• Perlunya Menyegarkan Tampilan Buku LPJ Koperasi, Laporan Hasil Jajak Pendapat

    Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI) satu minggu yang lalu selenggarakan jajak pendapat tentang format buku Laporan Pertanggung-jawaban (LPJ) Pengurus dan Pengawas  koperasi. Jajak pendapat itu dilakukan secara online dengan Google Form di mana link disebarluaskan melalui berbagai Grup Whatsapp.

    Hasilnya, ada 97 responden yang mengikuti jajak pendapat. Mereka tersebar di beberapa kabupaten di 13 provinsi berbeda, yakni Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Sumatera Utara, Jakarta, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara, Jambi, Bangka Belitung dan Sulawesi Tengah. Di mana 63% mengatakan koperasinya telah berdiri lebih dari 10 tahun, 24% berdiri 1-5 tahun dan sisanya 6-10 tahun.

    Sebanyak 9 dari 10 orang menganggap bahwa format tampilan LPJ itu penting (23%) dan sangat penting (67%). Jawaban itu telah mengonfirmasi hipotesis jajak pendapat ini, bahwa tampilan LPJ itu, di luar isi laporannya, penting diperhatikan. Sebab, pertama-tama anggota melihat format tampilannya. Bila menarik, maka mereka akan membacanya dengan antusias, intensif dan serius. Hasilnya adalah anggota lebih tahu dan paham bagaimana kondisi koperasinya, capaian-capaiannya dan lain sebagainya.

    Sebagian besar responden setuju bahwa tampilan LPJ yang menarik bisa mendorong anggota koperasi untuk menyimak atau membacanya lebih intensif. Ada 94% mengatakan hal yang sama. Artinya 9 dari 10 orang responden setuju, tampilan LPJ yang bagus berpengaruh terhadap intensitas anggota membacanya. Hal ini terkonfirmasi pada pertanyaan yang berbeda yakni, “Menurut Anda, apakah anggota perlu menyimak LPJ?”, 94% mengatakan, iya.

    Rata-rata halaman LPJ mereka terdiri dari 10-30 halaman, sebanyak 43%. Disusul kemudian 31-50 halaman sebanyak 29%, 51-80 halaman sebanyak 16% dan sisanya yakni dengan jumlah lebih dari 80 halaman. Meski berbeda-beda tebal-tipisnya, sebagian besar responden menjawab bahwa LPJ adalah salah satu media edukasi anggota. Sebanyak 98% responden mengatakan demikian.

    ICCI menyelenggarakan jajak pendapat ini untuk merangsang koperasi-koperasi melakukan inovasi dari hal yang paling kecil. “Salah satunya dengan menyegarkan format tampilan LPJ. Sekarang zamannya infografis. Orang terbiasa melihat aneka ornamen visual daripada sekedar angka dan huruf”, kata Firdaus Putra, HC., Komite.

    Pada jajak pendapat itu ICCI memberikan contoh laporan dengan format infografis. Sebagian besar responden memandangnya secara positif. Mereka menilai format itu sangat menyenangkan dilihat, sebanyak 66%. Kemudian 17% mengatakan asik dan sisanya mengatakan: membingungkan (12%), kaku dan membosankan.

    Ketika giliran ditanya bagaimana mereka menilai buku LPJ koperasinya, 72% responden mengatakan: membosankan (28%), kaku (35%) dan membingungkan (9%). Buku LPJ mereka lebih banyak berisi tabel dan angka serta teks.

    Sisanya, yakni 28% mengatakan bahwa format buku LPJ di koperasinya asik dan menyenangkan untuk dibaca. Format yang menyenangkan ini berisi paduan teks, gambar, diagram dan tabel, atau yang secara umum disebut sebagai infografis.

    Di bagian akhir jajak pendapat, ICCI memberikan template LPJ yang menarik berbasis PowerPoint. Template itu bisa mereka sunting sesuai dengan struktur isinya. Dan juga template itu bisa dibagi dan disebarluaskan kepada koperasi lain yang membutuhkan.

    ICCI mengungkapkan bahwa menyegarkan tampilan buku LPJ ini adalah salah satu dari banyak aktivitas di koperasi  yang bisa disegarkan atau diinovasi. Artinya suatu hal memiliki 1001 peluang ditemukannya atau dikerjakan dengan cara, metode atau pendekatan baru. “Penyegaran tampilan buku LPJ ini hanya contoh atau eksemplar. Selebihnya kembali ke Pengurus dan Pengelola koperasi untuk menemukan 1001 cara baru lainnya. Tentu cara-cara yang dapat meningkatkan nilai tambah, manfaat, kinerja dan indikator lainnya”, ungkap ICCI. []

    Unduh Template LPJ Koperasi Gaya Baru:

    Pengantar      :   https://bit.ly/2P38Xru atau klik di sini

    Bagian 1         :   https://bit.ly/2Z4AiOM atau klik di sini      

    Bagian 2         :   https://bit.ly/2v0iFl6 atau klik di sini

    Font 1             :   https://bit.ly/2r8ZROu atau klik di sini

    Font 2             :   https://bit.ly/2k8RBOF atau klik di sini

    Harap diunduh semua.  Semoga bermanfaat.

