• Kudus Creative DNA, Rasionalisasi Praktika Koperasi (1 dari 3 Bagian)

    Sebelumnya saya akan mengawali refleksi ini dengan sebuah pernyataan, “Idealisme yang benar-benar ideal hanya ada di atas kertas, sedang masyarakat kita belum pada tahap mau dan mampu menerima “Idealisme”. Sehingga seeksotis apapun sebuah ide jika tidak disertai dengan langkah yang mampu dinikmati dampaknya oleh masyarakat, maka akan menyia-nyiakan waktu kita untuk berhayal terwujudnya utopia”.

    Itulah salah satu benih pemikiran strategis dari lahirnya Kreatif DNA Kudus.CH (Cooperative Hub). Adalah sebuah koperasi penghubung yang belum pernah mendeklarasikan dirinya sebagai koperasi. Kami sendiri belum tahu sampai kapan nama koperasi itu akan kami sembunyikan dari pasar, akan tetapi melihat geliat yang terjadi, sepertinya itu tinggal menunggu waktu. 

    Esensi Perjuangan 

    Sejak awal berdiri pada tahun 2018, yang paling sering dikritisi oleh CDNA adalah gerakan komunitas yang berdarah-darah dalam memperjuangkan kepentingan sosial, akan tetapi hanya berdampak pada sebagian kecil masyarakat, bertahan beberapa tahun lalu komunitas itu mati atau setidaknya vakum dari peredaran alias matisuri. Ada banyak faktor penyebab kematiannya, dari ditinggal nikah penggerak sampai yang paling fatal dialami adalah tidak adanya pendanaan mandiri yang kontinyu, baik pendanaan untuk diri sendiri maupun bagi komunitas. 

    Ada juga kasus di mana komunitas berhenti beroperasi karena kehabisan stok penerus perjuangan. Kami di CDNA mengamini bahwa komunitas adalah sebuah wadah yang mampu memberi solusi detail bagi banyak permasalahan masyarakat. Sayangnya di Kudus sendiri sangat sedikit anak muda yang bergabung dan aktif di dalamnya. Bukan sepenuhnya karena masyarakat tidak paham, akan tetapi bisa jadi komunitas tidak menjalankan strategi pemasaran dalam gerakannya.

    Sebutlah bagaimana produk yang ditawarkan, berapa harga yang harus dibayar, dimana produk dipasarkan dan bagaimana proses kampanye dari produk tersebut serta teknik-teknik lain. Kami mempertebal bahwa apa yang kami sebut pasar bukanlah pasar secara harfiah, akan tetapi adalah sebuah filosofi dari sekumpulan manusia beserta seperangkat kebutuhan yang bermacam. Tugas komunitas adalah menjelma menjadi bagian dari kebutuhan itu.

    Di situlah koperasi kami pandang sebagai salah satu gerakan perjuangan paling realistis dan berdampak karena memiliki tujuan sosial sebagai visi utama serta fondasi pendanaan juga pandangan pasar. Sayangnya di Indonesia sendiri belum banyak role model yang membuktikan hal ini, sehingga CDNA kami rasa perlu dengan sepenuh hati memberikan bukti dari idealisme koperasi. 

    Pendanaan Independen

    Pendanaan adalah salah satu faktor terpenting bagi tumbuh kembang komunitas. Akan tetapi dengan idealisme yang menggebu-gebu, sering kali para pengerak mengesampingkan hal ini. Oke, kita ambil fokus pada proses “Dari mana komunitas mendapatkan dana untuk menopang mobilisasi?”. Paling populer adalah dana hibah perusahaan sedang lainya adalah iuran suka rela anggota. Akan tetapi untuk sebuah agenda besar sudah barang tentu membutuhkan kucuran dana yang sepadan dan rasionalnya “Patungan anggota tidak akan manpu menopangnya”, kecuali jumlah anggota ribuan orang atau anggota terdiri dari kalangan menengah ke atas. Dana menjadi problema klasik bagi komunitas untuk memperbesar dampak sosialnya. 

    Kami di Creative DNA tidak menyalahkan hal itu, hanya saja kami memiliki persepsi lain. Koperasi kami pandang sebagai satu dari jalan rasional dan ideal untuk mewujudkan visi Pemerataan kemajuan, kreativitas dan konektivitas yang kami usung, di mana dalam koperasi untuk mewujudkan kemajuan di aspek sosial, ekonomi serta budaya perlu adanya sebuah unsur bisnis bersama yang nantinya membiayai berbagai misi penyuksesan tujuan. Saya ingin sedikit mengutip pernyataan Suroto, HC., Ketua AKSES Indonesia, “Dari mana modal berasal, ke sanalah nilai tambah kembali”.

    Logikanya adalah jika sebuah komunitas atau organisasi apapun berdiri dari sebuah modal maka ke sumber modallah mengalir keuntungan. Sehingga ketika komunitas atau organisasi ini di modali perseorangan maka ke orang itulah untungnya mengalir dan ketika komunitas atau organisasi ini dimodali secara bersama serta mementingkan kepentingan sosial maka ke arah sosialah keuntungan akan mengalir.

    Tersebut di atas menjadi pertimbangan terbesar kami mengapa Warkoba (usaha yang diinkubasi CDNA) menolak tiga tawaran investasi personal. Selain itu kami tetap tunduk pada prinsip “Fokus pada alur cerita”. Sejak awal berdiri, apa yang diusahakan CDNA adalah sebuah komunitas, organisasi atau apapun dengan basis social capital yang mampu diduplikasi oleh lokal manapun. Maka idealnya CDNA beserta inkubasinya musti konsisten pada budaya gotong royong serta people based bukan capital based.

