• Saatnya Inovator Koperasi Berperan

    Selain para aktivis, pengurus dan manajer, kita butuh banyak inovator di gerakan koperasi.  Sebabnya tantangan zaman ini berbeda dengan beberapa dekade lalu. Modus dan model sharing economy atau collaborative economy yang tumbuh selaras dengan ekonomi digital membuat bisnis-ekonomi berubah. Para pakar bilang, disrupsi. Perkembangannya tak lagi bisa dikalkulasi atau diproyeksi secara linier. Banyak perayaan kesuksesan di puncak gunung, namun juga banyak ratapan kegagalan di lembahnya.

    Salah satu tandanya beberapa startup ternyata melahirkan dampak sosial yang besar. Dampak ini bukan sekedar making profit bagi si startup atau deliver benefit bagi user, tapi efek domino dari berbagai value baru yang tercipta. Sebutlah lapangan kerja, peningkatan pendapatan, optimalisasi aset-aset menganggur, efisiensi rantai pasok, peningkatan standar layanan, penciptaan pasar baru dan lain sebagainya.

    Dalam lanskap sosial-ekonomi baru semacam itu, kita sulit mencari presedennya pada dekade yang lalu. Rasanya itu baru kemarin terjadi dan memang demikian, bekerja secara akseleratif. Tentu bukan sekedar glorifikasi buta, boleh jadi model itu salah satu dari the black swan yang sedang dan akan mengubah wajah ekonomi dunia sampai beberapa dekade mendatang.

    Saya lihat tantangan baru seperti itu tak bisa direspon secara linier oleh para praktisi koperasi saat ini. Butuh peran lain untuk menggenapi yang sudah ada, yakni para inovator. Tak berlebihan untuk mengatakan hal itu. Beberapa pakar telah menawarkan proposal yang sama. Eric Ries misalnya menulis The Lean Startup: How Today’s Entrepreneurs Use Continuous Innovation to Create Radically Successful Businesses (2011), yang ditujukan bagi pelaku bisnis eksisting dan pemerintah. Atau penulis lain Dan Toma, Esther E. Gons dan Tendayi Viki menulis The Corporate Startup: How Established Companies Can Develop Successful Innovation Ecosystems (2018). Proposal itu bukan ditujukan kepada pelaku startup, melainkan establish company atau existing business.

    Selain para penulis Barat itu, sinyal yang sama juga dikirim oleh Presiden Terpilih Ir. Joko Widodo lewat pidato politiknya pada 14 Juli 2019 lalu. Beliau memahami betul layar panggung sudah beda dan karenanya kita harus memerankan lakon yang berbeda. Secara lugas Jokowi sampaikan, “Kita harus mencari sebuah model baru, cara baru, nilai-nilai baru dalam mencari solusi dari setiap masalah-masalah yang kita hadapi dengan inovasi-inovasi”.

    Inovator Koperasi

    Pertama kali saya pakai istilah “Inovator Koperasi” dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) tentang Kerangka Kerja Inovasi Koperasi di Indonesia secara Berkelanjutan yang diselenggarakan Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI) di Purwokerto pada 6 Agustus 2019 yang lalu. Forum itu dihadiri multi stakeholder: praktisi koperasi, kampus/ peneliti, komunitas serta pemerintah (Kementerian Koperasi dan UKM, Bappenas, LPDB, Dinas Koperasi).

    Premis yang saya ajukan pada kesempatan itu adalah, “Inovasi tak akan lestari tanpa inovator”. Ada studi kasus menarik bagaimana gerakan Credit Union (CU) di Indonesia telah mengadopi inovasi sebagai pilar keempat gerakan pada tahun 2012 lewat keputusan RATNAS Inkopdit. Yang menarik adalah Robby Tulus telah sampaikan insight tersebut tahun 2011 pada Forum Inkopdit, bertepatan dengan apa yang terjadi di dunia industri bila merujuk rekomendasi Eric Ries di awal tulisan. Sayangnya, pilar inovasi itu nampaknya tak berjalan secara massif dan akseleratif. Boleh jadi sebabnya karena CU abai untuk mencetak para inovatornya.