    Sumber: http://inovasikoperasi.id/2019/04/11/perlunya-menyegarkan-tampilan-buku-lpj-koperasi-laporan-hasil-jajak-pendapat/

  • Startup Coop Camp Yogyakarta, Sukses!

    Startup Coop Camp Batch 2 telah diselenggarakan pada 28-31 Maret 2019 lalu di Yogyakarta. Rangkaian kegiatan dilaksanakan semalam empat hari penuh yang berisi: talkshow, pelatihan dan lokakarya. Sedikitnya 60 peserta terpilih dari 235 pendaftar mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai. Mereka berasal dari Jawa Tengah, Yogyakarya, Jawa Barat, Jakarta, Jawa Timur, Lampung dan Lombok.

    Kegiatan itu diprakarsai oleh Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI) bekerjasama dengan Kementerian Koperasi dan UKM RI Deputi Bidang SDM. Dibantu oleh organisasi lokal, Kopindo Wilayah DIY, keDATA dan Credeva, kegiatan itu berjalan dengan sukses. 

    Seperti Batch 1 Purwokerto, kelas dibagi menjadi dua: Founder Startup dan Pemuda Koperasi. “Tujuannya mengenalkan koperasi bagi para pelaku startup dan mengenalkan model startup bagi pelaku koperasi. Tentu saja harapannya agar bisa hasilkan model baru, yakni startup coop atau startup berbasis koperasi”, terang Hizkia Yosias Polimpung, Komite Eksekutif ICCI.

    Kegiatan itu juga dipantau oleh Bappenas Bidang Koperasi dan UKM yang mengirim delegasi untuk melihat bagaimana kelas berlangsung. Tujuannya untuk memperoleh gambaran lapangan bagaimana model koperasi baru ini diperkenalkan khususnya kepada generasi milenial. Sehingga di masa mendatang model bisnis koperasi bisa berkembang, tak melulu konvensional sebagaimana puluhan tahun lalu.

    Pengayaan proses dilakukan pada angkatan kedua ini yakni dengan menyilangkan peserta startup dengan koperasi pada sesi praktikum. Hal ini bertujuan agar para pemuda koperasi bisa langsung memahami cara berpikir dan merespon pelaku startup dan sebaliknya. Seluruh peserta pada rentang usia yang sama, sehingga pada sesi itu mereka dapat belajar antar teman sejawat (peer group learning). 

    Untuk mempercepat pemahaman dan membangun personal bonding, mereka juga disilang-silangkan saat pembagian kamar. Panitia berharap dengan cara itu satu sama lain bisa membangun koneksi personal dan terjadinya peluang kolaborasi yang lebih berkelanjutan. “Awal mulanya pasti hubungan personal, lama kelamaan menjadi kolaborasi”, terang panitia. 

    Kegiatan itu dibuka oleh Kementerian Koperasi dan UKM RI yang mengundang juga Dinas Koperasi Prov. DIY. Disusul kemudian adalah talkshow success story pengembangan koperasi dan startup oleh Suryo Hadiyanto, Ketua Koperasi KISEL dan Azmiansah, Pelaku Startup di Indonesia. Mereka berdua membagi kisah suksesnya mengelola bisnis masing-masing. Dari mereka peserta belajar bagaimana sukses itu tak bisa diraih dengan cara instan, meskipun itu startup. Azmi, demikian akrab disapa, menekankan bahwa startup harus siap dengan serial kegagalan dan aneka lika-likunya.

    Totalnya ada 14 pembicara, pelatih dan fasilitator yang membuat kegiatan itu menjadi kaya isi dan makna. Ditambah kegiatan dilaksanakan mulai pukul delapan sampai sepuluh malam. Meski demikian peserta tetap mengikuti dengan semangat penuh karena materi dan pemateri yang menantang. Pada sesi penutupan, peserta diberikan merchandise berupa buku serial bisnis startup dan pengembangan manajemen/ bisnis. Tujuannya sekaligus untuk meningkatkan budaya literasi di generasi milenial. “Ditambah, startup itu adalah bisnis dengan tingkat inovasi tinggi, membaca adalah keharusan untuk memperoleh insight-insight baru”, ujar Hizkia. []