• Modernisasi Koperasi, Begini Saran ICCI untuk Kemenkop-UKM

    Guna mengembangkan koperasi dan UMKM di Indonesia, Indonesian Consortium For Cooperative Innovation (ICCI) menawarkan konsep startup coop dan koperasi platform kepada Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki.

    Ketua Komite ICCI (Indonesian Consortium For Cooperative Innovation) Firdaus Putra setelah pertemuan dengan Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki di Kantor Kementerian Koperasi dan UKM Jakarta, Jumat (15/11/2019), mengatakan ICCI adalah lembaga yang sangat concern pada perkembangan perkoperasian di Indonesia. 

    “Kami silaturahmi dengan Pak Menteri untuk menyampaikan beberapa rekomendasi serta insight terkait dengan modernisasi koperasi secara umum,” katanya dalam keterangan tertulis yang Warta Ekonomi terima.

    Bersama jajarannya, pihaknya menyampaikan beberapa hal di antaranya pertama koperasi-koperasi eksisting dinilai perlu terutama untuk yang sektor keuangan bergerak ke arah teknologi finansial.

    “Ini agar koperasi tidak ketinggalan zaman dan bisa merespon kebutuhan anggota hari ini dengan cepat. Koperasi-koperasi harus sudah hadir di ponsel anggotanya masing-masing untuk layanan-layanannya entah itu yang paling sederhana cek saldo kemudian sudah transaksi keuangan,” katanya.

    Ia juga menyampaikan kepada Teten Masduki bahwa milenial perlu dirangkul terutama para start up dan para jenius kreatif anak bangsa untuk terjun ke dalam gerakan koperasi. 

    “Caranya lewat start up coop, modelnya sudah kami laksanakan dua tahun terakhir dan kemudian hari ini mulai terlihat polanya seperti misalnya salah satu tenant kami di Purwokerto kemudian ada di Lampung, Kudus, Bali, dan provinsi lain,” katanya.

    Dengan cara begitu kata dia, milenial-milenial bisa masuk ke gerakan koperasi secara jangka panjang sekaligus juga meregenerasi koperasi sehingga wajahnya lebih “fresh” dan muda. 

    “Karena SDM koperasi hari ini mengalami sindrom penuaan rata-rata 60-70 persen ini sudah old yang membuat juga yang muda-muda antipati, dan menganggap koperasi sebagai gerakan yang jadul. Start up coop ini menjadi salah satu wadah yang menarik untuk diperkenalkan kepada mereka,” katanya.

    Pengalaman ICCI saat membuat camp di 6 provinsi terbilang cukup mendapatkan respon yang baik dari generasi milenial dimana slot 40 orang justru pendaftarnya membludak menjadi 200 orang.

    Kuncinya, kata dia, gunakan kata menarik misal coop bukan dengan menggunakan kata koperasi. “Itu sangat teknis tapi ternyata sangat berpengaruh, maka akhirnya kita sebut sebagai coop camp,” katanya.

    Koperasi Platform

    Selain startup coop, ICCI juga menawarkan konsep koperasi platfom kepada Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki.

    Belum lama ini tepatnya pada 7-9 November 2019 digelar Konferensi Koperasi Platform Dunia di New York, Amerika Serikat. Di dunia ini pergerakan koperasi platform telah berjalan sekitar 4 tahun terakhir.

    “Sudah ada yang running well, ada yang baru inkubasi kemudian kita ingin coba hadirkan di Indonesia koperasi platform. Koperasi ini anggotanya sudah multipihak jadi misalnya founder-nya, para mitra yang terlibat lalu user-nya. Contoh Gojek berarti dimiliki oleh founder, mitra driver, dan juga user-nya. Itu adalah skema dari koperasi platform. Indonesia belum punya,” katanya.

    Ia menyadari ada tantangan dari sisi regulasi dan permodalan tetapi toh ia berpendapat selama 72 tahun koperasi di Indonesia belum ada perkembangan yang signifikan.

    “Toh kemudian ada praktik di negara lain yang berhasil paling tidak ya kita bisa bikin karena negara lain berhasil,” katanya.

    Ia mengakan dua konsep yang ditawarkan seiring dengan lima program strategis Menteri Koperasi dan UKM dalam hal inovasi.

    “Pak Menteri sudah memberikan komitmen dan mengajak kami masuk dalam tim untuk merumuskan bersama-sama action plan, saya pikir tahun depan kita bisa menciptakan model kemudian meningkatkan keinovasian koperasi di Indonesia. Kenapa tidak mencoba hal baru, yang kami dorong ya itu kita 72 tahun koperasi begini-begini saja. Kenapa tidak mencoba hal baru,” katanya.

    Menanggapi hal itu Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menyatakan apresiasi dan dukungannya terhadap dua konsep yang ditawarkan sebagai salah satu strategi untuk melakukan rebranding koperasi di kalangan milenial.

    Teten bahkan meminta kepada ICCI untuk menyusun rencana aksi yang lebih detil agar konsep tersebut bisa dijabarkan menjadi program dan kebijakan yang lebih taktis. []

    Sumber: https://www.wartaekonomi.co.id/read256890/modernisasi-koperasi-begini-saran-icci-untuk-kemenkop-ukm.html/3

  • Bagaimana Koperasi Platform di Dunia? Simak Kisah ICCI dari Amerika

    Indonesian Consortium for Cooperative Innovation (ICCI) pada tanggal 7-9 November 2019 lalu diundang untuk menjadi salah satu pembicara dalam konferensi bertajuk “Who Owns The World: The State of Platform Cooperativism” yang diadakan di The New School University, New York. ICCI diwakili oleh komite eksekutif, Novita Puspasari. Konferensi ini diadakan oleh Platform Cooperativism Consortium (PCC) bekerjasama dengan Institute for Cooperative Digital Economy, The New School University, New York.

    Pembicara dalam sesi “Global Movement Updates” berasal dari 8 negara yang merupakan akademisi dan praktisi koperasi di negaranya masing-masing. Kedelapan pembicara tersebut adalah: Jack Linchuan Qiu (Professor China University of Hong Kong), Osamu Nakano (direktur Japan Cooperative Alliance), Ela Kagel (founder Supermarkt Jerman), James De Le Vingne (Head of Cooperative UK), Mario De Conto (Professor Cooperative Law, Italy), Martijn Arets (Belanda), Novita Puspasari (ICCI, Indonesia), Vanni Rinaldi (Italia), Lisa Pointner dan Sabine Kock (Austria). 

    Sesi ini dimoderatori oleh Professor Trebor Scholz yang sekaligus merupakan direktur Platform Cooperativism Consortium dan Institute of Cooperative Digital Economy. Setiap pembicara menceritakan tentang perkembangan koperasi platform di negaranya masing-masing. Di beberapa negara, koperasi telah mentransformasikan model bisnisnya untuk beradaptasi dengan perkembangan ekonomi digital, tak terkecuali di Indonesia. 