    Inovasi sebagai praktik yang seringkali terlihat “belum jelas” membutuhkan energi ekstra untuk mengawalnya. Bukan hanya merespon lingkungan yang dinamis dengan aneka pendekatan baru, melainkan juga menghadapi berbagai bottle neck di internal koperasi atau gerakan. Tanpa peran dan dukungan kelembagaan, agenda itu pasti akan menguap ditelan rutinitas dan prioritas bisnis berjalan.

    Para Inovator Koperasi karenanya harus dicetak secara sengaja alih-alih alamiah. Merekalah yang akan menjadi pembawa obor bagi koperasi dan komunitasnya. Sebagai permulaan mereka bisa kita lahirkan dari rahim Akademi Inovator. Mereka bisa berasal dari aktivis, praktisi, akademisi, peneliti atau lainnya. Selepas itu mereka bisa berhimpun bersama di Cooperative Innovation Hub (CIH) atau Simpul Inovasi Koperasi (sekali lagi “simpul”, bukan “pusat”) yang dijangkarkan di kampus-kampus. Baca juga tulisan saya sebelumnya: Membangun Ekosistem Inovasi pada Koperasi.

    Semacam Formula

    Lalu apa yang harus mereka kerjakan? Ini formulanya: (Kolaborasi + Inovasi) x Kecepatan. Kolaborasi menandai pendekatan berbasis ekosistem. Inovator tak harus seorang inventor atau penemu yang soliter berada di laboratorium. Sebaliknya orang yang secara aktif membangun ekosistem lingkungannya (ecosystem enabler). Dalam perjumpaan seperti itulah inovasi dihasilkan sehingga bersifat hadap masalah. Peran kedua adalah mengembangkan aneka inovasi dalam dua dimensi: sustaining innovation bagi koperasi eksisting dan disruptive innovation dengan mengembangkan model baru.

    Kedua peran itu kudu dilakukan dengan ritme kecepatan tertentu. Di sinilah para inovator bisa mengadaptasi pendekatan dan metode bisnis startup seperti yang direkomendasikan Eric Reis dan Dan Toma. Salah satu yang khas dari metode startup contohnya penggunaan Design Thinking, Business Model Canvas dan tersedianya Minimum Viable Product (MVP). Dengan MVP, kecepatan bisa diraih. Aneka metode baru seperti itu perlu diperkenalkan sebagai cara untuk meretas stagnasi berpikir dan berimajinasi.

    Pada awalnya berbagai metode itu mungkin terdengar asing. Namun tak perlu berkecil hati, karena semuanya bisa dipelajari dan akan menjadi terbiasa saat digunakan berulang kali. Agar tidak menimbulkan frustrasi di internal koperasi, para pengambil keputusan (Pengurus dan Manajer Puncak) bisa menyiapkan orang atau tim khusus, sebutlah Tim Inovasi Koperasi. Sehingga berbagai alih pengetahuan-keterampilan baru itu tak akan menganggu ritme organisasi dan bisnis yang sedang berjalan. Tim ad hoc itu langsung bertanggungjawab kepada Pengurus atau Manajer Puncak.

    Tim bisa bekerja dengan mengacu pada Piramida Inovasi yang berisi level inovasi dari yang paling mudah dengan dampak terbatas, sampai yang paling sulit dengan dampak maksimal. Levelnya dari yang termudah: 1. Desain dan Pemasaran; 2. Produk; 3. Pelayanan; 4. Pasar, Pelanggan dan Kanal; 5. Teknologi; 6. Proses Bisnis; 7. Manajemen; 8. Model Bisnis dan 9. Industri. Dan seperti orang bilang, sebaiknya memulai pekerjaan dari yang mudah-mudah. Tujuannya untuk membangun keyakinan bersama (tim dan divisi lainnya) bahwa inovasi itu tak melulu sulit atau rumit. Ada hal-hal yang bisa diinovasi/ disempurnakan/ diperbaiki secara cepat.

