenalkan model startup bagi pelaku koperasi. Tentu saja harapannya agar bisa hasilkan model baru, yakni startup coop atau startup berbasis koperasi”, terang Hizkia Yosias Polimpung, Komite Eksekutif ICCI.

    Kegiatan itu juga dipantau oleh Bappenas Bidang Koperasi dan UKM yang mengirim delegasi untuk melihat bagaimana kelas berlangsung. Tujuannya untuk memperoleh gambaran lapangan bagaimana model koperasi baru ini diperkenalkan khususnya kepada generasi milenial. Sehingga di masa mendatang model bisnis koperasi bisa berkembang, tak melulu konvensional sebagaimana puluhan tahun lalu.

    Pengayaan proses dilakukan pada angkatan kedua ini yakni dengan menyilangkan peserta startup dengan koperasi pada sesi praktikum. Hal ini bertujuan agar para pemuda koperasi bisa langsung memahami cara berpikir dan merespon pelaku startup dan sebaliknya. Seluruh peserta pada rentang usia yang sama, sehingga pada sesi itu mereka dapat belajar antar teman sejawat (peer group learning). 

    Untuk mempercepat pemahaman dan membangun personal bonding, mereka juga disilang-silangkan saat pembagian kamar. Panitia berharap dengan cara itu satu sama lain bisa membangun koneksi personal dan terjadinya peluang kolaborasi yang lebih berkelanjutan. “Awal mulanya pasti hubungan personal, lama kelamaan menjadi kolaborasi”, terang panitia. 

    Kegiatan itu dibuka oleh Kementerian Koperasi dan UKM RI yang mengundang juga Dinas Koperasi Prov. DIY. Disusul kemudian adalah talkshow success story pengembangan koperasi dan startup oleh Suryo Hadiyanto, Ketua Koperasi KISEL dan Azmiansah, Pelaku Startup di Indonesia. Mereka berdua membagi kisah suksesnya mengelola bisnis masing-masing. Dari mereka peserta belajar bagaimana sukses itu tak bisa diraih dengan cara instan, meskipun itu startup. Azmi, demikian akrab disapa, menekankan bahwa startup harus siap dengan serial kegagalan dan aneka lika-likunya.

    Totalnya ada 14 pembicara, pelatih dan fasilitator yang membuat kegiatan itu menjadi kaya isi dan makna. Ditambah kegiatan dilaksanakan mulai pukul delapan sampai sepuluh malam. Meski demikian peserta tetap mengikuti dengan semangat penuh karena materi dan pemateri yang menantang. Pada sesi penutupan, peserta diberikan merchandise berupa buku serial bisnis startup dan pengembangan manajemen/ bisnis. Tujuannya sekaligus untuk meningkatkan budaya literasi di generasi milenial. “Ditambah, startup itu adalah bisnis dengan tingkat inovasi tinggi, membaca adalah keharusan untuk memperoleh insight-insight baru”, ujar Hizkia. []

  • Start Up Coop Camp II Digelar di Jogja

    Setelah sukses dengan Start up Coop Camp (SCC) Batch I di Purwokerto 8-10 Februari lalu, Startup Coop Camp Batch II  bakal dihelat di Yogyakarta,  28-31 Maret 2019. Menjaring 60 peserta dari kalangan Founder Startupdan Pemuda Koperasi, diisi dengan serial workshop, talkshow dan seminar berbobot. SCC Batch II diselenggarakan oleh Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI) bekerjasama dengan Kementerian Koperasi dan UKM Deputi Bidang SDM.

    Ekonomi berbasis digital yang terus tumbuh perlu diadaptasi jika tak ingin terdisrupsi. Belakangan, milenial pegiat koperasi di sejumlah kota mulai mencoba berjejaring membangun ekosistem baru yang lebih segar dan ramah teknologi digital. Aktivisme mereka mengerucut pada tiga kata kunci : coop platform , coop start up, dan worker coop.

    Lebih luas dari sekedar koperasi go online, coop platform ditawarkan sebagai respons tren collaborative economy  yang lebih dulu menggejala lima tahun terakhir. Bagi pengusung coop platform, praksis collaborative economy yang diterapkan Gojek, Grab, AirBnB, hingga marketplace berlevel unicorn, misalnya, dinilai belum merepresentasikan spirit koperasi.

    Coop platform, diandaikan laiknya Gojek atau Bukalapak dengan kepemilikan multi pihak  dalam satu platform. Tidak ada dominasi atas platform mengacu pada besaran kepemilikan modal individual atau kelompok elit, dan minus hak veto.

    Kecenderungan platform atau marketplace konvensional, adalah akumulasi profit yang njomplang  dan menguntungkan pemilik platform. Adapun provider serta user melulu sebagai komoditas. Coop Platformdiposisikan untuk meretas hal itu.

    Lalu coop start up, merupakan respon kooperatif atas gairah pendirian bisnis rintisan (start up) yang cenderung privat dan fragmentatif. Antusiasme pendiriannya memang membuncah. Bisnis start up tanah air tercatat terbesar di Asia Tenggara dengan lebih dari duaribu unit. Masuk peringkat kelima dunia setelah AS, India, Kanada, dan Inggris. Coop Start up menawarkan solusi pasar, inovasi, dan peluang scaling up dengan model bisnis kolaboratif.