    Dalam kesempatan itu ICCI bicara mengenai perkembangan koperasi model baru, koperasi startup di Indonesia sekaligus usaha-usaha yang telah dilakukan oleh para pegiat koperasi di Indonesia untuk membangun ekosistem inovasi koperasi di Indonesia sebagai salah satu usaha mereformasi koperasi. Beberapa hambatan yang dihadapi di lapangan tidak menyurutkan para pemangku kepentingan yang tergabung dalam ICCI untuk terus melakukan terobosan-terobosan baru untuk koperasi Indonesia. 

    Upaya-upaya yang dilakukan telah menampakkan hasil melihat begitu tingginya antusiasme anak muda untuk mengikuti Startup Coop Camp yang telah dilakukan dalam 4 batch bekerjasama dengan Kementerian Koperasi dan UKM Republik Indonesia. Ekosistem inovasi koperasi pun perlahan mulai terwujud di Indonesia dengan munculnya beberapa inkubator bisnis lokal seperti Innocircle Initiative di Purwokerto yang melahirkan beberapa koperasi startup, Cooperative Innovation Hub (CIH) yang bekerja sama dengan perguruan tinggi-perguruan tinggi di tingkat regional. 

    Di akhir sesi, Trebor Scholz mengajak seluruh peserta konferensi yang berasal dari seluruh dunia untuk bersama-sama dalam gerakan global dalam membangun ekosistem koperasi model baru (seperti koperasi platform) sebagai kontra ekosistem platform kapitalis yang saat ini mendominasi. Platform kapitalis, lanjut Trebor, tidak transparan dan berkeadilan bagi para pekerjanya dan justru membuat ketimpangan ekonomi semakin tinggi.

    Hasil konferensi tahun ini menunjukkan bahwa kendala koperasi platform di hampir semua negara nyaris sama, regulasi dan modal. Oleh karena itu, tahun depan konferensi ini akan mempertemukan koperasi-koperasi platform yang potensial dengan angel investor yang berasal dari kalangan koperasi agar tercipta circular economy untuk tetap menjaga demokrasi ekonomi. []

    Lebih dari 50 Materi Paparan dari Berbagai Negara/ Panelis, sila unduh di sini:

    Makalah ICCI (Inggris) 

    Makalah ICCI (Indonesia) 

    Presentasi dari Peserta Lainnya:

    https://drive.google.com/drive/folders/1u3lC0m2gFAA3nYH2BF240Ny1BK23bcUK

    https://drive.google.com/drive/folders/11_T1kunSJXCiT8SvrPZk7t8ErPzbVrKl

    https://drive.google.com/drive/folders/1EMpVJfrM9jKukNQG0G31Fs6aFE3inN5T

    https://drive.google.com/drive/folders/1cXVKeAR4RviEe0QSrRDdtMXy33BBmPwm

    https://drive.google.com/drive/folders/1oB8vZKs9U_zO6g2h8ZAYSXSta7fxG9Mp

    https://drive.google.com/drive/folders/1nKlRdi0KIh0G0kMeeNG4tj4xMsmVGSYK

    https://drive.google.com/drive/folders/1B0fIpa29G2Ty4eHdTEnzzgrc6G2tB6bk

    https://drive.google.com/drive/folders/1joBWl5UgKNrP_2kI2cBHpYT4vx8TpZmX

    https://drive.google.com/drive/folders/1VAo4vFeOlgcjcfigQAyKYjotyAErzb-8

    https://drive.google.com/drive/folders/19eF52RUaaahtBVxyfhKoRjCE2mk8O5TZ

    https://drive.google.com/drive/folders/1kklPMgXfOYcjn52dC1cYeD_oDjJ_WQ4Y

    https://drive.google.com/drive/folders/1YeHWDrPSZt0Wn6pop4f3x5VXNcLhyTEo

    https://drive.google.com/drive/folders/17hGIHFAeeEudq_wsfHVcnNGhhwH4wYGa

    https://drive.google.com/drive/folders/1nOpMOtYvIUJ0AsgTofNCQXxRuGGGpxS-

    https://drive.google.com/drive/folders/16TB-CtmyjMhGULtaHzGsW34ZLxf8edTu

    https://drive.google.com/drive/u/0/folders/1f-eNaGbsqbVZ8JRp5QgJjXSn-AC-Mcke

    https://drive.google.com/open?id=16lGkeB7rIt9DselLeQDjV0mAqcZdnxKH

    https://drive.google.com/open?id=16TJn7ApyqgEqYkc0gRdNhJdGhScgxflR

  • Launching Siger Innovation Hub

    Siger Innovation Hub bekerjasama dengan Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI) dan Kopdit MekarSai menggelar acara “Sosialisasi Kolaborasi Ekosistem Startup dan Koperasi serta Siger Innovation Hub”, Minggu (3/10/19).  Acara yang ditujukan kepada para founder startup dan generasi 

    milenial yang akrab dengan model business startup dilaksanakan di Kopdit Mekarsai dengan menghadirkan Firdaus Putra, HC. Board of ICCI dan Haryono Daud (Ketua CU Mekarsai) sebagai narasumber. Acara ini diharapkan dapat  mempercepat perkembangan startup di Lampung melalui kolaborasi.

    Kedua narasumber memberikan pemahaman terkait koperasi dan cara mengembangkan startup -startup yang ada di Lampung melalui bantuan mentor berpengalaman di bidangnya. “Dalam startup perlunya mendekati user dan mitra, hal ini bisa disiasati dengan bantuan mentor-mentor yang berpengalaman agar startup bisa jalan dan berkembang, sehingga tidak jatuh di lubang yang sama” papar Firdaus Putra yang juga merupakan salah satu mentor bagi para startup terdaftar di kegiatan ini. Ia juga menambahkan jika suatu startup membutuhkan co-founder, maka dari kegiatan ini bisa dibantu untuk dicarikan.

    Berbeda dengan Haryono Daud, ia memaparkan tentang koperasi dan profil CU Mekar Sai “para startup yang menjadi anggota MekarSai bisa mendapatkan banyak kemudahan seperti pinjaman dari Mekarsai karena setiap anggota punya legalitas disini”. Ia juga menjelaskan bahwa yang namanya koperasi itu demokratis “Koperasi is people, dari, oleh, dan untuk anggota, jika ada yang tidak melaksanakan sistem demokrasi dalam koperasinya, maka bisa jadi itu koperasi abal-abal” ujarnya. []

  • Digelar di Lampung, Startup Coop Camp Jaring Milenial Lahirkan Startup Baru

    BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) — Sebagai generasi penerus bangsa, di bidang perekonomian generasi milenial harus bisa beradaptasi dengan kemajuan zaman serta menelurkan ide-ide kreatif dan inovatif demi keberlangsungan ekonomi bangsa.