    Festival Inovasi

    Berbagai inovasi yang sedang dan telah dikerjakan oleh koperasi dalam satu tahun perlu sekali dipamerkan dalam sebuah festival. Seremoni semacam ini tetap perlu untuk menandai sebuah capaian bersama. Peringatan tahunan Hari Koperasi bisa direka ulang kegiatannya dengan hal ini. Saya ingat Nancy Duarte (2016) pernah menulis dalam Illuminate: Ignite Change through Speeches, Stories, Ceremonies and Symbols, bagaimana membuat seremoni menjadi bagian penting dalam perubahan organisasi.

    Selain untuk merayakan pencapaian, festival itu juga berfungsi sebagai ruang berbagi-pakai wawasan, pengalaman, praktik antar para pelaku. Proses belajar terjadi secara organis yang bisa mempercepat dan memperkaya satu sama lain. Menjadi tidak berlebihan juga bila di Hari Koperasi mendatang perlu kiranya muncul penghargaan dengan kategori baru: Inovator Koperasi, Koperasi Inovatif dan Koperasi Model di samping penghargaan Bhakti Koperasi.

    Seremoni dengan konten yang telah direka ulang itu akan menjadi ruang pembiasaan dan pembudayaan inovasi di gerakan koperasi tanah air. Ujungnya inovasi tak lagi dianggap sebagai barang baru atau hal asing, melainkan menjadi bagian dari dinamika perkoperasian sehari-hari. Hasilnya inovasi akan berjalan secara berkelanjutan (sustainable), memiliki relevansi tinggi karena hadap masalah (problem solving) dan berdampak luas (do and share).

    Just Do It

    Bila kita selenggarakan Akademi Inovator Koperasi tahun ini dengan output 100 inovator, akan lahir berbagai kebaruan di tahun mendatang. Kebaruan-kebaruan itu bisa saja belum memiliki payung hukum atau regulasi. Pemerintah perlu hadir untuk menjamin dua hal: praktik inovasi dapat diselenggarakan koperasi dengan aman dan akseleratif. Dan sisi lain melindungi hak anggota dan masyarakat atas potensi resiko dari suatu inovasi. Perlu dibuat semacam protokol setingkat peraturan menteri agar tak terjadi trade off.

    Keberadaan protokol itu bukan sekedar menjawab kepastian hukum, yang cenderung akan berhati-hati dan akhirnya menghambat, namun harus ditujukan untuk mendorong inovasi terjadi. Sebutlah misalnya pada salah satu isu yang high risk: permodalan. Koperasi harus didorong untuk menginovasi instrumen permodalannya termasuk mekanismenya. Misalnya equity crowd funding dan sejenisnya. Hari ini sangat memungkinkan partisipasi modal itu dilakukan secara online atau digital. Tak perlu tanda tangan basah di atas materai, cukup klik ini-itu di layar ponsel dan terjadi capital in/ out.

    Tapi, kita selalu memahami di mana seringkali praktik terjadi lebih dulu daripada payung regulasi. Kontroversi GoJek beberapa tahun lalu, tentang status sah-tidaknya motor sebagai sarana transportasi publik, adalah contohnya. GoJek telah mengaspal lebih dulu, barulah pemerintah menerbitkan aturan mainnya. Artinya, bagi para inovator, just do it. Soal regulasi biar pemerintah yang memikirkannya untuk kita. Tugas dan peran kita adalah, “… Mencari sebuah model baru, cara baru, nilai-nilai baru dalam mencari solusi …” persis seperti maklumat Jokowi di atas. Saya rasa Menteri Koperasi mendatang harus memahami betul hal itu. Break the rules! []

    Sudah dimuat di: https://money.kompas.com/read/2019/08/12/054000026/saatnya-inovator-koperasi-berperan?page=all