    Dalam Star Up Coop Camp Batch I yang dihelat di Purwokerto, Februari lalu, diulas model-model worker coop, coop platform, dan coop start up yang masih relatif baru di kalangan pegiat koperasi dan publik umum. Saat itu,  hadir 45 peserta dengan beragam latar belakang dari Jakarta,  Bekasi, Lampung, Tasikmalaya, Tuban, Kudus, Yogyakarta dan Purwokerto.

    Dalam Coop Camp Batch II di Jogja kali ini, Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI) kembali berkolaborasi dengan Kementerian Koperasi dan UKM. Diorganisir oleh InnoCircle Initiative, sebuah lembaga inkubator startup coop.

    Persyaratan dan pendaftaran bisa dikulik di: http://bit.ly/startupcoopcampbatch2  (sebelum 26 Maret 2019)

    Sumber: http://milesia.id/2019/03/15/yuk-ikuti-start-up-coop-camp-ii-di-jogja/

  • MoU dengan Unsoed Kawal Inovasi Koperasi

    Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) resmikan gedung baru laboratorium FEB setinggi tujuh lantai. Dalam kesempatan itu dilakukan penandatanganan MoU kerjasama dengan berbagai pihak. Dalam momen itu Indonesian Consortium for Cooperative Innovation (ICCI) juga teken MoU. Kegiatan dilaksanakan di Lt. 6 Laboratorium FEB pada 20 Februari 2019.

    Agenda kerjasama yang didorong ICCI adalah inovasi koperasi dengan cara membentuk Cooperative Innovation Hub (CIH) di laboratorium tersebut. Penandatanganan dihadiri dan disaksikan oleh Bapak Untung Tri Basuki dari Bidang Kelembagaan dan Bapak Hariyanto dari Bidang SDM Kementerian Koperasi dan UKM RI.

    CIH merupakan simpul inovasi koperasi yang tujuannya untuk mengembangkan berbagai inovasi perkoperasian di tiap regional. Sebagai simpul, CIH akan diisi oleh berbagai lembaga seperti: organisasi gerakan koperasi (Dekopinda/ Wil), lembaga inkubator, institut/ peneliti koperasi, Dinas Koperasi dan pihak-pihak lainnya. Sebagai simpul, CIH dikelola secara kolaboratif yang dipimpin oleh Laboratorium Koperasi suatu kampus.

    Sedianya MoU diteken oleh Dr. Hizkia Yosias Polimpung sebagai salah satu Komite Eksekutif ICCI, yang juga adalah Akademisi Universitas Bhayangkara Jakarta. Sayangnya karena ada agenda mendesak kemudian diwakili oleh Firdaus Putra, HC, Komite lainnya. Dari Universitas Jenderal Soedirman MoU langsung diteken oleh Prof. Suwarto, Rektor Periode 2018-2022.

    Dalam kesempatan itu Rektor menyampaikan, “MoU ini harus ditindaklanjuti dengan kontrak kerjasama (PKS) yang lebih detail sehingga operasional. Harus kita kejar satu tahun ini semuanya bisa berjalan”, terangnya. Rektor menyampaikan terimakasih kepada berbagai pihak yang telah terlibat dalam pengembangan Tri Darma Perguruan Tinggi melalui laboratorium FEB ini.

    Selepas kegiatan itu, Kementerian Koperasi, ICCI dan Dekan FEB Unsoed melakukan rapat pendahuluan. Prof. Suliyanto, Dekan FEB menyampaikan, “Kami apresiasi kerjasama untuk mengembangkan dan mengoptimalkan laboratorium ini. Kami berharap nanti berbagai kegiatan kerjasama ini dapat libatkan sebanyak mungkin mahasiswa”, ujarnya.

    Sedangkan Bapak Untung Tri Basuki menyampaikan mengenai pentingnya perguruan tinggi/ kampus terlibat dalam agenda inovasi. “Inovasi ini kan pasti diawali dengan riset. Nah, itulah di situlah peran kampus yang isinya pada akademisi dan peneliti. Sehingga berbagai inovasi yang dilakukan itu sesuai dengan kebutuhan nyata koperasi”.

    Para pihak sepakat untuk mengawal pendirian CIH ini dan diupayakan agar bisa launching saat peringatan Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) 2019 yang kebetulan diselenggarakan di Purwokerto. []

  • ICCI Serukan Agenda Inovasi di Silaturahmi Koperasi Besar Indonesia

    Ada tiga puluh koperasi dan lembaga yang diundang dalam silaturahmi berkala besar pada 13 Februari 2019. Sebutlah beberapa koperasi skala besar seperti Koperasi KISEL dengan aset 6 trilyun, Koperasi Kredit Lantang Tipo, Koperasi Kredit Pancur Kasih, Induk Koperasi Wanita Pengusaha Indonesia (INKOWAPI) dan puluhan lainnya. Silaturahmi itu digagas untuk membangun kolaborasi antar koperasi besar di Indonesia.