    Berawal dari hal itu, Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI) bekerja sama dengan Kementerian Koperasi dan UKM RI Deputi Bidang SDM menyelenggarakan pelatihan, lokakarya dan idea pitching untuk terbentuknya startup baru yang digelar di Lampung selama 3 hari mulai 28–30 September 2019 di Asoka Luxury Hotel, Bandar Lampung. Lampung menjadi kota keempat setelah sebelumnya kegiatan serupa sukses digelar di Purwokerto, Yogyakarya, dan Semarang.

    Sedikitnya 40 peserta terpilih dari 210 pendaftar mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai. Semua peserta merupakan kaum milineal yang berasal dari programing, produk development, marketing, dan manajemen bisnis, peserta baru ingin belajar startup maupun yang sudah memiliki startup namun belum punya tim dan belum jalan bisnisnya, serta peserta yang punya ide tapi belum bisa memulai membangun startup.

    Selama mengikuti kegiatan peserta mendapatkan pemaparan materi ekonomi digital, startup, model bisnis, dan koperasi dari pemateri diantaranya Dodi Faedlulloh, Anis Saadah, Firdaus Putra, Meizano Ardhi Muhammad, Gita Paramita Djausal, dan Hafiz Budi Firmasyah. Selain maetri para peserta juga melakukan praktik ideasi, design thingking, dan viable product.

    Deputi SDM Kementerian Koperasi dan UKM, Gunawan mengatakan seiring berkembangan perkoperasian di Indonesia, peran generasi milenial sangat dibutuhkan untuk proses rebranding koperasi. “Kegiatan ini salah satu rencana jangka panjang kita untuk mengembangkan perkoperasian di Indonesia dengan model baru, yaitu koperasi dengan elaborasi inovasi dan teknologi masa kini,” ujar Gunawan disela kegiatan.

    Board of ICCI, Firdaus Putra Aditama mengatakan ICCI merupakan lembaga inkubator yang memiliki misi melahirkan startup-startup baru yang mampu bersaing di era kemajuan teknologi.

    “Targetnya mereka bisa mengenal model koperasi agar bisa digunakan sebagai basis perusahaan startupnya. Dengan kegiatan ini diharapkan mereka bisa memahami apa itu model bisnis startup. Rencananya peserta akan didorong untuk bisa membangun startup coop di kotanya masing-masing,” pungkas dia. []

    Sumber: http://www.lampost.co/berita-digelar-di-lampung-startup-coop-jaring-kaum-milenial-lahirkan-i-startup-i-baru.html

  • Ini Dia Framework Inovasi Koperasi Indonesia

    Menandai satu tahun Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI) berkiprah, 6 Agustus lalu digelar focus group discussion di Purwokerto. Pada kegiatan itu, disampaikan apa yang  sudah dan sedang dikerjakan oleh ICCI selama setahun ini.

    Pada kesempatan itu, Komite Eksekutif ICCI merilis Framework Inovasi Berkelanjutan Koperasi Indonesia. Bertujuan untuk mengembangkan kerja-kerja inovasi perkoperasian di Indonesia berbasis ekosistem lokal.

    “Agar berkelanjutan kita harus menjangkarkannya pada ekosistem di regional atau wilayah masing-masing. Ekosistem ini tersusun atas Academia, Business, Community, Government dan Media,” terang Novita Puspasati, HC.,  dalam sambutan pembuka.

    ICCI menitikberatkan perlunya mencetak para inovator koperasi sebagai motor penggerak. Tanpa inovator, inovasi-inovasi yang berkelanjutan sulit dikerjakan. Lewat penyelenggaraan Akademi Inovator Koperasi, para inovator bisa ditemukan dan dikembangkan di berbagai wilayah.

    Selain pentingnya inovator, ICCI juga menganggap penting keberadaan Cooperative Innovation Hub (CIH), yang  berperan sebagai simpul tempat para pihak beraktivitas di dalamnya. ICCI menjangkarkan pembentukan CIH di kampus-kampus. Ini relevan sebab inovasi membutuhkan basis riset dan pengembangan tingkat lanjut.

    ICCI juga menyoroti perlunya pendirian lembaga inkubator koperasi model baru. Inkubator dibutuhkan agar berbagai model bisa diinisiasi dan dikembangkan mulai dari nol sampai ke tahap lanjut. Model-model baru yang dimaksud seperti worker coop, startup coop, platform coop, community coop, convert to coop, social coop dan lain sebagainya.

    Selain model baru, koperasi eksisting juga harus berinovasi berbasis Piramida Inovasi. Di dalam piramida itu tertera level/ dimensi inovasi yang bisa dikerjakan, mulai dari yang termudah sampai yang tersulit dengan dampak yang massif.

    “Kerja nyatanya bisa dilakukan lewat CIH. Di CIH itu ada juga koperasi-koperasi bagus yang menjadi lembaga jangkar. Sehingga lewat koperasi bagus itu, agenda inovasi bisa dikerjakan pertama kali”, terang Firdaus Putra, HC., Komite.

    Kerangka kerja yang dirilis oleh ICCI ini membutuhkan kolaborasi multi pihak pada domainnya masing-masing. Sedikitnya ada delapan agenda yang bisa dikerjakan bersama. Diantaranya Akademi Inovator Koperasi, Startup Coop Camp, Cooperative Innovation Hub, Inkubator Koperasi Model Baru, Portal Informasi Inovasi Koperasi, Indeks Inovasi Koperasi, Direktori Inovasi Koperasi dan berujung pada Festival Inovasi Koperasi. []

    Anda dapat mengunduh framework tersebut: klik di sini

    Telah dimuat di: https://milesia.id/2019/08/13/ini-dia-framework-inovasi-berkelanjutan-koperasi-indonesia/

  • ICA Asia Pasifik Hadiri FGD ICCI di Purwokerto

    Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI)  menghelat  Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Kerangka Kerja Inovasi Koperasi di Indonesia secara  Berkelanjutan”, Selasa (6/8) lalu.  Bertempat di Restoran Table 9, Purwokerto, dihadiri 45 peserta dari mitra dan stakeholder.

    Sejumlah lembaga pemerintah dan bisnis yang hadir diantaranya Bidang Kelembagaan dan SDM Kementerian Koperasi dan UKM, Bappenas, LPDB, Dinas Koperasi Provinsi  Jawa Tengah, sejumlah universitas,  para pelaku koperasi model baru, PT. Sakti Kinerja Kolaborasindo (Angel Investor), serta  sejumlah tamu undangan.