    Tempo lalu Warkoba kami memperoleh dukungan dari Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI) dengan skema social-crowd lending. Di mana ICCI memobilisasi sekelompok orang untuk meminjamkan dana pribadinya. Skema itu bekerja dengan jalan mengembalikan pokok pinjaman tanpa jasa dalam jangka waktu tertentu, yakni tiga bulan. Dengan dana pinjaman itu kami lakukan renovasi kecil kedai. Menurut saya ini adalah salah satu bentuk gotong royong yang nyata. Bagaimana pinjaman dilakukan dengan rasa percaya satu sama lain. []

    Dikisahkan oleh: Ali Sofyan, HC., Founder Kudus DNA Creative. CH (Cooperative Hub)

    Bersambung Bagian Kedua: Penghijauan Manusia dari Pinggiran.

  • Kolaborasi dengan ICCI, CU Mandiri Gelar Creative Youth Camp

    Credit Union (CU) Mandiri berkolaborasi dengan Indonesian Consortium for Cooperative Innovation (ICCI)selenggarakan Creative Youth Camp. Kegiatan itu diadakan pada 30 April 2019 dengan sasaran kalangan pelajar SMA/ SMK di Probolinggo.

    Kegiatan ini bertujuan untuk menjaring para creative youth leader dari kalangan pelajar. Dengan kurikulum tertentu para peserta dipandu oleh Narasumber dan Fasilitator mencapai pemahaman baru tentang bagaimana membuat perubahan di skala lokal.

    Firdaus Putra, HC., Komite Eksekutif ICCI, menyampaikan tentang potret anak-anak muda di kota lain dan juga luar negeri yang membuat perubahan (changmaker). “Mereka usianya relatif muda semua, bahkan lebih muda daripada Anda semua. Ada yang baru 11 tahun, 14 tahun juga yang 16 tahun. Namun mereka telah membuat perubahan di areanya masing-masing”, tegasnya.

    Dengan metode empat lingkaran warna: Biru (Rasa), Kuning (Cipta), Merah (Karsa) dan Hijau (Karya), peserta diajak mengenali berbagai isu di lingkungannya. Lebih dari itu, mereka juga diajak untuk mengeksplorasi solusi bagi masalah itu. “Sekarang tulis di stick it note lima ide bagi lingkungan sekitar kalian”, seru Fasilitator.

    Gagasan kreatif-solutif diberikan studi kasus nyata oleh Kemal Khairurrahman, HC., Founder Tuban Creative Hub dan Regional Hub ICCI. Dengan video-video pendek, ia kisahkan bagaimana Tuban Creative Hub memberi dampak ke masyarakat. “Kami buat Tuban Hujan Bimtek. Bimtek ini isinya pelatihan life skill. Kami buat 20 kali dalam satu bulan dan itu cuma-cuma”, terangnya. Berbagai Bimtek itu ditujukan bagi komunitas anak muda dan masyarakat umum.

    Dalam kesempatan itu Kemal jelaskan bagaimana sebuah creative hub bekerja. “Teman-teman akan menjadi engine atau motor penggeraknya. Yang perlu pertama dilakukan adalah melakukan pemetaan talenta. Lalu kemudian mengolaborasikan satu dengan yang lain”, sambungnya.

    Pada sesi berikutnya peserta diminta memilih dari lima ide yang ditulis menjadi tiga ide saja. Setelah mereka melihat studi kasus tentang apa-apa yang bisa dikerjakan creative hub, mereka memperoleh insight baru untuk menyeleksi dari lima menjadi tiga ide perubahan.

    Kegiatan itu diikuti oleh 70 pelajar SMA/ SMK dengan berbagai latar  belakang. Kegiatan dimulai pada pukul tiga sore. Namun antusiasme dan materi yang menantang, membuat mereka tak merasa lelah meski sampai larut malam.

    Pada sesi akhir, peserta diminta memilih dari tiga ide menjadi satu ide. Mereka harus memilih dengan menimbang beberapa hal: Ide mana yang paling disukai; ide mana yang paling memberi dampak; Ide mana yang paling mungkin dikerjakan dengan pertimbangan aktivitas masing-masing; Dan ide mana yang paling mungkin didukung berbagai pihak. “Sekarang pilih satu saja, beri nama proyek sosial itu yang kreatif dan jangan lupa tentukan targetnya, munculkan angkanya”, pandu Fasilitator.

    Proses selama lima jam itu terbilang sukses. Pada penutup, 10 peserta dipersilahkan untuk mengisahkan proyek sosialnya. Ada yang melontarkan ide tentang memberdayakan petani jagung di desanya, ada juga ide tentang bersih sungai, membuat kerajinan dari sampah dan lain sebagainya. “Melihat latar belakang mereka masih SMA, ide-ide mereka keren sekali”, terang Pengurus CU. Kegiatan dimeriahkan dengan berbagai dorprize. Tak ketinggalan bagi 10 peserta yang berani presentasikan proyek sosialnya. Lalu Panitia mengumumkan nama-nama peserta yang terpilih menjadi engine/ motor penggerak bagi Sakti Creative Hub Probolinggo. Merekalah yang akan mengaktivasi creative hub di sana. []