    Firdaus Putra, HC. dan Novita Puspasari, HC., Komite Eksekutif ICCI menghadiri Silaturahmi Koperasi Besar yang digagas oleh Deputi Kelembagaan Kementerian Koperasi dan UKM RI. Silaturahmi itu diselenggarakan di Ruang Rapat Deputi Kelembagaan di bilangan Jl. Rasuna Said, Jakarta.

    Dalam kesempatan itu Prof. Dr. Rully Indrawan menyampaikan tentang capaian koperasi Indonesia saat ini. Di sisi lain juga menyampaikan beberapa tantangan strategis mendatang. Ia menggarisbawahi beberapa hal, “Koperasi saat ini berada di lingkungan strategis yang berubah cepat. Karenanya untuk berkompetisi dengan pelaku bisnis lainnya, koperasi butuh citra positif yang dikerjakan bersama. Sehingga lewat silaturahmi ini, penting dibangun kolaborasi lintas gerakan koperasi untuk meningkatkan kontribusi koperasi bagi pembangunan ekonomi nasional”, terangnya membuka kegiatan.

    Pada kegiatan itu, Firdaus Putra, HC., menyampaikan beberapa hal, “Kami bicara soal masa depan, bukan masa lalu. Bahwa tantangan di masa mendatang lebih besar. Apa yang perlu didorong adalah agenda inovasi di gerakan koperasi. Hal inilah yang kita lupakan puluhan tahun yang lalu. Riset dan Pengembangan kita miskin, termasuk pengembangan model bisnis. Hasilnya, sebagian besar model bisnisnya konvensional”, ujarnya.

    Menurut Firdaus, inovasi di koperasi itu bisa dilakukan dalam beragam dimensi. Mulai dari kelembagaan, tata kelola, pemasaran, permodalan, layanan/ produk, keanggotaan dan adopsi teknologi. Bahkan, masih menurutnya, pada hal-hal yang lebih detail lagi seperti model bisnis, proses bisnis, metode kerja dan lainnya. “Dengan cara begitu barulah kita bisa menyegarkan koperasi, sehingga otot-otot kita siap merespon era Industri 4.0 ini”, sambungnya.

    ICCI juga menyampaikan agar koperasi-koperasi besar mulai aware dengan tumbuhnya startup digital. Melalui forum itu, ICCI mendorong agar koperasi besar mau menjadi angel investor bagi mereka. “Banyak startup di luar sana. Peluang itu harusnya diambil oleh koperasi-koperasi besar sebagai angel investor. Sehingga para startup itu masuk ke dalam ekosistem gerakan kita. Bukannya ekosistem yang kapitalistik. Saya pikir semua yang ada di ruangan ini memiliki cukup sumberdaya untuk melakukan itu”, sambungnya.

    Firdaus juga melaporkan bahwa ICCI telah memulai kerja inovasi itu dengan melakukan inkubasi beberapa model baru, yakni startup coop dan worker coop. Salah satu bentuknya adalah melalui Startup Coop Camp bekerjasama dengan Kementerian Koperasi dan UKM Bidang SDM. “Alhamdulillah kemarin kami hadirkan dua investor dari gerakan koperasi: PT. SKK (Konsorsium Koperasi) dan INKOWAPI. Kemudian ada lima startup coop yang akan memperoleh investasi awal”, lanjutnya.

    Dalam kesempatan itu Koperasi KISEL hadir menyampaikan tentang program yang bica dikerjasamakan, yakni sebuah platform payment gateway yang bisa digunakan oleh berbagai koperasi. Presentasi selanjutnya dibawakan oleh Koperasi USB yang menyampaikan inovasi Rapat Anggota Online berbasis website. Pada kesempatan itu juga didemonstrasikan platform untuk melakukan Rapat Anggota Online tersebut. Harapannya inovasi itu bisa ditiru oleh koperasi lainnya. “Bila bapak-ibu menginginkan, bisa menggunakan platform RAT Online kami secara cuma-cuma”, terang Pengurusnya.

    Kegiatan itu juga dihadiri oleh Irsyad Muchtar, Sekjend Forum Koperasi Besar Indonesia dan Penulis Buku 100 Koperasi Besar Indonesia. Dalam kesempatan itu ia menyampaikan perlunya koperasi besar kolaborasi untuk membangun suatu proyek mercusuar. Ia lempar gagasan untuk membangun Cooperative Tower yang gedung dan sahamnya dimiliki oleh koperasi.

    Pada sesi terakhir, Neddy Rafinaldy, Sekjend Dekopin, menyampaikan tentang agenda perayaan Hari Koperasi Nasional (Harkopnas). Kegiatan utamanya akan dilaksanakan di beberapa kota: Makassar, Jakarta dan puncaknya di Purwokerto. “Kami berharap agar semua koperasi besar ikut menyemarakkan perayaan tahunan tersebut. Kami juga bekerja keras untuk membuat perayaan ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya”, terangnya. []