    Dalam lawatannya ke Indonesia, mereka bertemu dan berdiskusi langsung dengan sejumlah pihak. Di Jakarta, mereka menemui Koperasi Pemuda Indonesia. Di Purwokerto menjumpai InnoCircle Initiative, lembaga inkubator startup coop,  bersama para tenantstartup. Dilanjutkan mengikuti rangkaian FGD ICCI di Purwokerto. Di Yogyakarta, visitingdan sharing dengan Koperasi Edukarya Negeri Lestari atau lebih dikenal dengan Koperasi Wikikopi/Wikiti. Mereka sangat terinspirasi dengan model Wikiti yang tak terbayangkan sebelumnya.

    Dalam lawatannya ke Indonesia, mereka bertemu dan berdiskusi langsung dengan sejumlah pihak. Di Jakarta, mereka menemui Koperasi Pemuda Indonesia. Di Purwokerto menjumpai InnoCircle Initiative, lembaga inkubator startup coop,  bersama para tenantstartup. Dilanjutkan mengikuti rangkaian FGD ICCI di Purwokerto. Di Yogyakarta, visitingdan sharing dengan Koperasi Edukarya Negeri Lestari atau lebih dikenal dengan Koperasi Wikikopi/Wikiti. Mereka sangat terinspirasi dengan model Wikiti yang tak terbayangkan sebelumnya.

    Dalam kesempatan itu, Ivjyot dan Simren memaparkan program kerja ICA-AP, isu strategis mendatang dan peran anak muda dalam gerakan koperasi.  Mereka mengapresiasi FGD dan menemukan aneka model baru dan berbagai showcase praktika lapangan.

    Koperasi KINARYA, misalnya, dikenal sebagai koperasi sektor kreatif  yang concern dengan film sebagai lokomotifnya.  Lainnya adalah  PlayMe Platform Coop, Senandung Sejuk, Beceer.com, PediHelp.id, BookCircle.id, Sewaa.in, Pesanan Kilat, DNA Creative Kudus, dan lainnya.

    “Saya melihat dari pesan dan bahasa tubuhnya, mereka sangat passionate untuk mengerjakan bisnis berbasis koperasi itu. Ini yang tidak saya temui di ruang lain. Ada semacam api yang menyala-nyala dan terus memompa semangat, ” terang Ivjyot Singh tak bisa menyembunyikan kekagumannya.

    Dalam kunjungan terakhir ke salah satu Kopma di Yogyakarta, Ivjyot dan Simren dibuat terkejut ketika berdialog dengan Pengurus dan Ketua Kopma, yang mengatakan koperasi tidak prestisius bagi anak muda dan kemungkinan selepas lulus mereka tak akan berkarir di koperasi. “Saya rasa perlu dicari formula yang tepat untuk membangun alur dari Kopma dan lalu masuk ke koperasi. Yang dilakukan ICCI dan InnoCircle mungkin bisa diterapkan di Kopma,” terang Ivjyot.

    Komitmen Kolaborasi Multi Pihak

    Kegiatan FGD Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI), di Purwokerto diakhiri dengan komitmen kolaborasi multi pihak dalam membangun inovasi perkoperasian di Indonesia secara berkelanjutan. Berbagai lembaga menyampaikan apa-apa yang bisa dikerjakan sesuai dengan framework yang disampaikan ICCI di awal kegiatan.

    Dari dunia pendidikan, Laboratorium Koperasi FEB Unsoed-Purwokerto dan LPPM Universitas Mercubuana-Yogyakarta, menyatakan siap membangun Cooperatives Innovation Hub (CIH) di kampusnya masing-masing. Juga menyanggupi untuk melakukan kerjasama penelitian lintas lembaga. Malah ada sembilan poin kolaborasi yang ditawarkan Universitas Mercubuana kepada ICCI dan para peserta lainnya.

    Kementerian Koperasi dan UKM RI juga menyatakan siap mendukung agenda besar inovasi koperasi. Menyebut highlight Presiden Jokowi dalam Pidato Politiknya pada 14 Agustus 2019, yang juga menyoroti perlunya mencari model-model baru, cara-cara baru dan nilai-nilai baru dalam mencari solusi, yakni melalui inovasi.

    Pada kesempatan itu ICCI mendorong agar Kementerian Koperasi secepatnya bisa menyelenggarakan serial Akademi Inovator Koperasi di berbagai regional di Indonesia sebagai starting point untuk mencetak para Inovator Koperasi.

    Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) siap mendukung khususnya pada model baru seperti startup coop. Adapun Koperasi Pekerja Senandung Sejuk, DNA Creative Kudus, InnoCircle Initiative, ITT Purwokerto, Koperasi Kinarya, PT. Sakti Kinerja Kolaborasindo dan tak ketinggalan Dinas Koperasi Prov. Jawa Tengah, juga siap berkomitmen untuk berkolaborasi.

    Khusus di Jawa Tengah, tercatat dua kegiatan utama akan dihelat. Pertama, produksi film tentang blockchaindan IT oleh Koperasi Kinarya. Kedua, akan dibuat Festival Inovasi Koperasi pada Juli 2020 mendatang sebagai konten kegiatan Hari Koperasi.

    “Ini akan menjadi pilot project awal agenda inovasi perkoperasian. Festival Inovasi Koperasi itu hanya kegiatan hilir, hulunya yakni koperasi di Jawa Tengah, mengembangkan praktik inovatif. Barulah tahun mendatang aneka praktik itu dipamerkan dalam festival tersebut,” terang Firdaus Putra, HC.

    Pada kesempatan yang sama Bima Kartika, Kabid. Kelembagaan Dinas Koperasi Prov. Jawa Tengah, menyambut baik rencana produksi film tentang blockchain dan IT di Jawa Tengah. “Ini akan menjadi contoh baik bagaimana koperasi bisa mengerjakan bisnis yang lain, tidak tanggung-tanggung, film. Di mana para penonton akan menjadi membernya dengan cara membeli tiket,”papar Bima.

    Berbagai rangkaian kolaborasi itu akan dikerjakan ICCI secara organis. Targetnya, pada 2020 mendatang berbagai inisiasi serta inovasi baru itu bisa dipamerkan di Festival Inovasi Koperasi. “Tentu saja itu adalah pekerjaan yang menantang, bagaimana menyemai virus inovasi ke koperasi-koperasi eksisting yang mungkin telah terbiasa dengan as usually business,” pungkas Novita Puspasari, HC., Komite. Eksekutif ICCI. []

    Telah dimuat di: https://milesia.id/2019/08/13/ica-asia-pasifik-hadiri-fgd-icci-di-purwokerto/

  • Saatnya Inovator Koperasi Berperan

    Selain para aktivis, pengurus dan manajer, kita butuh banyak inovator di gerakan koperasi.  Sebabnya tantangan zaman ini berbeda dengan beberapa dekade lalu. Modus dan model sharing economy atau collaborative economy yang tumbuh selaras dengan ekonomi digital membuat bisnis-ekonomi berubah. Para pakar bilang, disrupsi. Perkembangannya tak lagi bisa dikalkulasi atau diproyeksi secara linier. Banyak perayaan kesuksesan di puncak gunung, namun juga banyak ratapan kegagalan di lembahnya.

    Salah satu tandanya beberapa startup ternyata melahirkan dampak sosial yang besar. Dampak ini bukan sekedar making profit bagi si startup atau deliver benefit bagi user, tapi efek domino dari berbagai value baru yang tercipta. Sebutlah lapangan kerja, peningkatan pendapatan, optimalisasi aset-aset menganggur, efisiensi rantai pasok, peningkatan standar layanan, penciptaan pasar baru dan lain sebagainya.

    Dalam lanskap sosial-ekonomi baru semacam itu, kita sulit mencari presedennya pada dekade yang lalu. Rasanya itu baru kemarin terjadi dan memang demikian, bekerja secara akseleratif. Tentu bukan sekedar glorifikasi buta, boleh jadi model itu salah satu dari the black swan yang sedang dan akan mengubah wajah ekonomi dunia sampai beberapa dekade mendatang.

    Saya lihat tantangan baru seperti itu tak bisa direspon secara linier oleh para praktisi koperasi saat ini. Butuh peran lain untuk menggenapi yang sudah ada, yakni para inovator. Tak berlebihan untuk mengatakan hal itu. Beberapa pakar telah menawarkan proposal yang sama. Eric Ries misalnya menulis The Lean Startup: How Today’s Entrepreneurs Use Continuous Innovation to Create Radically Successful Businesses (2011), yang ditujukan bagi pelaku bisnis eksisting dan pemerintah. Atau penulis lain Dan Toma, Esther E. Gons dan Tendayi Viki menulis The Corporate Startup: How Established Companies Can Develop Successful Innovation Ecosystems (2018). Proposal itu bukan ditujukan kepada pelaku startup, melainkan establish company atau existing business.

    Selain para penulis Barat itu, sinyal yang sama juga dikirim oleh Presiden Terpilih Ir. Joko Widodo lewat pidato politiknya pada 14 Juli 2019 lalu. Beliau memahami betul layar panggung sudah beda dan karenanya kita harus memerankan lakon yang berbeda. Secara lugas Jokowi sampaikan, “Kita harus mencari sebuah model baru, cara baru, nilai-nilai baru dalam mencari solusi dari setiap masalah-masalah yang kita hadapi dengan inovasi-inovasi”.

    Inovator Koperasi

    Pertama kali saya pakai istilah “Inovator Koperasi” dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) tentang Kerangka Kerja Inovasi Koperasi di Indonesia secara Berkelanjutan yang diselenggarakan Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI) di Purwokerto pada 6 Agustus 2019 yang lalu. Forum itu dihadiri multi stakeholder: praktisi koperasi, kampus/ peneliti, komunitas serta pemerintah (Kementerian Koperasi dan UKM, Bappenas, LPDB, Dinas Koperasi).

    Premis yang saya ajukan pada kesempatan itu adalah, “Inovasi tak akan lestari tanpa inovator”. Ada studi kasus menarik bagaimana gerakan Credit Union (CU) di Indonesia telah mengadopi inovasi sebagai pilar keempat gerakan pada tahun 2012 lewat keputusan RATNAS Inkopdit. Yang menarik adalah Robby Tulus telah sampaikan insight tersebut tahun 2011 pada Forum Inkopdit, bertepatan dengan apa yang terjadi di dunia industri bila merujuk rekomendasi Eric Ries di awal tulisan. Sayangnya, pilar inovasi itu nampaknya tak berjalan secara massif dan akseleratif. Boleh jadi sebabnya karena CU abai untuk mencetak para inovatornya.

    Inovasi sebagai praktik yang seringkali terlihat “belum jelas” membutuhkan energi ekstra untuk mengawalnya. Bukan hanya merespon lingkungan yang dinamis dengan aneka pendekatan baru, melainkan juga menghadapi berbagai bottle neck di internal koperasi atau gerakan. Tanpa peran dan dukungan kelembagaan, agenda itu pasti akan menguap ditelan rutinitas dan prioritas bisnis berjalan.

    Para Inovator Koperasi karenanya harus dicetak secara sengaja alih-alih alamiah. Merekalah yang akan menjadi pembawa obor bagi koperasi dan komunitasnya. Sebagai permulaan mereka bisa kita lahirkan dari rahim Akademi Inovator. Mereka bisa berasal dari aktivis, praktisi, akademisi, peneliti atau lainnya. Selepas itu mereka bisa berhimpun bersama di Cooperative Innovation Hub (CIH) atau Simpul Inovasi Koperasi (sekali lagi “simpul”, bukan “pusat”) yang dijangkarkan di kampus-kampus. Baca juga tulisan saya sebelumnya: Membangun Ekosistem Inovasi pada Koperasi.

    Semacam Formula

    Lalu apa yang harus mereka kerjakan? Ini formulanya: (Kolaborasi + Inovasi) x Kecepatan. Kolaborasi menandai pendekatan berbasis ekosistem. Inovator tak harus seorang inventor atau penemu yang soliter berada di laboratorium. Sebaliknya orang yang secara aktif membangun ekosistem lingkungannya (ecosystem enabler). Dalam perjumpaan seperti itulah inovasi dihasilkan sehingga bersifat hadap masalah. Peran kedua adalah mengembangkan aneka inovasi dalam dua dimensi: sustaining innovation bagi koperasi eksisting dan disruptive innovation dengan mengembangkan model baru.

    Kedua peran itu kudu dilakukan dengan ritme kecepatan tertentu. Di sinilah para inovator bisa mengadaptasi pendekatan dan metode bisnis startup seperti yang direkomendasikan Eric Reis dan Dan Toma. Salah satu yang khas dari metode startup contohnya penggunaan Design Thinking, Business Model Canvas dan tersedianya Minimum Viable Product (MVP). Dengan MVP, kecepatan bisa diraih. Aneka metode baru seperti itu perlu diperkenalkan sebagai cara untuk meretas stagnasi berpikir dan berimajinasi.

    Pada awalnya berbagai metode itu mungkin terdengar asing. Namun tak perlu berkecil hati, karena semuanya bisa dipelajari dan akan menjadi terbiasa saat digunakan berulang kali. Agar tidak menimbulkan frustrasi di internal koperasi, para pengambil keputusan (Pengurus dan Manajer Puncak) bisa menyiapkan orang atau tim khusus, sebutlah Tim Inovasi Koperasi. Sehingga berbagai alih pengetahuan-keterampilan baru itu tak akan menganggu ritme organisasi dan bisnis yang sedang berjalan. Tim ad hoc itu langsung bertanggungjawab kepada Pengurus atau Manajer Puncak.

    Tim bisa bekerja dengan mengacu pada Piramida Inovasi yang berisi level inovasi dari yang paling mudah dengan dampak terbatas, sampai yang paling sulit dengan dampak maksimal. Levelnya dari yang termudah: 1. Desain dan Pemasaran; 2. Produk; 3. Pelayanan; 4. Pasar, Pelanggan dan Kanal; 5. Teknologi; 6. Proses Bisnis; 7. Manajemen; 8. Model Bisnis dan 9. Industri. Dan seperti orang bilang, sebaiknya memulai pekerjaan dari yang mudah-mudah. Tujuannya untuk membangun keyakinan bersama (tim dan divisi lainnya) bahwa inovasi itu tak melulu sulit atau rumit. Ada hal-hal yang bisa diinovasi/ disempurnakan/ diperbaiki secara cepat.

    Festival Inovasi

    Berbagai inovasi yang sedang dan telah dikerjakan oleh koperasi dalam satu tahun perlu sekali dipamerkan dalam sebuah festival. Seremoni semacam ini tetap perlu untuk menandai sebuah capaian bersama. Peringatan tahunan Hari Koperasi bisa direka ulang kegiatannya dengan hal ini. Saya ingat Nancy Duarte (2016) pernah menulis dalam Illuminate: Ignite Change through Speeches, Stories, Ceremonies and Symbols, bagaimana membuat seremoni menjadi bagian penting dalam perubahan organisasi.

    Selain untuk merayakan pencapaian, festival itu juga berfungsi sebagai ruang berbagi-pakai wawasan, pengalaman, praktik antar para pelaku. Proses belajar terjadi secara organis yang bisa mempercepat dan memperkaya satu sama lain. Menjadi tidak berlebihan juga bila di Hari Koperasi mendatang perlu kiranya muncul penghargaan dengan kategori baru: Inovator Koperasi, Koperasi Inovatif dan Koperasi Model di samping penghargaan Bhakti Koperasi.

    Seremoni dengan konten yang telah direka ulang itu akan menjadi ruang pembiasaan dan pembudayaan inovasi di gerakan koperasi tanah air. Ujungnya inovasi tak lagi dianggap sebagai barang baru atau hal asing, melainkan menjadi bagian dari dinamika perkoperasian sehari-hari. Hasilnya inovasi akan berjalan secara berkelanjutan (sustainable), memiliki relevansi tinggi karena hadap masalah (problem solving) dan berdampak luas (do and share).

    Just Do It

    Bila kita selenggarakan Akademi Inovator Koperasi tahun ini dengan output 100 inovator, akan lahir berbagai kebaruan di tahun mendatang. Kebaruan-kebaruan itu bisa saja belum memiliki payung hukum atau regulasi. Pemerintah perlu hadir untuk menjamin dua hal: praktik inovasi dapat diselenggarakan koperasi dengan aman dan akseleratif. Dan sisi lain melindungi hak anggota dan masyarakat atas potensi resiko dari suatu inovasi. Perlu dibuat semacam protokol setingkat peraturan menteri agar tak terjadi trade off.

    Keberadaan protokol itu bukan sekedar menjawab kepastian hukum, yang cenderung akan berhati-hati dan akhirnya menghambat, namun harus ditujukan untuk mendorong inovasi terjadi. Sebutlah misalnya pada salah satu isu yang high risk: permodalan. Koperasi harus didorong untuk menginovasi instrumen permodalannya termasuk mekanismenya. Misalnya equity crowd funding dan sejenisnya. Hari ini sangat memungkinkan partisipasi modal itu dilakukan secara online atau digital. Tak perlu tanda tangan basah di atas materai, cukup klik ini-itu di layar ponsel dan terjadi capital in/ out.

    Tapi, kita selalu memahami di mana seringkali praktik terjadi lebih dulu daripada payung regulasi. Kontroversi GoJek beberapa tahun lalu, tentang status sah-tidaknya motor sebagai sarana transportasi publik, adalah contohnya. GoJek telah mengaspal lebih dulu, barulah pemerintah menerbitkan aturan mainnya. Artinya, bagi para inovator, just do it. Soal regulasi biar pemerintah yang memikirkannya untuk kita. Tugas dan peran kita adalah, “… Mencari sebuah model baru, cara baru, nilai-nilai baru dalam mencari solusi …” persis seperti maklumat Jokowi di atas. Saya rasa Menteri Koperasi mendatang harus memahami betul hal itu. Break the rules! []

    Sudah dimuat di: https://money.kompas.com/read/2019/08/12/054000026/saatnya-inovator-koperasi-berperan?page=all

  • Kudus Creative DNA, Rasionalisasi Praktika Koperasi (1 dari 3 Bagian)

    Sebelumnya saya akan mengawali refleksi ini dengan sebuah pernyataan, “Idealisme yang benar-benar ideal hanya ada di atas kertas, sedang masyarakat kita belum pada tahap mau dan mampu menerima “Idealisme”. Sehingga seeksotis apapun sebuah ide jika tidak disertai dengan langkah yang mampu dinikmati dampaknya oleh masyarakat, maka akan menyia-nyiakan waktu kita untuk berhayal terwujudnya utopia”.

    Itulah salah satu benih pemikiran strategis dari lahirnya Kreatif DNA Kudus.CH (Cooperative Hub). Adalah sebuah koperasi penghubung yang belum pernah mendeklarasikan dirinya sebagai koperasi. Kami sendiri belum tahu sampai kapan nama koperasi itu akan kami sembunyikan dari pasar, akan tetapi melihat geliat yang terjadi, sepertinya itu tinggal menunggu waktu. 

    Esensi Perjuangan 

    Sejak awal berdiri pada tahun 2018, yang paling sering dikritisi oleh CDNA adalah gerakan komunitas yang berdarah-darah dalam memperjuangkan kepentingan sosial, akan tetapi hanya berdampak pada sebagian kecil masyarakat, bertahan beberapa tahun lalu komunitas itu mati atau setidaknya vakum dari peredaran alias matisuri. Ada banyak faktor penyebab kematiannya, dari ditinggal nikah penggerak sampai yang paling fatal dialami adalah tidak adanya pendanaan mandiri yang kontinyu, baik pendanaan untuk diri sendiri maupun bagi komunitas. 

    Ada juga kasus di mana komunitas berhenti beroperasi karena kehabisan stok penerus perjuangan. Kami di CDNA mengamini bahwa komunitas adalah sebuah wadah yang mampu memberi solusi detail bagi banyak permasalahan masyarakat. Sayangnya di Kudus sendiri sangat sedikit anak muda yang bergabung dan aktif di dalamnya. Bukan sepenuhnya karena masyarakat tidak paham, akan tetapi bisa jadi komunitas tidak menjalankan strategi pemasaran dalam gerakannya.

    Sebutlah bagaimana produk yang ditawarkan, berapa harga yang harus dibayar, dimana produk dipasarkan dan bagaimana proses kampanye dari produk tersebut serta teknik-teknik lain. Kami mempertebal bahwa apa yang kami sebut pasar bukanlah pasar secara harfiah, akan tetapi adalah sebuah filosofi dari sekumpulan manusia beserta seperangkat kebutuhan yang bermacam. Tugas komunitas adalah menjelma menjadi bagian dari kebutuhan itu.

    Di situlah koperasi kami pandang sebagai salah satu gerakan perjuangan paling realistis dan berdampak karena memiliki tujuan sosial sebagai visi utama serta fondasi pendanaan juga pandangan pasar. Sayangnya di Indonesia sendiri belum banyak role model yang membuktikan hal ini, sehingga CDNA kami rasa perlu dengan sepenuh hati memberikan bukti dari idealisme koperasi. 

    Pendanaan Independen

    Pendanaan adalah salah satu faktor terpenting bagi tumbuh kembang komunitas. Akan tetapi dengan idealisme yang menggebu-gebu, sering kali para pengerak mengesampingkan hal ini. Oke, kita ambil fokus pada proses “Dari mana komunitas mendapatkan dana untuk menopang mobilisasi?”. Paling populer adalah dana hibah perusahaan sedang lainya adalah iuran suka rela anggota. Akan tetapi untuk sebuah agenda besar sudah barang tentu membutuhkan kucuran dana yang sepadan dan rasionalnya “Patungan anggota tidak akan manpu menopangnya”, kecuali jumlah anggota ribuan orang atau anggota terdiri dari kalangan menengah ke atas. Dana menjadi problema klasik bagi komunitas untuk memperbesar dampak sosialnya. 

    Kami di Creative DNA tidak menyalahkan hal itu, hanya saja kami memiliki persepsi lain. Koperasi kami pandang sebagai satu dari jalan rasional dan ideal untuk mewujudkan visi Pemerataan kemajuan, kreativitas dan konektivitas yang kami usung, di mana dalam koperasi untuk mewujudkan kemajuan di aspek sosial, ekonomi serta budaya perlu adanya sebuah unsur bisnis bersama yang nantinya membiayai berbagai misi penyuksesan tujuan. Saya ingin sedikit mengutip pernyataan Suroto, HC., Ketua AKSES Indonesia, “Dari mana modal berasal, ke sanalah nilai tambah kembali”.

    Logikanya adalah jika sebuah komunitas atau organisasi apapun berdiri dari sebuah modal maka ke sumber modallah mengalir keuntungan. Sehingga ketika komunitas atau organisasi ini di modali perseorangan maka ke orang itulah untungnya mengalir dan ketika komunitas atau organisasi ini dimodali secara bersama serta mementingkan kepentingan sosial maka ke arah sosialah keuntungan akan mengalir.

    Tersebut di atas menjadi pertimbangan terbesar kami mengapa Warkoba (usaha yang diinkubasi CDNA) menolak tiga tawaran investasi personal. Selain itu kami tetap tunduk pada prinsip “Fokus pada alur cerita”. Sejak awal berdiri, apa yang diusahakan CDNA adalah sebuah komunitas, organisasi atau apapun dengan basis social capital yang mampu diduplikasi oleh lokal manapun. Maka idealnya CDNA beserta inkubasinya musti konsisten pada budaya gotong royong serta people based bukan capital based.

    Tempo lalu Warkoba kami memperoleh dukungan dari Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI) dengan skema social-crowd lending. Di mana ICCI memobilisasi sekelompok orang untuk meminjamkan dana pribadinya. Skema itu bekerja dengan jalan mengembalikan pokok pinjaman tanpa jasa dalam jangka waktu tertentu, yakni tiga bulan. Dengan dana pinjaman itu kami lakukan renovasi kecil kedai. Menurut saya ini adalah salah satu bentuk gotong royong yang nyata. Bagaimana pinjaman dilakukan dengan rasa percaya satu sama lain. []

    Dikisahkan oleh: Ali Sofyan, HC., Founder Kudus DNA Creative. CH (Cooperative Hub)

    Bersambung Bagian Kedua: Penghijauan Manusia dari Pinggiran.

  • Kolaborasi dengan ICCI, CU Mandiri Gelar Creative Youth Camp

    Credit Union (CU) Mandiri berkolaborasi dengan Indonesian Consortium for Cooperative Innovation (ICCI)selenggarakan Creative Youth Camp. Kegiatan itu diadakan pada 30 April 2019 dengan sasaran kalangan pelajar SMA/ SMK di Probolinggo.

    Kegiatan ini bertujuan untuk menjaring para creative youth leader dari kalangan pelajar. Dengan kurikulum tertentu para peserta dipandu oleh Narasumber dan Fasilitator mencapai pemahaman baru tentang bagaimana membuat perubahan di skala lokal.

    Firdaus Putra, HC., Komite Eksekutif ICCI, menyampaikan tentang potret anak-anak muda di kota lain dan juga luar negeri yang membuat perubahan (changmaker). “Mereka usianya relatif muda semua, bahkan lebih muda daripada Anda semua. Ada yang baru 11 tahun, 14 tahun juga yang 16 tahun. Namun mereka telah membuat perubahan di areanya masing-masing”, tegasnya.

    Dengan metode empat lingkaran warna: Biru (Rasa), Kuning (Cipta), Merah (Karsa) dan Hijau (Karya), peserta diajak mengenali berbagai isu di lingkungannya. Lebih dari itu, mereka juga diajak untuk mengeksplorasi solusi bagi masalah itu. “Sekarang tulis di stick it note lima ide bagi lingkungan sekitar kalian”, seru Fasilitator.

    Gagasan kreatif-solutif diberikan studi kasus nyata oleh Kemal Khairurrahman, HC., Founder Tuban Creative Hub dan Regional Hub ICCI. Dengan video-video pendek, ia kisahkan bagaimana Tuban Creative Hub memberi dampak ke masyarakat. “Kami buat Tuban Hujan Bimtek. Bimtek ini isinya pelatihan life skill. Kami buat 20 kali dalam satu bulan dan itu cuma-cuma”, terangnya. Berbagai Bimtek itu ditujukan bagi komunitas anak muda dan masyarakat umum.

    Dalam kesempatan itu Kemal jelaskan bagaimana sebuah creative hub bekerja. “Teman-teman akan menjadi engine atau motor penggeraknya. Yang perlu pertama dilakukan adalah melakukan pemetaan talenta. Lalu kemudian mengolaborasikan satu dengan yang lain”, sambungnya.

    Pada sesi berikutnya peserta diminta memilih dari lima ide yang ditulis menjadi tiga ide saja. Setelah mereka melihat studi kasus tentang apa-apa yang bisa dikerjakan creative hub, mereka memperoleh insight baru untuk menyeleksi dari lima menjadi tiga ide perubahan.

    Kegiatan itu diikuti oleh 70 pelajar SMA/ SMK dengan berbagai latar  belakang. Kegiatan dimulai pada pukul tiga sore. Namun antusiasme dan materi yang menantang, membuat mereka tak merasa lelah meski sampai larut malam.

    Pada sesi akhir, peserta diminta memilih dari tiga ide menjadi satu ide. Mereka harus memilih dengan menimbang beberapa hal: Ide mana yang paling disukai; ide mana yang paling memberi dampak; Ide mana yang paling mungkin dikerjakan dengan pertimbangan aktivitas masing-masing; Dan ide mana yang paling mungkin didukung berbagai pihak. “Sekarang pilih satu saja, beri nama proyek sosial itu yang kreatif dan jangan lupa tentukan targetnya, munculkan angkanya”, pandu Fasilitator.

    Proses selama lima jam itu terbilang sukses. Pada penutup, 10 peserta dipersilahkan untuk mengisahkan proyek sosialnya. Ada yang melontarkan ide tentang memberdayakan petani jagung di desanya, ada juga ide tentang bersih sungai, membuat kerajinan dari sampah dan lain sebagainya. “Melihat latar belakang mereka masih SMA, ide-ide mereka keren sekali”, terang Pengurus CU. Kegiatan dimeriahkan dengan berbagai dorprize. Tak ketinggalan bagi 10 peserta yang berani presentasikan proyek sosialnya. Lalu Panitia mengumumkan nama-nama peserta yang terpilih menjadi engine/ motor penggerak bagi Sakti Creative Hub Probolinggo. Merekalah yang akan mengaktivasi creative hub di sana. []

  • Perlunya Menyegarkan Tampilan Buku LPJ Koperasi, Laporan Hasil Jajak Pendapat

    Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI) satu minggu yang lalu selenggarakan jajak pendapat tentang format buku Laporan Pertanggung-jawaban (LPJ) Pengurus dan Pengawas  koperasi. Jajak pendapat itu dilakukan secara online dengan Google Form di mana link disebarluaskan melalui berbagai Grup Whatsapp.

    Hasilnya, ada 97 responden yang mengikuti jajak pendapat. Mereka tersebar di beberapa kabupaten di 13 provinsi berbeda, yakni Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Sumatera Utara, Jakarta, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara, Jambi, Bangka Belitung dan Sulawesi Tengah. Di mana 63% mengatakan koperasinya telah berdiri lebih dari 10 tahun, 24% berdiri 1-5 tahun dan sisanya 6-10 tahun.

    Sebanyak 9 dari 10 orang menganggap bahwa format tampilan LPJ itu penting (23%) dan sangat penting (67%). Jawaban itu telah mengonfirmasi hipotesis jajak pendapat ini, bahwa tampilan LPJ itu, di luar isi laporannya, penting diperhatikan. Sebab, pertama-tama anggota melihat format tampilannya. Bila menarik, maka mereka akan membacanya dengan antusias, intensif dan serius. Hasilnya adalah anggota lebih tahu dan paham bagaimana kondisi koperasinya, capaian-capaiannya dan lain sebagainya.

    Sebagian besar responden setuju bahwa tampilan LPJ yang menarik bisa mendorong anggota koperasi untuk menyimak atau membacanya lebih intensif. Ada 94% mengatakan hal yang sama. Artinya 9 dari 10 orang responden setuju, tampilan LPJ yang bagus berpengaruh terhadap intensitas anggota membacanya. Hal ini terkonfirmasi pada pertanyaan yang berbeda yakni, “Menurut Anda, apakah anggota perlu menyimak LPJ?”, 94% mengatakan, iya.

    Rata-rata halaman LPJ mereka terdiri dari 10-30 halaman, sebanyak 43%. Disusul kemudian 31-50 halaman sebanyak 29%, 51-80 halaman sebanyak 16% dan sisanya yakni dengan jumlah lebih dari 80 halaman. Meski berbeda-beda tebal-tipisnya, sebagian besar responden menjawab bahwa LPJ adalah salah satu media edukasi anggota. Sebanyak 98% responden mengatakan demikian.

    ICCI menyelenggarakan jajak pendapat ini untuk merangsang koperasi-koperasi melakukan inovasi dari hal yang paling kecil. “Salah satunya dengan menyegarkan format tampilan LPJ. Sekarang zamannya infografis. Orang terbiasa melihat aneka ornamen visual daripada sekedar angka dan huruf”, kata Firdaus Putra, HC., Komite.

    Pada jajak pendapat itu ICCI memberikan contoh laporan dengan format infografis. Sebagian besar responden memandangnya secara positif. Mereka menilai format itu sangat menyenangkan dilihat, sebanyak 66%. Kemudian 17% mengatakan asik dan sisanya mengatakan: membingungkan (12%), kaku dan membosankan.

    Ketika giliran ditanya bagaimana mereka menilai buku LPJ koperasinya, 72% responden mengatakan: membosankan (28%), kaku (35%) dan membingungkan (9%). Buku LPJ mereka lebih banyak berisi tabel dan angka serta teks.

    Sisanya, yakni 28% mengatakan bahwa format buku LPJ di koperasinya asik dan menyenangkan untuk dibaca. Format yang menyenangkan ini berisi paduan teks, gambar, diagram dan tabel, atau yang secara umum disebut sebagai infografis.

    Di bagian akhir jajak pendapat, ICCI memberikan template LPJ yang menarik berbasis PowerPoint. Template itu bisa mereka sunting sesuai dengan struktur isinya. Dan juga template itu bisa dibagi dan disebarluaskan kepada koperasi lain yang membutuhkan.

    ICCI mengungkapkan bahwa menyegarkan tampilan buku LPJ ini adalah salah satu dari banyak aktivitas di koperasi  yang bisa disegarkan atau diinovasi. Artinya suatu hal memiliki 1001 peluang ditemukannya atau dikerjakan dengan cara, metode atau pendekatan baru. “Penyegaran tampilan buku LPJ ini hanya contoh atau eksemplar. Selebihnya kembali ke Pengurus dan Pengelola koperasi untuk menemukan 1001 cara baru lainnya. Tentu cara-cara yang dapat meningkatkan nilai tambah, manfaat, kinerja dan indikator lainnya”, ungkap ICCI. []

    Unduh Template LPJ Koperasi Gaya Baru:

    Pengantar      :   https://bit.ly/2P38Xru atau klik di sini

    Bagian 1         :   https://bit.ly/2Z4AiOM atau klik di sini      

    Bagian 2         :   https://bit.ly/2v0iFl6 atau klik di sini

    Font 1             :   https://bit.ly/2r8ZROu atau klik di sini

    Font 2             :   https://bit.ly/2k8RBOF atau klik di sini

    Harap diunduh semua.  Semoga bermanfaat.

    Sumber: http://inovasikoperasi.id/2019/04/11/perlunya-menyegarkan-tampilan-buku-lpj-koperasi-laporan-hasil-jajak-pendapat/